Featured Posts

Kamis, 24 Agustus 2017

Zahra - Bab 3

Tiga
           
            Langit sudah menghitam pekat, perlahan-lahan butiran air jatuh membasahi tanah. Bau tanah sudah mulai tercium. Beberapa orang bergegas berlari menuju tempat berteduh. Zahra memandang keluar melalui jendela, ia tersenyum. Hujan! Allah sedang menurunkan rahmatnnya. Ia kembali melanjutkan perkerjaannya mengetik laporan.
            “Assalamu’alaikum, Teh,” sapa seorang gadis mendekati Zahra.
            Zahra menggangkat kepalanya melihat kearah sumber suara. Ia tersenyum saat menatap gadis itu. Gadis itu membalas tersenyum.
            “Wa’alaikumsalam,” balas Zahra.
            “Maaf teh, apa benar ini sekre BEM?” tanyanya.
            “Iya,” jawab Zahra sambil memindahkan laptop dari pangkuannya ke sampingnya. “Ada yang dibantu?” tanya Zahra ramah.
         Gadis itu menarik nafas lega. Ia duduk bersimpuh dihadapan Zahra. Ia membuka mengeluarkan sebuah map di dalam tasnya.
            “Perkenalkan nama saya Diana, saya mahasiswa FE. Saya salah satu anggota BEM FE, saya diamanahkan untuk mengantarkan ini,” ucapnya sopan. “Teteh, anggota BEM?” tanyanya.
            Zahra mengangguk mengiyakan.
            “Boleh saya menitipkan ini?” ucapnya menyerahkan map itu kepada Zahra.
            “Boleh, untuk siapa?” tanya Zahra.
            “Untuk teh Zahra.”
       Zahra langsung membuka map itu. Map itu berisi sebuah proposal. Ia membuka dan membacanya sesaat, lalu mentupnya kembali. Diana memperhatikan Zahra seksama, ia kebingunggan dengan sikap Zahra. Apa dia Zahra? Pikir Diana
            Zahra menagkap kebingungan di wajah Dian.
            “Oh, saya belum memperkenalkan diri. Saya Zahra,” ucap Zahra menggulurkan tangannya.
            Diana mengangguk dan menerima uluran tangan Diana.
            “Sampaikan kepada Kak Dafa, kami akan mempelajari proposal ini. Emm... tempatnya di puncak, apa kalian sudah mendapatkan izin dari pihak kampus?” tanya Zahra.
            “Alhamdulillah, Kak Rian sudah menggurus semuanya. Dekan sudah memberikan kami izin dengan catatan BEM Universitas ikut berpartisipasi karena dekan sangat berharap acara ini dapat sukses,” jelas Diana.
            “Bagaimana dengan dana?”
            Diana tersenyum simpul, “Kami sudah mendapatkan acc sponsor.”
            Zahra pun ikut tersenyum. “Baiklah Diana. Kami secepatnya akan memberikan kabar, maksimal 3 hari,” ucap Zahra.
            “Teh Zahra pasti kenal dekat dengan Kak Dafa,” ucap Diana malu-malu.
            “Kenapa kamu bilang begitu?” tanya Zahra penasaran. Kenapa Diana bisa menyanyakan itu kepadanya? Padahal pertemuannya dengan Diana baru kali ini.
            “Nggak apa-apa, hanya menebak saja,” jawab Diana. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Assalamu’alaikum.”
            “Wa’alaikumsalam,” jawab Zahra.
            Zahra tampak memikirkan sesuatu. Apa terlihat jelas, ia dekat dengan Dafa? Ia hanya bersikap biasa kepada Diana, seperti kepada orang-orang lainnya. Lalu, kenapa Diana berkata seperti itu? Zahra memutuskan untuk menghilangkan pikirannya tentang perkataan Diana.

***

            “Hai, Ra!” sapa Nevan menyentuh pundaknya dari belakang.
            Zahra terkejut, spontan ia menoleh ke belakang. Ia melihat Nevan berdiri tepat di belakangnya.
            “Astagfirullah, Nevan!!” ucap Zahra menahan amarah. “Kita bukan muhrim!” ucap Zahra tegas.
            “Maaf,” ucapnya bersalah.
            “Jangan diulangi!” ucap Zahra tegas. “Jika tidak ada yang mau kamu bicara, kamu bisa tinggalkan aku sendiri?”
            Nevan melongo tak percaya dengan ucapan Zahra. Ia tahu Zahra sangat marah, tapi belum pernah ia mendengar Zahra memintanya pergi, walau selama ini Nevan menyadari Zahra menggusirnya secara halus, baginya tak masalah sebelum Zahra benar memintanya pergi.
            “Apa kau bersikap seperti ini juga dengan Dafa?” tanya Nevan.
            Zahra bisa merasakan kemarahan sela ucapan Nevan.
            Zahra tidak menjawab ucapan Nevan. Tak ada gunanya ia menjawab, Nevan pasti tidak akan percaya dengan perkataanya.
            “Kenapa? Kau diam-diam menyukai Dafa bukan?”
            Zahra tertegun mendengar ucapan Nevan. Apa? Nevan mengira ia menyukai Dafa?
            “Kak Dafa pacar Muti, tolong jaga ucapanmu!” pinta Zahra.
            Nevan tersenyum sinis, lalu tertawa sejenak.
            “Kau sahabat baik Muti bahkan kau tinggal satu apartemen denganya. Kau tidak tahu mereka sudah putus seminggu lalu?” ucap Nevan.
            Zahra melongo tak percaya. Apa? Muti putus dengan Dafa? Kenapa tak satu pun dari mereka yang bercerita?
            “Maaf, Nevan. Aku harus pergi,” ucap Zahra meninggalkan Nevan.
            Nevan berkali-kali memanggil Zahra, tapi tak dihiraukannya. Ia harus segera mencari Muti. Ia harus tahu yang terjadi sebenarnya.

            Zahra berkeliling kampus Fikom mencari Muti. Ia mencari tempat yang biasanya Muti berada bersama teman-temannya tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan Muti. Zahra mengeluarkan ponsel dari dalam tas, ia mencari nomor Muti di nomor kontak, ia memencet tombol hijau tak lama kemudian terdengar nada sambung, berapa lama Zahra menunggu, Muti tidak mengangkat ponselnya.
            Dia pasti di KPM! Pikir Zahra. Zahra setengah berlari menuju gerbang depan Fikom. Ia berdiri menunggu angkutan kampus yang mengantarkanya menuju gerbang utama. Beruntung, Zahra tak perlu menunggu lama. Ia segera naik. Ia tampak gelisah disepanjang perjalanan.
            Angkutan berhenti. Zahra secepat kilat turun dan berjalan cepat menuju sekre KPM yang tak jauh dari gerbang utama. Selang beberapa menit, Zahra sudah berada di depan sekre BPM. Ia melihat Muti duduk bersama teman-temannya, mereka tampak sedang asik bercengkrama. Zahra mengurungkan niatnya untuk menemui Muti. Terlambat! Muti menyadari kedatangan Zahra. Muti bangkit, ia tampak berbicara dengan teman-temannya dan berjalan menemui Zahra.
            “Jadi itu yang bernama Zahra?” tanya teman Muti setengah berteriak.
            “Sepertinya begitu,” jawab teman Muti lainnya.
            “TEMAN makan TEMAN!” ucap teman lainnya setengah berteriak.
            “Alim sih alim tapi kelakuannya!” timpal yang lain.
            Zahra dapat sekali mendengar sahutan teman-teman Muti. Ia mencoba untuk tidak terpancing dengan perkataan teman-teman Muti.
            Zahra dan Muti berjalan menjauhi sekre KPM hingga sahutan teman-teman Muti tidak terdengar lagi. Mereka memilih duduk di taman yang tak jauh dari sekre KPM. Mereka duduk diam, tak ada yang berbicara satu pun.
            “Apa ada Zahra?” tanya Muti dingin.
            Zahra menarik nafasnya dalam-dalam. “Apa benar kamu putus dengan Kak Dafa?” tanya Zahra ragu.
            “Jika kamu ingin bertanya tentang Dafa, aku tidak ingin menjawabnya,” ucap Muti bangkit. Ia hendak meninggalkan Zahra.
            “Kenapa? Apa aku tidak boleh tahu?” ucap Zahra parau.
            Muti berbalik, ia menatap Zahra. “Tidak semua bisa ku bagi denganmu!” ucap Muti dingin.
            “Aku sahabatmu, Muti?” ucap Zahra parau.
            “Sahabat? Kau tahu apa namanya sahabat itu Ra?” tanya Muti. “Sahabat itu nggak mungkin mengambil pacar sahabatnya sendiri!!” bentak Muti.
            “Apa maksudmu Muti?” tanya Zahra tidak percaya.
            “Tanyakan saja pada dirimu. Aku harap kamu pergi dari kehidupanku!!” ucap Muti meninggalkan Zahra.


