Tiga
Langit sudah menghitam pekat, perlahan-lahan
butiran air jatuh membasahi tanah. Bau tanah sudah mulai tercium. Beberapa
orang bergegas berlari menuju tempat berteduh. Zahra memandang keluar melalui
jendela, ia tersenyum. Hujan! Allah sedang menurunkan rahmatnnya. Ia kembali
melanjutkan perkerjaannya mengetik laporan.
“Assalamu’alaikum,
Teh,” sapa seorang gadis mendekati Zahra.
Zahra
menggangkat kepalanya melihat kearah sumber suara. Ia tersenyum saat menatap
gadis itu. Gadis itu membalas tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,”
balas Zahra.
“Maaf
teh, apa benar ini sekre BEM?” tanyanya.
“Iya,”
jawab Zahra sambil memindahkan laptop dari pangkuannya ke sampingnya. “Ada yang
dibantu?” tanya Zahra ramah.
Gadis
itu menarik nafas lega. Ia duduk bersimpuh dihadapan Zahra. Ia membuka mengeluarkan
sebuah map di dalam tasnya.
“Perkenalkan
nama saya Diana, saya mahasiswa FE. Saya salah satu anggota BEM FE, saya
diamanahkan untuk mengantarkan ini,” ucapnya sopan. “Teteh, anggota BEM?”
tanyanya.
Zahra
mengangguk mengiyakan.
“Boleh
saya menitipkan ini?” ucapnya menyerahkan map itu kepada Zahra.
“Boleh,
untuk siapa?” tanya Zahra.
“Untuk
teh Zahra.”
Zahra
langsung membuka map itu. Map itu berisi sebuah proposal. Ia membuka dan
membacanya sesaat, lalu mentupnya kembali. Diana memperhatikan Zahra seksama,
ia kebingunggan dengan sikap Zahra. Apa dia Zahra? Pikir Diana
Zahra
menagkap kebingungan di wajah Dian.
“Oh,
saya belum memperkenalkan diri. Saya Zahra,” ucap Zahra menggulurkan tangannya.
Diana
mengangguk dan menerima uluran tangan Diana.
“Sampaikan
kepada Kak Dafa, kami akan mempelajari proposal ini. Emm... tempatnya di
puncak, apa kalian sudah mendapatkan izin dari pihak kampus?” tanya Zahra.
“Alhamdulillah,
Kak Rian sudah menggurus semuanya. Dekan sudah memberikan kami izin dengan
catatan BEM Universitas ikut berpartisipasi karena dekan sangat berharap acara
ini dapat sukses,” jelas Diana.
“Bagaimana
dengan dana?”
Diana
tersenyum simpul, “Kami sudah mendapatkan acc sponsor.”
Zahra
pun ikut tersenyum. “Baiklah Diana. Kami secepatnya akan memberikan kabar,
maksimal 3 hari,” ucap Zahra.
“Teh
Zahra pasti kenal dekat dengan Kak Dafa,” ucap Diana malu-malu.
“Kenapa
kamu bilang begitu?” tanya Zahra penasaran. Kenapa Diana bisa menyanyakan itu
kepadanya? Padahal pertemuannya dengan Diana baru kali ini.
“Nggak
apa-apa, hanya menebak saja,” jawab Diana. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,”
jawab Zahra.
Zahra
tampak memikirkan sesuatu. Apa terlihat jelas, ia dekat dengan Dafa? Ia hanya
bersikap biasa kepada Diana, seperti kepada orang-orang lainnya. Lalu, kenapa
Diana berkata seperti itu? Zahra memutuskan untuk menghilangkan pikirannya
tentang perkataan Diana.
***
“Hai,
Ra!” sapa Nevan menyentuh pundaknya dari belakang.
Zahra
terkejut, spontan ia menoleh ke belakang. Ia melihat Nevan berdiri tepat di
belakangnya.
“Astagfirullah,
Nevan!!” ucap Zahra menahan amarah. “Kita bukan muhrim!” ucap Zahra tegas.
“Maaf,”
ucapnya bersalah.
“Jangan
diulangi!” ucap Zahra tegas. “Jika tidak ada yang mau kamu bicara, kamu bisa
tinggalkan aku sendiri?”
Nevan
melongo tak percaya dengan ucapan Zahra. Ia tahu Zahra sangat marah, tapi belum
pernah ia mendengar Zahra memintanya pergi, walau selama ini Nevan menyadari
Zahra menggusirnya secara halus, baginya tak masalah sebelum Zahra benar
memintanya pergi.
“Apa
kau bersikap seperti ini juga dengan Dafa?” tanya Nevan.
Zahra
bisa merasakan kemarahan sela ucapan Nevan.
Zahra
tidak menjawab ucapan Nevan. Tak ada gunanya ia menjawab, Nevan pasti tidak
akan percaya dengan perkataanya.
“Kenapa?