***

            Hujan semakin deras. Petir mulai memekakkan telinga. Zahra menyeret kopernya dengan susah payah. Air mata mulai mengalir dari pipinya. Muti sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri, tapi sekarang semuanya hancur. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Muti harus cemburu kepadanya. Ia dan Dafa hanya berteman. Ia tidak mungkin bisa bersama dengan Dafa. Dafa adalah putra tunggal dari keluarga kaya. Ia tidak akan mungkin bersanding dengan keluarga kaya.
            Andai saja ayahnya masih hidup, mungkin ia tidak akan hidup seperti ini. Ayah pasti akan melakukan apapun untuknya. Tapi, ia tidak mungkin menyalahkan Allah, Allah pasti sudah mempunyai jalan tebaik untuknya.
            Zahra menyeka air matanya. Ia tidak boleh menangis. Ia sudah harus kuat. Ia melirik jam tangan miliknya. Pukul 8 malam, ia belum makan malam, dari sore ia sibuk mencari kostan tapi belum juga ada harga yang cocok untuk kantongnya. Ia memutuskan  mampir di warteg yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia memesan nasi, sayur dan telur. Matanya menerawang mengingat kejadian beberapa tahun lalu.  
            Zahra dan Muti mendapatkan tugas kelompok tentang pengelolaan tulisan serta penerbitan suatu artikel disalah satu majalah terkenal di Jakarta. Mereka terpaksa harus menginap di rumah orang tua Dafa di Jakarta. Orang tua Dafa memang telah mengenal mereka berdua. Muti pernah sebelumnya bertemu dengan mereka ketika mereka mengunjungi Dafa di Bandung. Sedangkan Zahra, kala itu adalah pertemuan pertama dengan orangtua Dafa. Tetapi, Orangtua Dafa langsung menyukai gadis itu.
“Assalamu’alaikum.” ucap Dafa setengah berteriak, berjalan sambil mendorong koper memasuki rumah mewah dikawasan Pondok Indah. Zahra dan Muti mengikuti Dafa di belakang memasuki rumah mewah itu. Rumah mewah itu bergaya bangunan islam pada abad pertengahan. Di halaman depan penuh dengan taman bunga dan kolam-kolam kecil. Ornament-ornamen ukiran kaligrafi Islam menghiasasi sebagian dinding-dinding. Memasuki ruang tamu, lukisan-lukisan dan foto-foto kota-kota dan tampat-tempat bersejarah Islam menghiasi dinding.
“Wa’alaikumsalam.” jawab suara berat dari ruang keluarga. Suara itu adalah suara lelaki. Zahra dan Muti berjalan mengikuti Dafa menuju ruang keluarga. Ruang keluarga rumah ini lebih terkesan santai, tidak banyak ornament-ornamen islam. Di dinding terdapat deretan foto-foto keluarga. Disana duduk seorang pria setengah baya dan seorang wanita setengah baya. Mereka pasti orangtua Dafa. Pria itu sangat berwibawa dan terkesan tenang, disebelahnya duduk seorang wanita yang sangat cantik, wajahnya sangat ramah.
“Dafa, bisa tidak kamu kecilkan suaramu? Orangtuamu ini belum budek.” kata wanita dengan lembut.
“Maaf Bun, Dafa kira Ayah sama Bunda ada ditaman belakang, ternyata disini!” jelas Dafa ringan dan sedikit terdengar candaan di nada suara Dafa.
“Selamat sore Om, Tante.” kata Muti. Muti sangat kikuk bertemu dengan orangtua Dafa. Walaupun bukan pertemuan pertama, gesture tubuh Pak Rangga, Ayah Dafa yang berwibawa itu mampu membuat orang sungkan sekaligus gugup bertemu dengan beliau.
Assalamu’alaikum.” jawab Ayah Dafa pendek.
“Maaf Om, Assalamu’alaikum.”
“Assalamu’alaikum Om, Tante. Saya Zahra, teman Kak Dafa di kampus. Senang bertemu dengan Om dan Tante.” sapa Zahra ramah. Kemudian ia berjalan menghampiri Ibu Arya dan mencium punggung tangannya dan setelah itu menghampiri Pak Rangga, bersalaman layaknya Islam mengajarkan dengan lawan jenis tanpa harus besentuhan.
Ibu Dafa sontak kaget dengan sikap Zahra. Gadis itu begitu ramah, sopan. Ia menyambut salam Zahra dengan senyuman.
“Maaf tante jika saya lancang, saya telah terbiasa melalukan itu dengan ibu saya.” gumam Zahra sopan.
“Oh tidak apa-apa. Tante cuma keget aja, jarang anak muda sekarang yang mencium tangan orangtua. Alasan klasik, sudah gak jaman lagi katanya, ia kan Dafa?” sindir ibu Dafa sambil melirik kearah anaknya.
“Bunda! Jangan malu-maluin aku ahhh…” sahut Dafa malu.
“Kamu sendiri yang bilang begitu kan? Sekarang yang lagi ngetren itu cipika-cipiki. Ahhh, tante hampir lupa, selamat datang dirumah kami, semoga kalian betah tinggal dirumah kami yang sederhana ini. Dafa antar teman kamu ke kamar tamu, Bunda sudah mempersiapkan kamar itu buat teman-teman kamu.”
“Siap!” sahut Dafa, seperti layaknya seorang prajurit kertika menjawab perintah dari atasannya.
Pak Rangga dan Ibu Alya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakukan anak mereka.
“Silahkan istirahat dulu, nanti kita sholat magrib berjamah.” kata Ibu Alya.
“Terimakasih tante.” kata Muti. Ia masih kikuk menghadapi orangtua Dafa.
“Terimakasih tante. Permisi saya masuk dulu.” kata Zahra sambil tersenyum.