Kau diam-diam menyukai Dafa bukan?”
Zahra
tertegun mendengar ucapan Nevan. Apa? Nevan mengira ia menyukai Dafa?
“Kak
Dafa pacar Muti, tolong jaga ucapanmu!” pinta Zahra.
Nevan
tersenyum sinis, lalu tertawa sejenak.
“Kau
sahabat baik Muti bahkan kau tinggal satu apartemen denganya. Kau tidak tahu
mereka sudah putus seminggu lalu?” ucap Nevan.
Zahra
melongo tak percaya. Apa? Muti putus dengan Dafa? Kenapa tak satu pun dari
mereka yang bercerita?
“Maaf,
Nevan. Aku harus pergi,” ucap Zahra meninggalkan Nevan.
Nevan
berkali-kali memanggil Zahra, tapi tak dihiraukannya. Ia harus segera mencari
Muti. Ia harus tahu yang terjadi sebenarnya.
Zahra
berkeliling kampus Fikom mencari Muti. Ia mencari tempat yang biasanya Muti
berada bersama teman-temannya tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan Muti.
Zahra mengeluarkan ponsel dari dalam tas, ia mencari nomor Muti di nomor
kontak, ia memencet tombol hijau tak lama kemudian terdengar nada sambung,
berapa lama Zahra menunggu, Muti tidak mengangkat ponselnya.
Dia
pasti di KPM! Pikir Zahra. Zahra setengah berlari menuju gerbang depan Fikom.
Ia berdiri menunggu angkutan kampus yang mengantarkanya menuju gerbang utama.
Beruntung, Zahra tak perlu menunggu lama. Ia segera naik. Ia tampak gelisah
disepanjang perjalanan.
Angkutan
berhenti. Zahra secepat kilat turun dan berjalan cepat menuju sekre KPM yang
tak jauh dari gerbang utama. Selang beberapa menit, Zahra sudah berada di depan
sekre BPM. Ia melihat Muti duduk bersama teman-temannya, mereka tampak sedang
asik bercengkrama. Zahra mengurungkan niatnya untuk menemui Muti. Terlambat!
Muti menyadari kedatangan Zahra. Muti bangkit, ia tampak berbicara dengan
teman-temannya dan berjalan menemui Zahra.
“Jadi
itu yang bernama Zahra?” tanya teman Muti setengah berteriak.
“Sepertinya
begitu,” jawab teman Muti lainnya.
“TEMAN
makan TEMAN!” ucap teman lainnya setengah berteriak.
“Alim
sih alim tapi kelakuannya!” timpal yang lain.
Zahra
dapat sekali mendengar sahutan teman-teman Muti. Ia mencoba untuk tidak
terpancing dengan perkataan teman-teman Muti.
Zahra
dan Muti berjalan menjauhi sekre KPM hingga sahutan teman-teman Muti tidak terdengar
lagi. Mereka memilih duduk di taman yang tak jauh dari sekre KPM. Mereka duduk
diam, tak ada yang berbicara satu pun.
“Apa
ada Zahra?” tanya Muti dingin.
Zahra
menarik nafasnya dalam-dalam. “Apa benar kamu putus dengan Kak Dafa?” tanya
Zahra ragu.
“Jika
kamu ingin bertanya tentang Dafa, aku tidak ingin menjawabnya,” ucap Muti
bangkit. Ia hendak meninggalkan Zahra.
“Kenapa?
Apa aku tidak boleh tahu?” ucap Zahra parau.
Muti
berbalik, ia menatap Zahra. “Tidak semua bisa ku bagi denganmu!” ucap Muti
dingin.
“Aku
sahabatmu, Muti?” ucap Zahra parau.
“Sahabat?
Kau tahu apa namanya sahabat itu Ra?” tanya Muti. “Sahabat itu nggak mungkin
mengambil pacar sahabatnya sendiri!!” bentak Muti.
“Apa
maksudmu Muti?” tanya Zahra tidak percaya.
“Tanyakan
saja pada dirimu. Aku harap kamu pergi dari kehidupanku!!” ucap Muti
meninggalkan Zahra.
***
Hujan
semakin deras. Petir mulai memekakkan telinga. Zahra menyeret kopernya dengan
susah payah. Air mata mulai mengalir dari pipinya. Muti sudah ia anggap seperti
saudaranya sendiri, tapi sekarang semuanya hancur. Ia sungguh tidak mengerti
kenapa Muti harus cemburu kepadanya. Ia dan Dafa hanya berteman. Ia tidak
mungkin bisa bersama dengan Dafa. Dafa adalah putra tunggal dari keluarga kaya.
Ia tidak akan mungkin bersanding dengan keluarga kaya.
Andai
saja ayahnya masih hidup, mungkin ia tidak akan hidup seperti ini. Ayah pasti
akan melakukan apapun untuknya. Tapi, ia tidak mungkin menyalahkan Allah, Allah
pasti sudah mempunyai jalan tebaik untuknya.