Kamar tamu rumah keluarga Dafa sanggat besar. Terdapat tempat tidur ukuran king, lemari pakaian yang cukup besar, meja riang, lemari setengah pinggang orang dewasa serta ditata dengan miniature-miniatur, lukisan-lukisan pemandangan menghiasi kamar ini. Kamar ini terdapat kamar mandi.
“Silahkan istirahat dulu para putri yang cantik jelita. Nanti, magrib aku panggil untuk sholat berjamaah. Oke! Kalau ada sesuatu yang dibutuhkan silahkan call me.” sahut Dafa. Ia meletakkan koper Zahra dan Muti disudut ruangan dan langsung meninggalkan kamar tamu yang kami tempati.
 Muti menghempaskan tubuhnya ke kasur. Kemudia ia berkata, “Gila Ra, rumah Dafa benar-benar keren.”
Zahra tidak menggubris perkataan Muti. Ia asik menata barang-barang mereka.
“Beruntung banget aku deh kalau menikah dengan Dafa.” ucap Muti. Zahra hanya tersenyum mendengar ucapan Muti.
Zahra berjalan ke arah jendela. Ia membuka gorden jendela tersebut. Terlihat jelas taman belakang, disudut taman itu terdapat kolam ikan, di sebelahnya terdapat ayunan kayu serta sebuah pendopo yang bisa digunakan untuk bersantai. Disisi lain terdapat kolam renang, uniknya antara sisi satu dan lainya terdapat jembatan. Menatap langit malam yang bertabur bintang di tengah-tengah jembatan itu pasti sangat indah. Zahra tak hentinya kagum dengan desain rumah Dafa. Bukan hanya kemegahannya, tapi lebih terhadap desain rumah ini. Oh, pantas kak Dafa sangat tahu cerita Cordoba, Granada, dan jejak islam di Eropa, pikirnya.
Muti bangun dari tidurnya dan menghampiri Zahra. “Liat apaan sih? tanyanya. Zahra tak menjawabnya.
“Liat kan Ra, betapa beruntungnya aku,” jelas Muti.
Zahra hanya tersenyum. Ia bukan tidak ingin mengomentari perkataan Muti tetapi ia telah terpesona dengan desain rumah Dafa. Desain rumah ini setidaknya menjadi wujud akan mimpi-mimpinya untuk melihat jejak Islam di Eropa.
“Ra, kasih komentar kek, dari tadi cuma senyum-senyum aja.” protes Muti dengan wajah cemberut.
“InsyaAllah.” ucap Zahra singkat.
“Ko InsyaAllah sih?” protes Muti.
“Kamu minta aku kasih komentar, komentar aku ya InsyaAllah.” jelas Zahra ramah.
“Zahra kamu nggak senang karena aku beruntung mendapatkan Dafa?” tuding Muti.
Astagfirullah Muti, aku pasti bahagia jika kamu bahagia Muti, sama sekali aku tidak pernah cemburu ataupun iri kepadamu, Muti.”
“Buktinya kamu cuma jawab InsyaAllah” rajut Muti.
Zahra tersenyum dan berkata, “Muti, InsyaAllah, jika Allah mengizinkan, kamu akan mendapatkan semua apa yang kamu inginkan, termasuk kak Dafa. Jika saat itu tiba, pasti aku orang yang pertama kali bahagia Muti.”
Muti tiba-tiba memeluk diri Zahra. “Terimakasih Zahra, kamu memang teman terbaik.” ucap Muti.
“Eitttsss, aku masih normal” canda Zahra.
“Siapa juga yang suka kamu, kamu sukanya kak Dafa.”              

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.
“Permisi, Non. Saya bi Aminah, saya pengurus rumah tanggal di rumah ini.” sahut wanita setengah baya di balik pintu.
“Silahkan masuk bi, pintunya nggak dikunci ko.” jawab Zahra.
“Maaf Non, ibu panggil Non buat sholat magrib berjamaah.”
“Oh iya, kami sebentar lagi kesana, terimakasih bi,” ucap Zahra ramah.
“Iya Non, saya permisi dulu.” Wanita itu kira-kira berusia 35 tahun meninggalkan kamar Zahra dan Muti.
“Yuk Mut, siap-siap.” ajak Zahra.
“Aku grogi Ra, tahu sendiri bagaimana orangtua Dafa, bikin aku terintimidasi, sepertinya meraka tidak menyukaiku,” ucap Muti meringgis.
“Uss, jangan ngomong gitu, mereka pasti menyukai kamu. InsyaAllah tidak apa-apa Muti. Kita kan tinggal dirumah mereka, seharusnya kita bersikap ramah kepada mereka. Sekalian PDKT sama camer.” canda Zahra.
“Tetap aja Zahra.”
“Aku wudu’ duluan, kamu siapin mukena sana.” kata Zahra sambil berlalu ke kamar Mandi.

Rumah Dafa dilengkapai dengan Mushola mini tempat biasanya keluarga Dafa melaksanakan sholat. Mushola terletak di bagian belakang rumah, mushola ini dibiarkan terbuka hanya beratap berlantaikan kayu, terkesan seperti mushola terdapat di daerah Jogjakarta dan Jawa Tengah.
“Assalamu’alaikum” sapa Zahra.
Wala’aikumsalam” jawab seluruh penghuni rumah Dafa. Keluarga Dafa memang terbiasa Sholat Subuh, Magrib, Isha berjamah, bukan hanya keluarga inti tapi juga bersama orang-orang yang pekerja di rumah keluarga Dafa.
Subhana Allah, sungguh indah keluarga ini, pikir Zahra.
“Wa’alaikumsalam” jawab semuanya.
“Maaf  kami terlambat.” ucap Zahra menyesal. Ia merasa sungkan karena semua telah berkumpul. Insiden Muti yang merasa orangtua Dafa tidak menyukainya, membuat Zahra harus menyakinkan Muti.
“Tidak apa-apa,” ucap Ibu Alya lembut.
“Karena sudah lengkap ayuk kita Sholat.” ajak Pak Rangga.
Tanpa diperintahkan Dafa mengumandakan iqomah, dan kemudian Pak Rangga menjadi imam.
Suara kak Dafa begitu merdu mengumandangkan iqomah, subhanaAllah, ucap Zahra dalam hari. Astagfirullah ucapnya kemudian karena telah terpesona dengan lantunan iqomah yang dikumandangkan Dafa.

Usai sholat mereka langsung menuju meja makan. Sambil makan diiringi dengan percakapan ringan di meja makan. Tiba-tiba mata Zahra berkaca-kaca. Ia merindukan suasana seperti ini, suasana ketika ia makan bersama ayah dan ibunya sambil bercakap ringan.
Ibu Alya menyadari mata Zahra berkaca-kaca. “Zahra, kamu baik-baik saja? Makanananya enak kan?” tanyanya kuatir.
“Maaf, saya telah merusak makan malam ini. Saya baik-baik saja kok tante. Makananya sangat enak tante. Saya hanya terharu.” jelas Zahra dengan mata menerawang saat ayahnya masih hidup.
“Ohh, tante kira makanannya kamu tidak suka. Ayo lanjutkan makan lagi.” ajak Ibu Alya lembut.
“Terharu karena aku nggak makan kayak kuli seperti biasanya, ya?” ledek Dafa.
“Karena makan bareng ayah makanya kamu makan dikit, kalau kamu makan seperti itu pasti itu pasti dimarahin ayah.” sahut ibu Alya.
“Rasullullah SAW bersabda, makan sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” jelas Pak Rangga.
“Denger tuh ceramah ayah, Daf,” ucap Ibu Alya.
Zahra hanya tersenyum menyaksikan kehangatan keluarga ini. Sementara Muti hanya terlihat canggung dengan percakapan ringan mereka, ia masih merasa terintimidasi dengan sikap orangtua Dafa.
“Tuh Zahra, senyum-senyum liat kelakuan kamu. Jangan bosan berteman dengan Dafa, Ra.” ucap Ibu Alya dengan canda.
Insya Allah nggak tante.” ucap Zahra lembut.
“Lanjutkan makannya jangan ngobrol aja, nanti keburu Isha.” sahut ayah Dafa kemudian.

Pukul 20.00 WIB mereka berkumpul di ruang keluarga. Salah satu kebiasaan keluarga Dafa adalah menyempatkan berkumpul bersama sebelum melakukan aktifitas masing-masing.
Pak Rangga dan Ibu Alya duduk berdampingan di sofa, terlihat sekali mereka saling mencintai, serasi, dan bahagia. Sementara Dafa duduk di lantai sambil mengotak atik chanel televisi. Zahra dan Muti duduk berdampingan 900 dari sofa Pak Rangga dan Ibu Alya.
“Kalian sudah lama kenal dengan Dafa,” tanya Pak Rangga membuka pembicaraan.
“Sudah Om,” jawab Muti kikuk. “Saya sudah 1 tahun kenal dengan Dafa.” lanjut Muti.
“Saya kenal kak Dafa satu setengah tahun lalu Om,” jelas Zahra lembut.
“Kenal Dafa dimana? Kalian berbeda jurusan bukan dan berbeda lokasi kampus juga.” lanjut Pak Rangga ramah tapi dengan gesture Pak Rangga mampu membuat orang terintimidasi dengan beliau.
Muti dengan kikuknya dan canggung menjawab pentanyaan Pak Rangga.
“Saya dikenalkan Zahra, Om,” kata Muti akhirnya.
“Berarti Zahra duluan yang kenal Dafa!”
“Ayah kayak mewawancara karyawan baru aja.” sahut Ibu Alya.
“Iya ihh, ayah mau jadiin mereka karyawan di hotel ayah tuh Bun. Sambil menyelam minum air.” timpal Dafa.
“Nggak apa-apa tante, kami senang dengan pertanyaan Om sebagai tanda kami diterima dengan hangat dalam keluarga ini.” ucap Zahra. “Saya kenal Kak Dafa ketika saya pertama kali datang ke Bandung. Kak Dafa dengan senang hati membantu saya mengantarkan saya menuju kampus Unpad Jatinangor. Setelah itu kami sering berdiskusi dan bertukar pikiran.” jelas Zahra.
“Nggak nyangka anak Bunda baik juga.” sindir Ibu Alya.
“Jadi Bunda menggagap Dafa kurang baik selama ini.” rajut Dafa.
“Tuh manjanya keluar.” ucap Ibu Alya.
Sungguh beruntungnya Kak Dafa mempunyai keluarga yang hangat seperti ini. Andai ayah masih ada…., pikir Zahra.
“Kak Dafa teman yang sangat baik.” ucap Zahra akhirnya.
“Asikkk, ada yang belain.” ucap Dafa.
“Memang kamu berasal darimana?” tanya Pak Rangga.
“Kalimantan, Yah.” sahut Dafa.
“Yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Sejak kapan jadi juru bicara Zahra?” canda Bu Alya.
Wajah Muti terlihat cemberut. Rasa cemburu Muti mulai timbul terhadap Zahra. Ia mampu membuat orangtua Dafa bersikap hangat kepadanya, sedangkan dengannya, ayah dan ibu Dafa seolah-olah mau memakannya.
“Saya asli Palembang, tapi saya dibesarkan di Bali!” ceroros Muti. Ntah darimana timbul keberanian itu, ia memotong pembicaraan Ibu Alya.
Dengan bijaknya ibu Alya berkata, “Alhamdulillah kami masih ingat cerita kamu tentang keluarga kamu ketika kita pertama bertemu waktu di Bandung itu. Kamu anak bungsu dari pengusaha resto terkenal, bukan Indonesia saja yang menjadi cabang resto keluarga kamu tapi juga luar negeri, putri bungsu keluarga Alatas.”
Merah padamlah raut wajah Muti. Ia ingin mengabil hati orangtua Dafa, tapi malah sebaliknya.
Zahra menolah kearah Muti sekilas. Ia sadar sahabatnya itu merasa malu terhadap sikapnya barusan. Namun, Dafa tidak sadar dengan perubahan Muti karena memang dari tadi Dafa terlibat percakapan tapi dia sama sekali tidak melihat, ia fokus pada acara yang ditontonnya, walau ia menyahut omongan kami.
Zahra berinisiatif mengembalikan suasana, “Saya dilahirkan dan dibesarkan di desa kecil di Kalimantan Selatan. Ayah saya asli Sumatera Barat, sedangkan ibu asli desa tersebut.” jelas Zahra lembut.
“Jadi kamu perantahu, SubhanAllah.” kata Pak Rangga.
“Zahra itu gadis tangguh, Yah!” timbal Dafa.
“Dafa tidak boleh seperti itu memotong pembicaraan orang. Tidak baik sikap seperti itu nak.” nasehat Ibu Alya.
Abislah Muti, ia merasa tersindir dengan ucapan Ibu Alya barusan. Semakin tak karuan sikap Muti. Zahra sepenuhnya sadar dengan perubahan Muti, tetapi ia sadar, ia harus tetap berada disini ruang ini untuk menghormati tuan rumah yang sedang menanyakan tentang asal usulnya.
“Orangtua kamu bekerja dimana?” lanjut Pak Rangga.
“Almarhum Ayah dulunya seorang guru matematika di Madrasah Aliyah. Ibu seorang guru SD.”
“Maaf, pertanyaan Om menginggatkan kamu masa lalu.” ucap Pak Rangga dengan sedikit rasa bersalah.
“Oh tidak apa-apa Om, Ayah sudah berada di tempat yang terbaik.”
“Orangtua kamu sungguh luar biasa mendidik kamu Zahra.” ucap Ibu Alya.
“Terimakasih Tante.” Ucap Zahra tulus.
“Kamu berapa bersaudara?” Tanya Ibu Alya.
“Saya anak tunggal tante.”
“Kamu berhijab dari kapan?” lanjut Ibu Alya. “Maaf jika tante banyak tanya.”
“Oh tidak apa-apa tante, dengan senang hati saya menjawabnya. Alhamdulillah Ayah dan Ibu mengajarkan saya berhijab semenjak saya berumur 10 tahun.”
SubhanaAllah” ucap Ibu Alya.
Sesekali Zahra melirik kearah Muti, ia merasa semakin tak karuan. Zahra harus berpikir untuk menyelamatkan sabahatnya dari situasi itu. Ia melirik ke jam dinding, pukul 10.00 WIB. Pamit tidur, pikirnya.
“Maaf Om, Tante, saya sungguh senang berbincang-bincang dengan Om dan Tante, tetapi seperti sudah malam. Boleh kami undur diri untuk istirahat?” tanya Zahra sopan.
Spontan Ibu Alya melihat jam dinding yang ada di depannya. “Pukul 10.00 WIB, wah tidak terasa sudah begitu malam, saking asiknya ngombrol. Maaf kami telah mengganggu waktu istirahat kalian. Besok pagi-pagi kalian harus ke kantor berita.” ucap Ibu Alya menyesal.
“Tidak apa-apa Om, Tante. Kami undur diri dulu.” pamit Zahra sopan. Ia berdiri disusul dengan Muti. “Mari Kak Dafa, kami istirahat duluan.”
“Oke. Good night.”
Zahra dan Muti menuju kamar tamu yang mereka tempati. Tak lama kemudian Pak Rangga, Ibu Alya, dan Dafa menuju kamar mereka.