Zahra
menyeka air matanya. Ia tidak boleh menangis. Ia sudah harus kuat. Ia melirik
jam tangan miliknya. Pukul 8 malam, ia belum makan malam, dari sore ia sibuk
mencari kostan tapi belum juga ada harga yang cocok untuk kantongnya. Ia
memutuskan mampir di warteg yang tak
jauh dari tempatnya berdiri. Ia memesan nasi, sayur dan telur. Matanya
menerawang mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
Zahra dan Muti mendapatkan
tugas kelompok tentang pengelolaan tulisan serta penerbitan suatu artikel
disalah satu majalah terkenal di Jakarta. Mereka terpaksa harus menginap di
rumah orang tua Dafa di Jakarta. Orang tua Dafa memang telah mengenal mereka
berdua. Muti pernah sebelumnya bertemu dengan mereka ketika mereka mengunjungi
Dafa di Bandung. Sedangkan Zahra, kala itu adalah pertemuan pertama dengan
orangtua Dafa. Tetapi, Orangtua Dafa langsung menyukai gadis itu.
“Assalamu’alaikum.” ucap Dafa setengah berteriak, berjalan sambil mendorong
koper memasuki rumah mewah dikawasan Pondok Indah. Zahra dan Muti mengikuti
Dafa di belakang memasuki rumah mewah itu. Rumah mewah itu bergaya bangunan
islam pada abad pertengahan. Di halaman depan penuh dengan taman bunga dan
kolam-kolam kecil. Ornament-ornamen ukiran kaligrafi Islam menghiasasi sebagian
dinding-dinding. Memasuki ruang tamu, lukisan-lukisan dan foto-foto kota-kota
dan tampat-tempat bersejarah Islam menghiasi dinding.
“Wa’alaikumsalam.” jawab suara berat dari ruang keluarga. Suara itu adalah
suara lelaki. Zahra dan Muti berjalan mengikuti Dafa menuju ruang keluarga.
Ruang keluarga rumah ini lebih terkesan santai, tidak banyak ornament-ornamen
islam. Di dinding terdapat deretan foto-foto keluarga. Disana duduk seorang
pria setengah baya dan seorang wanita setengah baya. Mereka pasti orangtua
Dafa. Pria itu sangat berwibawa dan terkesan tenang, disebelahnya duduk seorang
wanita yang sangat cantik, wajahnya sangat ramah.
“Dafa, bisa tidak kamu kecilkan suaramu? Orangtuamu ini
belum budek.” kata wanita dengan lembut.
“Maaf Bun, Dafa kira Ayah sama Bunda ada ditaman
belakang, ternyata disini!” jelas Dafa ringan dan sedikit terdengar candaan di
nada suara Dafa.
“Selamat sore Om, Tante.” kata Muti. Muti sangat kikuk
bertemu dengan orangtua Dafa. Walaupun bukan pertemuan pertama, gesture tubuh
Pak Rangga, Ayah Dafa yang berwibawa itu mampu membuat orang sungkan sekaligus
gugup bertemu dengan beliau.
“Assalamu’alaikum.”
jawab Ayah Dafa pendek.
“Maaf Om, Assalamu’alaikum.”
“Assalamu’alaikum Om, Tante. Saya Zahra, teman Kak Dafa di kampus. Senang bertemu
dengan Om dan Tante.” sapa Zahra ramah. Kemudian ia berjalan menghampiri Ibu
Arya dan mencium punggung tangannya dan setelah itu menghampiri Pak Rangga, bersalaman
layaknya Islam mengajarkan dengan lawan jenis tanpa harus besentuhan.
Ibu Dafa sontak kaget dengan sikap Zahra. Gadis itu
begitu ramah, sopan. Ia menyambut salam Zahra dengan senyuman.
“Maaf tante jika saya lancang, saya telah terbiasa melalukan
itu dengan ibu saya.” gumam Zahra sopan.
“Oh tidak apa-apa. Tante cuma keget aja, jarang anak muda
sekarang yang mencium tangan orangtua. Alasan klasik, sudah gak jaman lagi
katanya, ia kan Dafa?” sindir ibu Dafa sambil melirik kearah anaknya.
“Bunda! Jangan malu-maluin aku ahhh…” sahut Dafa malu.
“Kamu sendiri yang bilang begitu kan? Sekarang yang lagi
ngetren itu cipika-cipiki. Ahhh, tante hampir lupa, selamat datang dirumah
kami, semoga kalian betah tinggal dirumah kami yang sederhana ini. Dafa antar
teman kamu ke kamar tamu, Bunda sudah mempersiapkan kamar itu buat teman-teman
kamu.”
“Siap!” sahut Dafa, seperti layaknya seorang prajurit
kertika menjawab perintah dari atasannya.
Pak Rangga dan Ibu Alya hanya tersenyum dan geleng-geleng
kepala melihat kelakukan anak mereka.
“Silahkan istirahat dulu, nanti kita sholat magrib
berjamah.” kata Ibu Alya.
“Terimakasih tante.” kata Muti. Ia masih kikuk menghadapi
orangtua Dafa.
“Terimakasih tante. Permisi saya masuk dulu.” kata Zahra
sambil tersenyum.
Kamar tamu rumah keluarga Dafa sanggat besar. Terdapat tempat
tidur ukuran king, lemari pakaian yang cukup besar, meja riang, lemari setengah
pinggang orang dewasa serta ditata dengan miniature-miniatur, lukisan-lukisan
pemandangan menghiasi kamar ini. Kamar ini terdapat kamar mandi.
“Silahkan istirahat dulu para putri yang cantik jelita.
Nanti, magrib aku panggil untuk sholat berjamaah. Oke! Kalau ada sesuatu yang
dibutuhkan silahkan call me.” sahut Dafa. Ia meletakkan koper Zahra dan
Muti disudut ruangan dan langsung meninggalkan kamar tamu yang kami tempati.
Muti menghempaskan
tubuhnya ke kasur. Kemudia ia berkata, “Gila Ra, rumah Dafa benar-benar keren.”
Zahra tidak menggubris perkataan Muti. Ia asik menata
barang-barang mereka.
“Beruntung banget aku deh kalau menikah dengan Dafa.”
ucap Muti. Zahra hanya tersenyum mendengar ucapan Muti.
Zahra berjalan ke arah jendela. Ia membuka gorden jendela
tersebut. Terlihat jelas taman belakang, disudut taman itu terdapat kolam ikan,
di sebelahnya terdapat ayunan kayu serta sebuah pendopo yang bisa digunakan
untuk bersantai. Disisi lain terdapat kolam renang, uniknya antara sisi satu
dan lainya terdapat jembatan. Menatap langit malam yang bertabur bintang di
tengah-tengah jembatan itu pasti sangat indah. Zahra tak hentinya kagum dengan
desain rumah Dafa. Bukan hanya kemegahannya, tapi lebih terhadap desain rumah
ini. Oh, pantas kak Dafa sangat tahu cerita Cordoba, Granada, dan jejak islam
di Eropa, pikirnya.
Muti bangun dari tidurnya dan menghampiri Zahra. “Liat apaan
sih? tanyanya. Zahra tak menjawabnya.
“Liat kan Ra, betapa beruntungnya aku,” jelas Muti.
Zahra hanya tersenyum. Ia bukan tidak ingin mengomentari
perkataan Muti tetapi ia telah terpesona dengan desain rumah Dafa. Desain rumah
ini setidaknya menjadi wujud akan mimpi-mimpinya untuk melihat jejak Islam di
Eropa.
“Ra, kasih komentar kek, dari tadi cuma senyum-senyum
aja.” protes Muti dengan wajah cemberut.
“InsyaAllah.” ucap Zahra singkat.
“Ko InsyaAllah
sih?” protes Muti.
“Kamu minta aku kasih komentar, komentar aku ya InsyaAllah.”
jelas Zahra ramah.
“Zahra kamu nggak senang karena aku beruntung mendapatkan
Dafa?” tuding Muti.
“Astagfirullah
Muti, aku pasti bahagia jika kamu bahagia Muti, sama sekali aku tidak pernah
cemburu ataupun iri kepadamu, Muti.”
“Buktinya kamu cuma jawab InsyaAllah” rajut Muti.
Zahra tersenyum dan berkata, “Muti, InsyaAllah,
jika Allah mengizinkan, kamu akan mendapatkan semua apa yang kamu inginkan,
termasuk kak Dafa. Jika saat itu tiba, pasti aku orang yang pertama kali
bahagia Muti.”
Muti tiba-tiba memeluk diri Zahra. “Terimakasih Zahra,
kamu memang teman terbaik.” ucap Muti.
“Eitttsss, aku masih normal” canda Zahra.
“Siapa juga yang suka kamu, kamu sukanya kak Dafa.”
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.
“Permisi, Non. Saya bi Aminah, saya pengurus rumah
tanggal di rumah ini.” sahut wanita setengah baya di balik pintu.
“Silahkan masuk bi, pintunya nggak dikunci ko.” jawab
Zahra.
“Maaf Non, ibu panggil Non buat sholat magrib berjamaah.”
“Oh iya, kami sebentar lagi kesana, terimakasih bi,” ucap
Zahra ramah.
“Iya Non, saya permisi dulu.” Wanita itu kira-kira
berusia 35 tahun meninggalkan kamar Zahra dan Muti.
“Yuk Mut, siap-siap.” ajak Zahra.
“Aku grogi Ra, tahu sendiri bagaimana orangtua Dafa,
bikin aku terintimidasi, sepertinya meraka tidak menyukaiku,” ucap Muti
meringgis.