Kejadian itu lah yang menjadi penyebab kecemburuan Muti setiap Dafa dekat dengan Zahra.
“Zahra?” sapa seorang gadis.
Ia tersenyum kepada gadis itu.
“Kamu ngapain disini? Bukannya kamu tinggal di daerah Jatos?” tanya gadis itu.
Zahra hanya tersenyum samar.
“Itu koper kamu? Kamu diu....” gadis itu tidak melanjutkan perkataannya.
            “Le, di daerah ini ada kost-kostan cewek yang kosong dan harganya murah nggak?” tanya Zahra.
            “Kostan aku ada kamar kosong sih tapi kecil banget. Sangat berbeda dengan apartemen Muti,” jelas Lea.
            “Nggak apa-apa, lagian uangku juga nggak cukup bayar kostan yang luas,” ucap Zahra.
            “Ya udah kalau gitu. Kamu bisa ikut sama aku.”
            Allah Maha Penolong, begitulah janji-Nya. Disaat kesusahan Zahra mencari kostan, Allah mempertemukan ia dengan Lea, bukanlah kebetulan tapi skenario Allah yang sedang bermain.

***

            Sebulan berlalu.
            Zahra sekarang tinggal di tempat kostan sederhana di daerah Sukawening. Ia beruntung mendapatkan teman kostan yang baik terutama Lea. Awalnya Zahra merasa Lea tidak suka dengannya tapi setelah saling mengenal selama sebulan ini  teman yang sangat menyenangkan.
            Hari-hari yang ia lalui di kampus sangat berat. Beberapa pasang mata memandang jutek kepadanya, terutama teman-teman Muti tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Cobaan yang dihadapi Rasul lebih berat daripada yang diterimanya. Ia hanya perlu bersama hingga mereka bosan. Sejak percakapan ia dengan Muti hari itu, Zahra sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Dafa maupun bertemu dengan Dafa.
            “Ra, ke kantin yuk?” ajak Lea seusai mereka kuliah.
            “Yuk,” jawab Zahra merangkul lengan Lea.
            “Ra. Kamu nggak risih dengan tatapan anak-anak ke kamu?” tanya Lea saat mereka sudah tiba di kantin.
            “Em.... Risih sih tapi aku harus apa? Kalau dijelaskan mereka juga bakal nggak percaya. Aku harus bersabar menunggu mereka bosan sendiri.”
            “Assalamu’alaikum,” sapa seorang lelaki menghampiri mereka.
            Zahra dan Lea mengangkat kepalanya memandang ke arah suara.
            “Wa’alaikusalam,” jawab mereka bersamaan.
            “Kak Dafa? Ngapain kesini?” tanya Zahra.
            “Mau ketemu kamu,” ucap Dafa santai.
            Zahra memandang sekeliling. Ia tidak ingin orang-orang semakin salah sangka kepadanya.
            “Kak....” ucap Zahra hendak mengusir Dafa.
            “Oh... Jadi sekarang pacaran udah mulai terang-tengan!” ucap Muti kasar menghampiri mereka.
            Zahra berdiri hendak menenangkan Muti.
            “Muti, semuanya tidak seperti yang kamu kira Muti. Aku nggak ada apa-apa dengan kak Dafa,” jelas Zahra. “Kak Dafa kesini untuk ketemu kamu. Iya kan kak?” ucap Zahra memandang Dafa memohon.
            Ia tidak ingin terjadi keributan.
            Muti tertawa. “Oh.. Jadi kamu udah pintar berbohong. Tampang aja yang alim tapi kelakukannya......” ucap Muti kasar.
            “Muti! Jaga ucapanmu! Kamu tidak pantas berkata seperti kepada Zahra. Ia tidak tahu apa-apa,” ucap Dafa meninggikan suaranya.
            “Bela! Bela aja terus. Apa yang kamu kasih ke Dafa ah? Badan kamu?” tuduh Muti.
            “Muti!! Jaga ucapan kamu!!” bentak Dafa.
            “Berapa kamu dikasih Dafa? Satu juta, dua juta atau sepuluh juta?” tanya Muti meremehkan Zahra.
            Zahra sakit, bukan fisiknya tapi hatinya sakit dituduh oleh orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
            Dafa sangat marah. Ia ingin sekali menampar Muti tapi ia tidak ingin menyakiti perempuan. Akhirnya ia melampiaskan kemarahan dengan mendendang meja. Beberapa detik kemudian, ia menggapai lengan Zahra, membawa gadis itu menjauh.

            Kiara Payung, daerah yang terletak di bawah kaki gunung Manglayang tepatnya berada di atas Universitas Padjadjaran. Dafa berinisitaif mengajak gadis itu kesini karena  Kiara Payung, tempat yang sangat indah pemandangannya, cocok untuk menenangkan diri. Dafa menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Hamparan kebun jagung membentang dihadapan mereka. Disini, kita dapat melihat daerah Jatinangor dan sekitarnya, Rancaekek dengan deretan pabrik-pabriknya, Gunung Geulis yang berseberangan dengan Gunung Manglayang.
            “Turun yuk, Ra?” ajak Dafa.
            Tanpa berkata Zahra mengikuti Dafa turun dari mobil. Ia sama sekali belum bicara semenjak tragedi di kantin Fakultas Ilmu Komonikasi. Sekitat 10 menit mereka berada dalam diam.
            “Makasih Kak,” ucap Zahra akhirnya.
            “Maaf ya,” ucap Dafa.
            Zahra tersenyum mendengar ucapan Dafa.
            “Disaat seperti ini kamu masih bisa tersenyum Ra, hebat kamu.”
            “Aku pernah merasakan yang lebih menyakitkan dari ini kak.”
            “Ya ya.”
            “Kakak putus sama Muti?” tanya Zahra.
            Dafa mengangguk.
            “Kenapa?” tanya Zahra.
            “Muti bukan wanita yang cocok buat aku.”
            “Tapi Kak, apa semua benar gara-gara aku?”
            “Bukan Zahra. Kamu tidak salah apa-apa. Boleh aku jujur?”
            Zahra tersenyum menandakan iya.
            “Aku lega Ra. Ayah dan Bunda memang tidak pernah setuju aku pacaran dengan Muti. Mereka ingin aku mendapatkan perempuan yang bisa menghargai diri mereka sendiri Ra, perempuan yang berhijab dan santun perilakunya.” Dafa terdiam sejanak dan melanjutkan perkataannya, “Walaupun Ayah dan Bunda tidak pernah secara langsung mengatakan mereka tidak setuju hubunganku dengan Muti, tapi setiap aku membicarakan Muti, mereka selalu berkata ‘Rencana Allah kita tidak tahu nak, kami selalu berdoa kamu mendapatkan perempuan yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW”
            “Kakak orang baik dan pasti mendapatkan perempuan yang baik. InsyaAllah.” ucap Zahra tulus. “Kakak nggak kuliah?”
            “Kalau kuliah, nggak mungkin aku kesini Ra?” ucap Dafa sambil bercanda. “Justru kamu yang bolos.” lanjut Dafa.
            Zahra melirik jam tangannya. Pukul 15.30, telat pikirnya. “Astagfirullah, mati aku, pelajaran ibu Rina lagi.” ucap Zahra panik.
            “Sekali-kali menjadi mahasiswi bandel.” canda Dafa.
            “Ini matkul ibu Rina, pasti aku introgasi.”
            “Kayak polisi aja dosen kamu.”
            “Ibu Rina kan memang terkenal seperti itu kak, bahkan bukan mahasiswa Fikom saja yang kenal kegalakan beliau, hampir seluruh kampus.”
            “Nanti kamu ngeles aja, mahasiswi teladan kayak kamu pasti dosen percaya.”
            “Dosa!” ucap Zahra. “Kita turun yuks, sudah Ashar.”