“Uss, jangan ngomong gitu, mereka pasti menyukai kamu.
InsyaAllah tidak apa-apa Muti. Kita kan tinggal dirumah mereka, seharusnya
kita bersikap ramah kepada mereka. Sekalian PDKT sama camer.” canda Zahra.
“Tetap aja Zahra.”
“Aku wudu’ duluan, kamu siapin mukena sana.” kata Zahra
sambil berlalu ke kamar Mandi.
Rumah Dafa dilengkapai dengan Mushola mini tempat
biasanya keluarga Dafa melaksanakan sholat. Mushola terletak di bagian belakang
rumah, mushola ini dibiarkan terbuka hanya beratap berlantaikan kayu, terkesan
seperti mushola terdapat di daerah Jogjakarta dan Jawa Tengah.
“Assalamu’alaikum” sapa Zahra.
“Wala’aikumsalam” jawab seluruh penghuni rumah
Dafa. Keluarga Dafa memang terbiasa Sholat Subuh, Magrib, Isha berjamah, bukan
hanya keluarga inti tapi juga bersama orang-orang yang pekerja di rumah keluarga
Dafa.
Subhana Allah, sungguh indah keluarga ini, pikir Zahra.
“Wa’alaikumsalam” jawab semuanya.
“Maaf kami terlambat.”
ucap Zahra menyesal. Ia merasa sungkan karena semua telah berkumpul. Insiden
Muti yang merasa orangtua Dafa tidak menyukainya, membuat Zahra harus
menyakinkan Muti.
“Tidak apa-apa,” ucap Ibu Alya lembut.
“Karena sudah lengkap ayuk kita Sholat.” ajak Pak Rangga.
Tanpa diperintahkan Dafa mengumandakan iqomah, dan
kemudian Pak Rangga menjadi imam.
Suara kak Dafa begitu merdu mengumandangkan iqomah, subhanaAllah, ucap Zahra dalam hari.
Astagfirullah ucapnya kemudian karena telah terpesona dengan lantunan iqomah
yang dikumandangkan Dafa.
Usai sholat mereka langsung menuju meja makan. Sambil
makan diiringi dengan percakapan ringan di meja makan. Tiba-tiba mata Zahra
berkaca-kaca. Ia merindukan suasana seperti ini, suasana ketika ia makan
bersama ayah dan ibunya sambil bercakap ringan.
Ibu Alya menyadari mata Zahra berkaca-kaca. “Zahra,
kamu baik-baik saja? Makanananya enak kan?” tanyanya kuatir.
“Maaf, saya telah merusak makan malam ini. Saya baik-baik
saja kok tante. Makananya sangat enak tante. Saya hanya terharu.” jelas Zahra
dengan mata menerawang saat ayahnya masih hidup.
“Ohh, tante kira makanannya kamu tidak suka. Ayo
lanjutkan makan lagi.” ajak Ibu Alya lembut.
“Terharu karena aku nggak makan kayak kuli seperti
biasanya, ya?” ledek Dafa.
“Karena makan bareng ayah makanya kamu makan dikit, kalau
kamu makan seperti itu pasti itu pasti dimarahin ayah.” sahut ibu Alya.
“Rasullullah SAW bersabda, makan sebelum lapar dan
berhentilah sebelum kenyang.” jelas Pak Rangga.
“Denger tuh ceramah ayah, Daf,” ucap Ibu Alya.
Zahra hanya tersenyum menyaksikan kehangatan keluarga
ini. Sementara Muti hanya terlihat canggung dengan percakapan ringan mereka, ia
masih merasa terintimidasi dengan sikap orangtua Dafa.
“Tuh Zahra, senyum-senyum liat kelakuan kamu. Jangan
bosan berteman dengan Dafa, Ra.” ucap Ibu Alya dengan canda.
“Insya Allah nggak tante.” ucap Zahra lembut.
“Lanjutkan makannya jangan ngobrol aja, nanti keburu
Isha.” sahut ayah Dafa kemudian.
Pukul 20.00 WIB mereka berkumpul di ruang keluarga. Salah
satu kebiasaan keluarga Dafa adalah menyempatkan berkumpul bersama sebelum
melakukan aktifitas masing-masing.
Pak Rangga dan Ibu Alya duduk berdampingan di sofa,
terlihat sekali mereka saling mencintai, serasi, dan bahagia. Sementara Dafa
duduk di lantai sambil mengotak atik chanel televisi. Zahra dan Muti duduk
berdampingan 900 dari sofa Pak Rangga dan Ibu Alya.
“Kalian sudah lama kenal dengan Dafa,” tanya Pak Rangga
membuka pembicaraan.
“Sudah Om,” jawab Muti kikuk. “Saya sudah 1 tahun kenal
dengan Dafa.” lanjut Muti.
“Saya kenal kak Dafa satu setengah tahun lalu Om,” jelas
Zahra lembut.
“Kenal Dafa dimana? Kalian berbeda jurusan bukan dan
berbeda lokasi kampus juga.” lanjut Pak Rangga ramah tapi dengan gesture Pak
Rangga mampu membuat orang terintimidasi dengan beliau.
Muti dengan kikuknya dan canggung menjawab pentanyaan Pak
Rangga.
“Saya dikenalkan Zahra, Om,” kata Muti akhirnya.
“Berarti Zahra duluan yang kenal Dafa!”
“Ayah kayak mewawancara karyawan baru aja.” sahut Ibu
Alya.
“Iya ihh, ayah mau jadiin mereka karyawan di hotel ayah
tuh Bun. Sambil menyelam minum air.” timpal Dafa.
“Nggak apa-apa tante, kami senang dengan pertanyaan Om
sebagai tanda kami diterima dengan hangat dalam keluarga ini.” ucap Zahra.
“Saya kenal Kak Dafa ketika saya pertama kali datang ke Bandung. Kak Dafa
dengan senang hati membantu saya mengantarkan saya menuju kampus Unpad
Jatinangor. Setelah itu kami sering berdiskusi dan bertukar pikiran.” jelas
Zahra.
“Nggak nyangka anak Bunda baik juga.” sindir Ibu Alya.
“Jadi Bunda menggagap Dafa kurang baik selama ini.” rajut
Dafa.
“Tuh manjanya keluar.” ucap Ibu Alya.
Sungguh beruntungnya Kak Dafa mempunyai keluarga yang
hangat seperti ini. Andai ayah masih ada…., pikir Zahra.
“Kak Dafa teman yang sangat baik.” ucap Zahra akhirnya.
“Asikkk, ada yang belain.” ucap Dafa.
“Memang kamu berasal darimana?” tanya Pak Rangga.
“Kalimantan, Yah.” sahut Dafa.
“Yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Sejak kapan jadi
juru bicara Zahra?” canda Bu Alya.
Wajah Muti terlihat cemberut. Rasa cemburu Muti mulai
timbul terhadap Zahra. Ia mampu membuat orangtua Dafa bersikap hangat
kepadanya, sedangkan dengannya, ayah dan ibu Dafa seolah-olah mau memakannya.
“Saya asli Palembang, tapi saya dibesarkan di Bali!”
ceroros Muti. Ntah darimana timbul keberanian itu, ia memotong pembicaraan Ibu
Alya.
Dengan bijaknya ibu Alya berkata, “Alhamdulillah
kami masih ingat cerita kamu tentang keluarga kamu ketika kita pertama bertemu
waktu di Bandung itu. Kamu anak bungsu dari pengusaha resto terkenal, bukan
Indonesia saja yang menjadi cabang resto keluarga kamu tapi juga luar negeri,
putri bungsu keluarga Alatas.”
Merah padamlah raut wajah Muti. Ia ingin mengabil hati
orangtua Dafa, tapi malah sebaliknya.
Zahra menolah kearah Muti sekilas. Ia sadar sahabatnya
itu merasa malu terhadap sikapnya barusan. Namun, Dafa tidak sadar dengan
perubahan Muti karena memang dari tadi Dafa terlibat percakapan tapi dia sama
sekali tidak melihat, ia fokus pada acara yang ditontonnya, walau ia menyahut
omongan kami.
Zahra berinisiatif mengembalikan suasana, “Saya
dilahirkan dan dibesarkan di desa kecil di Kalimantan Selatan. Ayah saya asli
Sumatera Barat, sedangkan ibu asli desa tersebut.” jelas Zahra lembut.
“Jadi kamu perantahu, SubhanAllah.” kata Pak
Rangga.
“Zahra itu gadis tangguh, Yah!” timbal Dafa.
“Dafa tidak boleh seperti itu memotong pembicaraan orang.
Tidak baik sikap seperti itu nak.” nasehat Ibu Alya.
Abislah Muti, ia merasa tersindir dengan ucapan Ibu Alya
barusan. Semakin tak karuan sikap Muti. Zahra sepenuhnya sadar dengan perubahan
Muti, tetapi ia sadar, ia harus tetap berada disini ruang ini untuk menghormati
tuan rumah yang sedang menanyakan tentang asal usulnya.
“Orangtua kamu bekerja dimana?” lanjut Pak Rangga.
“Almarhum Ayah dulunya seorang guru matematika di
Madrasah Aliyah. Ibu seorang guru SD.”
“Maaf, pertanyaan Om menginggatkan kamu masa lalu.” ucap
Pak Rangga dengan sedikit rasa bersalah.
“Oh tidak apa-apa Om, Ayah sudah berada di tempat yang
terbaik.”
“Orangtua kamu sungguh luar biasa mendidik kamu Zahra.”
ucap Ibu Alya.
“Terimakasih Tante.” Ucap Zahra tulus.
“Kamu berapa bersaudara?” Tanya Ibu Alya.