             





Senin, 02 Januari 2017

Zahra - Bab 2

                                                                          Dua

          Jejeran rak dipenuhi buku-buku tersusun rapi.  Ratusan pemikiran dan penelitian ilmuan terekam indah diatas kertas. Benar! Buku adalah jendela dunia. Para mahasiswa tengah asik dengan kegiatanya masing-masing. Ada yang asik dengan buku bacaannya. Ada yang tenggelam dengan referensi skripsi beserta laptop di depannya. Ada yang asik dengan bacaan majalah bahkan, ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pedekate. Hening! Sesekali terdengar suara balikan buku serta keyboard laptop yang dipencet oleh pemiliknya. Ya, begitulah suasana perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi.
            Ia berdiri di antara deretan rak buku sejarah. Sejarah adalah bacaan favoritnya. Baginya, sejarah bukan saja masa lalu tapi sejarah adalah bukti eksistensi manusia. Ia memutuskan mengambil buku sejarah Minangkabau. Ia tersenyum sekilas, ‘saatnya aku menggenalmu ayah’, batinya. Ia meminjam buku tersebut karena ayahnya adalah asli Minangkabau. Ia mendengar cerita dari ibunya, semenjak menikah dengan ibu, ayah tak pernah pulang bahkan membahas tentang minangkabau. Ia hanya tau penikahan ayah dan ibu tidak direstui oleh pihak keluarga ayah karena ibu berasal dari keluarga sederhana dari pedalaman Kalimantan. Pertemuan ayah dan ibu karena ayah adalah seorang pengajar muda yang mengikuti program guru untuk daerah terpencil. Hingga akhirnya mereka menikah dan mereka memutuskan untuk tinggal dengan sederhana di desa ibunya.
            Ia menggambil buku tersebut dan berjalan ke meja. Ia berpapasan dengan dosen setengah baya namun masih terlihat sangat cantik. Dosen itu adalah ibu Rina, salah satu dosen jurnalistik.
            “Zahra, kamu sudah menghubungi nomor di kartu nama yang saya kasih?” tanya ibu Rina.
            “Astagfirullah.” Ia baru teringat kartu nama yang diberikan Muti beberapa hari yang lalu. Ia hanya menyimpan kartu nama itu ke dalam agendanya. “Maaf bu, belum saya hubungi. Nanti sehabis makan siang saya hubungi. Kalau boleh saya, siapa yang harus saya hubungi itu?” kata Zahra sopan.
           “Agung! Dia mahasiswa program spesialis fakultas kedokteran. Ia membutuhkan bantuanmu.” jelas bu Rina.
            “Bantuan saya? Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi. Saya baru tingkat dua, sedangkan beliau seorang mahasiswa spesialis. Apa ibu tidak salah?” tanya Zahra heran.
           “Tidak! Kamu yang paling tepat untuk membantunya. Saya sudah merekomendasikanmu pada Agung.”  jawab bu Rina tegas.
            “Maaf bu, bantuan seperti apa yang beliau butuhkan?”
            “Kamu akan tahu setelah menghubunginya?”
            “Baik bu.”
          Ibu Rina memang dosen yang sangat tegas di kampus. Terkenal akan kedisiplinannya. Sebagian besar mahasiswa takut kepadanya, bahkan cenderung menghindar untuk berurusan dengan beliau.
            Zahra sebenarnya memang sedikit takut bila menghadap beliau. Semenjak pertama kuliah ibu Rina memang selalu menyuruh Zahra. Ia menyuruh untuk mengumpulkan tugas-tugas temannya, bahkan Zahra adalah penerima informasi tentang kehadirannya di kelas, maupun tugas mata kuliahnya untuk disampaikan kepada teman-temannya.

            Cacing diperut Zahra sudah mulai bernyanyi. Ah iya, ia belum makan siang. Ia menyusuri koridor menuju kantin.
Kantin begitu ramai, ia melirik disekitarnya. Oh God, tidak ada bangku kosong. Ia membawa nampan untuk makan siangnya. Ia terus mencari-cari bangku kosong. Ketika ia memandang ke pojok kanan kantin, Muti melambaikan tangan kepadanya mengajak untuk bergabung. Muti duduk bersama dua temannya, Zahra mengenalnya sebagai Nevan dan Arga. Nevan dan adalah mahasiswa jurusan manajemen komunikasi, sedangkan Arga adalah mahasiswa jurusan brokesting.
Sebenarnya Zahra enggan untuk bergabung dengan mereka. Ia tahu bahwa Nevan menyukainya, sudah beberapa kali Nevan menyatakan cinta kepadanya tapi selalu ditolaknya, tetapi lelaki itu tidak pernah bosan untuk mengejarnya. Ia terpaksa harus duduk disana karena tak ada pilihan lain.
“Silahkan tuan putri” kata Nevan sambil menarik kursi untuknya. Sebetulnya kursi kantin itu tak perlu ditarik, tapi itulah Nevan, ia selalu berusaha untuk menarik perhatian Zahra.
“Assalamu’alaikum” kata Zahra singkat.
“Opssss…. Lupa. Wa’alaikumsalam.” kata Nevan kemudian.
“Ra, kamu kemana aja sih? Tadi pagi tiba-tiba pas aku bangun, kamu udah nggak ada di apartemen. Tadi habis kelas langsung menghilang.” tanya Muti.
Dalam hati Zahra bersyukur, sahabatnya telah kembali bersikap normal kepadanya, seolah-olah kejadian tadi malam tidak pernah terjadi.
Zahra tersenyum dan berkata, “Seperti biasa, my favorite place.”
“Dimana tuh Ra?” tanya Nevan tertarik.
Zahra tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum.
“Ah Ra, kakanda Nevan penasan tuh Ra, kalau nggak dikasih tau bisa nggak tidur dia ntar malam.” ceroros Arga.
Nevan menyikut Arga.
“Auuuu, sakit tau!”
Zahra hanya tersenyum melihat kelakuan Arga dan Nevan.
“Lo mau tau cuy?” tanya Muti ke Nevan.
“Ah lo, Muti, kayak nggak tau Nevan aja, pasti dia mau tau lah. Dia tuh cuma malu-malu kucing.”
“Kalau lo mau nyari dia, cari aja di perpus, kalau nggak ada lo cari aja tuh di Arboretum, pasti lo menemukan si tuan putri.” jelas Muti.
Zahra melirik Muti untuk jangan memberitahu kebiasaanya. Tapi dasar Muti, ia memang senang menjodohkan Zahra.
Muti berdiri menarik tangan Arga. “Ya, anterin gue ke favorite deh.” Favorite adalah toko yang menjual alat-alat tulis yang teletak di gerbang kampus. Ia sengaja mengajak Arga untuk membiarkan Zahra dan Nevan agar mempunyai waktu bersama.
Sepeninggalan Muti dan Arga. Nevan memanfaatkan waktunya bersama Zahra. Selama ini Zahra selalu menghindar berdua dengannya. Sekarang Zahra tidak ada alasan untuk menghindari, pikir Nevan. Zahra melirik jam ditanganya, 13.00 WIB, ia ada kelas jam 3 sore, berarti 2 jam lagi. Pamitan untuk sholat? Ah, ia sudah sholat sebelum ke kantin. Bukan Zahra namanya, yang hanya pasrah dengan keadaan.
Oh… Ia teringat jika ia harus menghubungi nomor yang diberikan ibu Rina. Itu tak mengulur-ulur waktu lagi. Ia berpikir itu adalah cara yang terbaik agar Nevan tidak terlalu banyak bertanya dan bercerita. Ia mengeluarkan kartu nama yang tersimpan di agendanya. Ia mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetik pesan singkat.