“Saya anak tunggal tante.”
“Kamu berhijab dari kapan?” lanjut Ibu Alya. “Maaf jika
tante banyak tanya.”
“Oh tidak apa-apa tante, dengan senang hati saya
menjawabnya. Alhamdulillah Ayah dan Ibu mengajarkan saya berhijab
semenjak saya berumur 10 tahun.”
“SubhanaAllah” ucap Ibu Alya.
Sesekali Zahra melirik kearah Muti, ia merasa semakin tak
karuan. Zahra harus berpikir untuk menyelamatkan sabahatnya dari situasi itu.
Ia melirik ke jam dinding, pukul 10.00 WIB. Pamit tidur, pikirnya.
“Maaf Om, Tante, saya sungguh senang berbincang-bincang
dengan Om dan Tante, tetapi seperti sudah malam. Boleh kami undur diri untuk
istirahat?” tanya Zahra sopan.
Spontan Ibu Alya melihat jam dinding yang ada di
depannya. “Pukul 10.00 WIB, wah tidak terasa sudah begitu malam, saking asiknya
ngombrol. Maaf kami telah mengganggu waktu istirahat kalian. Besok pagi-pagi kalian
harus ke kantor berita.” ucap Ibu Alya menyesal.
“Tidak apa-apa Om, Tante. Kami undur diri dulu.” pamit
Zahra sopan. Ia berdiri disusul dengan Muti. “Mari Kak Dafa, kami istirahat duluan.”
“Oke. Good night.”
Zahra dan Muti menuju kamar tamu yang mereka tempati. Tak
lama kemudian Pak Rangga, Ibu Alya, dan Dafa menuju kamar mereka.
Kejadian itu lah yang menjadi penyebab kecemburuan Muti
setiap Dafa dekat dengan Zahra.
“Zahra?” sapa seorang gadis.
Ia tersenyum kepada gadis itu.
“Kamu ngapain disini? Bukannya kamu tinggal di daerah
Jatos?” tanya gadis itu.
Zahra hanya tersenyum samar.
“Itu koper kamu? Kamu diu....” gadis itu tidak
melanjutkan perkataannya.
“Le, di daerah ini ada
kost-kostan cewek yang kosong dan harganya murah nggak?” tanya Zahra.
“Kostan aku ada kamar
kosong sih tapi kecil banget. Sangat berbeda dengan apartemen Muti,” jelas Lea.
“Nggak apa-apa, lagian
uangku juga nggak cukup bayar kostan yang luas,” ucap Zahra.
“Ya udah kalau gitu. Kamu
bisa ikut sama aku.”
Allah Maha Penolong,
begitulah janji-Nya. Disaat kesusahan Zahra mencari kostan, Allah mempertemukan
ia dengan Lea, bukanlah kebetulan tapi skenario Allah yang sedang bermain.
***
Sebulan
berlalu.
Zahra sekarang tinggal di
tempat kostan sederhana di daerah Sukawening. Ia beruntung mendapatkan teman
kostan yang baik terutama Lea. Awalnya Zahra merasa Lea tidak suka dengannya
tapi setelah saling mengenal selama sebulan ini teman yang sangat menyenangkan.
Hari-hari yang ia lalui di
kampus sangat berat. Beberapa pasang mata memandang jutek kepadanya, terutama
teman-teman Muti tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Cobaan yang
dihadapi Rasul lebih berat daripada yang diterimanya. Ia hanya perlu bersama
hingga mereka bosan. Sejak percakapan ia dengan Muti hari itu, Zahra sama
sekali tidak pernah berhubungan dengan Dafa maupun bertemu dengan Dafa.
“Ra, ke kantin yuk?” ajak Lea
seusai mereka kuliah.
“Yuk,” jawab Zahra
merangkul lengan Lea.
“Ra. Kamu nggak risih
dengan tatapan anak-anak ke kamu?” tanya Lea saat mereka sudah tiba di kantin.
“Em.... Risih sih tapi aku
harus apa? Kalau dijelaskan mereka juga bakal nggak percaya. Aku harus bersabar
menunggu mereka bosan sendiri.”
“Assalamu’alaikum,” sapa
seorang lelaki menghampiri mereka.
Zahra dan Lea mengangkat
kepalanya memandang ke arah suara.
“Wa’alaikusalam,”
jawab mereka bersamaan.
“Kak Dafa? Ngapain
kesini?” tanya Zahra.
“Mau ketemu kamu,” ucap
Dafa santai.
Zahra memandang
sekeliling. Ia tidak ingin orang-orang semakin salah sangka kepadanya.
“Kak....” ucap Zahra
hendak mengusir Dafa.
“Oh... Jadi sekarang
pacaran udah mulai terang-tengan!” ucap Muti kasar menghampiri mereka.
Zahra berdiri hendak
menenangkan Muti.