Salam.
Selamat siang, benar ini dengan pak Agung?
Saya Zahra, saya diminta ibu Rina untuk menghubungi bapak. Kata beliau bapak membutuhkan bantuan saya, bantuan seperti apa yang bapak butuhkan dari saya?
Terimakasih.
Zahra.

Zahra meletakkan telepon genggamnya di atas meja. Sementara itu, Nevan terus saja menanyakan yang berhungan dengannya, sembari mencari perhatian. Zahra hanya mendengarkan dengan pasrah. Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering. Ia menarik nafas lega, setidaknya ia bisa sejenak memberhentikan Nevan untuk bertanya tentangnya. Ia mengmbil ponsel nya, di layar Hp tersebut muncul nomor yang baru ia kirimin pesan. Ia memencet tombol warnah hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
“Halo” kata Zahra.
“Halo, Selamat siang.” sapa seseorang diseberang sana. “Terimakasih telah menghubungi saya. Saya Agung M. Ikhsan.” suara itu terdengar ramah, berwibawa, tegas, dan sopan.
“Selamat siang, saya Zahra. Ibu Rina meminta saya untuk menghubungi anda, beliau bilang, anda membutuhkan bantuan saya. Bantuan seperti apa yang bisa saya berikan kepada anda?” Tanya Zahra ramah.
“Sebaiknya kita membicarakan ini tidak melalui telepon. Kapan mbak Zahra ada waktu untuk bertemu dengan saya?”
Zahra tampak berpikir, “Dalam minggu ini sepertinya saya sudah memiliki agenda. Bagaimana kalau Sabtu depan?”
“Ohhh, begitu lama sekali, tidak ada waktu setidaknya 15 menit untuk bertemu dengan saya?”
“Kalau bapak tidak keberatan, hari ini saya mempunyai waktu kosong sampai jam 3 sore nanti….” belum sempat Zahra menjelaskan, perkataannya sudah dipotong.
“Oke, saya bisa. Dimana saya bisa menemui anda?” suaranya terdengar senang dan antuasias.
“Di kampus saya, saya sedang berada di kantin Fikom. Bapak bisa menemui saya disini.”
“10 menit lagi saya sampai disana.” Sambungan telepon langsung dimatikannya.
Nevan hanya terheran melihat Zahra. Ia ingin tau dengan siapa Zahra berbicara.
“Siapa Ra?” tanyanya penasaran.
“Mahasiswa spesialis kedokteran.” jawab Zahra singkat.
“Ada apa kamu sama dia?” tanya Nevan penasaran.
“Ada urusan.”
“Ya, urusan apa?” nada suara itu sedikit meninggi. Sehingga orang disebelah mereka memandang kepada mereka.
“Bisa pelankan suaramu sedikit!” pinta Zahra.
“Sorry Ra, tapi perasaanku….”
Belum sempat Nevan melanjutkan pembicaraanya langsung dipotong oleh Zahra.
“Sekali aku minta maaf Nevan. Kamu sudah tahu jawaban aku kan? Lebih baik kita berteman saja Nevan. Aku harap kamu mengerti Nevan. Banyak gadis diluar sana yang lebih baik dari aku.”
“Tapi Ra…”
“Nevan, please….!!”
Nevan masih saja meyakinkan Zahra. Percakapan mereka terhenti ketika muncul seorang lelaki. Lelaki itu kira-kira berumur 25 tahun, wajahnya tirus, tingginya kira-kira 180 cm, berpakaian rapi, rambut hitam kecoklatan yang tertata rapi, matanya bening, menggunakan kacamata minus, kaca mata itu tidak membuatnya terlihat culun tapi justru membuat ia terlihat dewasa.
“Permisi, saya mencari Zahra Putri Salsabilla. Apakah anda mengenalnya ?” tanyanya ramah.
“Oh, anda pasti Bapak Agung M. Ikhsan Dinata, saya Zahra.” kata Zahra ramah, ia bangkit menyambut kedatangan Agung.
“Selamat siang Zahra, perkenalkan saya Agung M. Ikhsan Dinata.” Ikhsan memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan tanda perkenalan. Zahra tidak menjabat tangannya, ia hanya menangkupkan kedua tangan di dadanya, salam seharusnya salam antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram.
“Selamat siang, senang berkenalan dengan bapak Agung.”
“Panggil saya Ikhsan saja, tidak usah ada tambahan bapak, saya belum setua itu.” katanya sambil tertawa ringan.
“Tidak sopan sepertinya saya memanggil anda dengan nama. Emmm, karena anda adalah mahasiswa spesialis kedokteran bagaimana kalau saya panggil dokter saja.”
“Saya disini tidak prektek, panggil saja mas saja.”
“Baiklah. Oh iya, perkenalkan ini teman saya, Nevan.” kata Zahra sambil menunjuk kearah Nevan.
“Nevan” kata Nevan sambil mengulurkan tangannya ke Ikhsan. Telihat jelas ketidaksukaan Nevan akan kehadiran Ikhsan.
Ahh, Ikhsan menyadarinya ketika Nevan menjabat tanganya dengan kasar. Benar, itu mendakan ketidaksukaan Nevan terhadap sosok Ikhsan. Lelaki ini pasti mempunyai perasaan khusus kepada gadis ini? Pikir Ikhsan. Ia bersikap tenang, ia sama sekali tidak terdiskriminasi dengan sikap Nevan. Ia kemudian berkata, “Maaf mengganggu makan siang kalian. Saya ada sedikit keperluan dengan Zahra.” jelasnya.
“Oh tidak apa-apa pak, ehh mas.. Boleh saya tau mas butuh bantuan saya apa?” tanya Zahra.
“Sebenarnya tidak enak kalau dibicarakan disini, tapi berhubung kita hanya bisa bertemu hari ini, saya langsung saja tidak masalah kan?”
“Oh tidak masalah mas. InsyaAllah saya akan membantu mas semampu saya.”
“Begini Zahra, saya membutuhkan seorang penulis untuk penelitian saya. Saya kurang mengetahui tentang dunia penulisan dan jurnalistik. Sebelumnya saya meminta Ibu Rina untuk membantu saya dalam penulisan hasil penelitian saya. Berhubung beliau sibuk, beliau merekomendarikan kamu untuk membantu saya dalam penulisan hasil penelitian tersebut.”
“Ohhh, tapi saya bukanlah seorang propesional. Cara penulisan dan tulisan saya tidak sebaik Ibu Rina.”
“Saya percaya tulisan kamu pasti bagus, karena Ibu Rina sendiri yang merekomendasikan kamu.”
“Tapi…..”
“Ayolah Zahra, ini adalah penelitian untuk tesis saya. Saya harus menerbitkan artikel hasil penelitian saya. Saya membutuhkan seorang jurnalis untuk menulis menjadikan sebuah artikel.” mohon Ikhsan.
Nampak Zahra berfikir sejanak, sejujurnya ia tidak yakin akan bisa membantu Ikhsan dengan baik. Ia merasa dirinya belum bisa menghasilkan tulisan yang bagus sehingga pembaca tertarik membaca tulisannya. Namun, ia tidak mungkin menolak pemintaan Ibu Rina untuk membantu Ikhsan.
 “Baiklah. Saya akan membantu semampu saya. Mas bisa mengirimkan hasil penelitiaan ke email saya.” kata Zahra akhirnya. Ia mengambil note di dalam tasnya dan menulis alamat emailnya di kertas itu. “Ini alamat email saya,  mas bisa kirim hasilnya.”
“Baiklah, akan segera saya kirim. Oh iya, soal fee bagaimana?” tanya Ikhlas sungkan.
Zahra tersenyum dan berkata “Tidak usah dipikirkan mas, saya ikhlas membantu mas. Mudah-mudahan tulisan saya bisa diterima penerbit.”
“Oh tidak bisa begitu Zahra. Saya tidak mau berhutang budi sama orang.”
“Itu bukan utang budi mas. Anggap saja, mas membantu saya mengembangkan kemampuan saya dalam penulisan.”
“Kamu yang membantu saya, jadi kamu berhak menerima imbalan. Saya tidak mau menerima bantu dengan cuma-cuma.”
“Kalau begitu berikan saja imbalan atas jasa saya kepada orang yang lebih membutuhkan.” kata Zahra akhirnya.
“Kalau begitu mau kamu, baiklah. Saya tidak bisa lama-lama, saya harus bertemu dengan dengan dosen saya. Terimaksih atas waktunya. Saya permisi dulu.” kata Ikhsan sambil pamitan.
“Kembali kasih” kata Zahra sambil tersenyum ramah.
“Maaf telah mengganggu waktu anda dengan Zahra.” kata Ikhlas kepada Nevan. Nampak kedua pria tersebut saling tatap. Mereka saling memberikan tatapan tajam. Zahra mengerti tatapan mata mereka, tatapan yang menandakan ketidaksukaan antara satu dan lainnya.
Ponsel Zahra kembali berbunyi, ‘pesan masuk‘ batin Zahra. Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan itu. Nomor tak di kenal, ia menarik nafas. Ia sudah bisa menebak, pesan misterius itu lagi.
‘Why do you give all people your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’.
Zahra menyapu pandangan kesekitarnya. Ia yakin pengirim pesan misterius itu ada disekelilingnya. Nihil! Tak ada yang aneh, semua orang sibuk dengan aktifitasnya.

Dafa berdiri dipintu kantin. Ia telah berada disitu dari beberapa menit yang lalu. Hanya bisa tepaku melihat ketegangan antara Nevan dan seorang lelaki berkaca mata. Ia yakin Zahra merasa terganggu dengan sikap Nevan. Siapa lelaki asing yang bersama Zahra? Lelaki itu terlihat dewasa, rapi, bahkan terlihat sudah mapan. Lelaki itu mampu mengitimidasi lawan bicaranya. Siapa lelaki itu? pikir Dafa. Dafa berjalan kearah Zahra dan Nevan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” jawab Zahra lembut kemudian menoleh ke arah datangnya suara.
Dafa menarik kursi di sebelah Nevan. “Lelaki tadi siapa Ra?” tanya Dafa penasaran.
“Residen kak, kenalan bu Rina, beliau meminta aku membantunya dalam penulisan hasil penelitiannya untuk diterbitkan menjadi sebuah artikel.” jelas Zahra singkat.
“Cakep loh ra, boleh tuh Ra.” goda Dafa.
Sementara itu, Nevan terlihat sangat jengkel dengan perkataan Dafa. “Cakep apaan? Terlihat tua begitu” katanya jutek.
Come on man, itu mapan bukan tua. Calon spesialis, cakep, perfect!!” balas Dafa.
Astagfirullah. Udah ya bahas itu. Oh ya, kakak ngapain kesini? Mau ketemu Muti? Dia lagi ke favorite sama Arga.” kata Zahra untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku kesini mau ketemu kamu.” kata Dafa sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Dafa menyerahkan bungkusan itu kepada Zahra.
“Apa ini kak?” tanya Zahra heran.
“Dari Bunda, buka aja. Kemaren aku lupa membawanya.”
Zahra membuka bungkusan tersebut. Sebuah gamis bewarna pink baby serta sebuah kerudung yang sangat indah. Mata Zahra menjadi berkaca-kaca melihat gamis serta kerudung pemberian Ibu Alya, ibunya Dafa.
“Kak ini….” Zahra tak mampu meneruskan perkataannya. Ia ingat sekali itu gamis yang sangat diinginkannya. Gamis yang ia lihat di majalah yang ia beli dua minggu yang lalu. Gamis itu terdapat kerutan di bagian pinggang kanan serta  dihiasi beberapa bunga mawar merah yang menonjol dikerutan tersebut sehingga terkesan anggun. Kenapa Ibu Alya tahu ia menginginkannya.
“Kamu pasti bertanya kenapa Bunda bisa tahu?” tanya Dafa.
Zahra hanya mengganguk. Ia masih terharu dengan kado yang diterimanya.
“Ingat kamu ninggalin majalah kamu di mobil aku. Bunda gak sengaja melihat majalah itu, waktu aku ke Jakarta minggu lalu. Bunda tanya di majalah siapa? aku jawab itu punya kamu. Bunda nggak sengaja membaca tulisan kamu dihalaman baju itu. Waktu aku mau balik ke Bandung, Bunda titip itu buat kamu.” jelas Dafa.
“Makasih,” ucap Zahra parau.
“Bukan sama aku. Kamu telfon aja Bunda, Bunda pasti akan sangat senang”, ucap Dafa sambil merapikan rambutnya. “Muti masih lama?” tanya Dafa kemudian.
Zahra memandang Dafa sejenak. Ekspresi Dafa sangat sulit diartikan, apa Dafa dan Muti sudah berbaikan?
“Mungkin sebentar lagi?” jawab Zahra.
Dafa bangkit dari duduknya. Ia hendak pamit. “Aku pamit, Rian nunggu di parkiran,” ucap Dafa.
Zahra menghela nafasnya. Dafa pasti belum berbaikan dengan Muti. “Nggak nunggu Muti dulu?” tanya Zahra parau.
Dafa tersenyum. Senyum Dafa terlihat terpaksa. “Belum waktunya,” ucap Dafa. Dafa melirik ke arah Nevan, “Awas kalau Zahra sampai lecet!” ucap Dafa sangar. “Lo tau kan akibatnya untuk keluarga lo?” ancam Dafa.
Raut muka Nevan berubah seketika. Ia sangat ketakuan, ia tahu ancaman Dafa bukanlah ancaman sembarangan.
“Assalamu’alaikum,” pamit Dafa.
“Wa’alaikumsalam,” balas Zahra.

Dari kejahuan seorang gadis berdiri mematung menyaksikan kejadian itu. Ia sudah lama berdiri menyaksikan pemberikan kado dari Dafa untuk Zahra. Mata gadis itu sudah mulai memerah. Setan pun mulai menguasai tubuhnya. Ia terbakar cemburu. Ia menggepalkan kedua tangannya.