“Muti, semuanya tidak
seperti yang kamu kira Muti. Aku nggak ada apa-apa dengan kak Dafa,” jelas
Zahra. “Kak Dafa kesini untuk ketemu kamu. Iya kan kak?” ucap Zahra memandang
Dafa memohon.
Ia tidak ingin terjadi
keributan.
Muti tertawa. “Oh.. Jadi
kamu udah pintar berbohong. Tampang aja yang alim tapi kelakukannya......” ucap
Muti kasar.
“Muti! Jaga ucapanmu! Kamu
tidak pantas berkata seperti kepada Zahra. Ia tidak tahu apa-apa,” ucap Dafa
meninggikan suaranya.
“Bela! Bela aja terus. Apa
yang kamu kasih ke Dafa ah? Badan kamu?” tuduh Muti.
“Muti!! Jaga ucapan
kamu!!” bentak Dafa.
“Berapa kamu dikasih Dafa?
Satu juta, dua juta atau sepuluh juta?” tanya Muti meremehkan Zahra.
Zahra sakit, bukan
fisiknya tapi hatinya sakit dituduh oleh orang yang sudah ia anggap sebagai
saudaranya sendiri.
Dafa sangat marah. Ia
ingin sekali menampar Muti tapi ia tidak ingin menyakiti perempuan. Akhirnya ia
melampiaskan kemarahan dengan mendendang meja. Beberapa detik kemudian, ia
menggapai lengan Zahra, membawa gadis itu menjauh.
Kiara Payung, daerah yang
terletak di bawah kaki gunung Manglayang tepatnya berada di atas Universitas
Padjadjaran. Dafa berinisitaif mengajak gadis itu kesini karena Kiara Payung, tempat yang sangat indah
pemandangannya, cocok untuk menenangkan diri. Dafa menghentikan mobilnya
dipinggir jalan. Hamparan kebun jagung membentang dihadapan mereka. Disini,
kita dapat melihat daerah Jatinangor dan sekitarnya, Rancaekek dengan deretan
pabrik-pabriknya, Gunung Geulis yang berseberangan dengan Gunung Manglayang.
“Turun yuk, Ra?” ajak
Dafa.
Tanpa berkata Zahra
mengikuti Dafa turun dari mobil. Ia sama sekali belum bicara semenjak tragedi
di kantin Fakultas Ilmu Komonikasi. Sekitat 10 menit mereka berada dalam diam.
“Makasih Kak,” ucap Zahra
akhirnya.
“Maaf ya,” ucap Dafa.
Zahra tersenyum mendengar
ucapan Dafa.
“Disaat seperti ini kamu
masih bisa tersenyum Ra, hebat kamu.”
“Aku pernah merasakan yang
lebih menyakitkan dari ini kak.”
“Ya ya.”
“Kakak putus sama Muti?”
tanya Zahra.
Dafa mengangguk.
“Kenapa?” tanya Zahra.
“Muti bukan wanita yang
cocok buat aku.”
“Tapi Kak, apa semua benar
gara-gara aku?”
“Bukan Zahra. Kamu tidak
salah apa-apa. Boleh aku jujur?”
Zahra tersenyum menandakan
iya.
“Aku lega Ra. Ayah dan
Bunda memang tidak pernah setuju aku pacaran dengan Muti. Mereka ingin aku
mendapatkan perempuan yang bisa menghargai diri mereka sendiri Ra, perempuan
yang berhijab dan santun perilakunya.” Dafa terdiam sejanak dan melanjutkan
perkataannya, “Walaupun Ayah dan Bunda tidak pernah secara langsung mengatakan
mereka tidak setuju hubunganku dengan Muti, tapi setiap aku membicarakan Muti,
mereka selalu berkata ‘Rencana Allah kita tidak tahu nak, kami selalu berdoa
kamu mendapatkan perempuan yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW”
“Kakak orang baik dan
pasti mendapatkan perempuan yang baik. InsyaAllah.”
ucap Zahra tulus. “Kakak nggak kuliah?”
“Kalau kuliah, nggak
mungkin aku kesini Ra?” ucap Dafa sambil bercanda. “Justru kamu yang bolos.”
lanjut Dafa.
Zahra melirik jam
tangannya. Pukul 15.30, telat pikirnya. “Astagfirullah, mati aku,
pelajaran ibu Rina lagi.” ucap Zahra panik.
“Sekali-kali menjadi
mahasiswi bandel.” canda Dafa.
“Ini matkul ibu Rina,
pasti aku introgasi.”
“Kayak polisi aja dosen
kamu.”
“Ibu Rina kan memang
terkenal seperti itu kak, bahkan bukan mahasiswa Fikom saja yang kenal
kegalakan beliau, hampir seluruh kampus.”
“Nanti kamu ngeles aja,
mahasiswi teladan kayak kamu pasti dosen percaya.”
“Dosa!” ucap Zahra. “Kita
turun yuks, sudah Ashar.”


