Dua
Jejeran rak dipenuhi buku-buku tersusun rapi. Ratusan pemikiran dan penelitian ilmuan terekam indah diatas kertas. Benar! Buku adalah jendela dunia. Para mahasiswa tengah asik dengan kegiatanya masing-masing. Ada yang asik dengan buku bacaannya. Ada yang tenggelam dengan referensi skripsi beserta laptop di depannya. Ada yang asik dengan bacaan majalah bahkan, ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pedekate. Hening! Sesekali terdengar suara balikan buku serta keyboard laptop yang dipencet oleh pemiliknya. Ya, begitulah suasana perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi.
Jejeran rak dipenuhi buku-buku tersusun rapi. Ratusan pemikiran dan penelitian ilmuan terekam indah diatas kertas. Benar! Buku adalah jendela dunia. Para mahasiswa tengah asik dengan kegiatanya masing-masing. Ada yang asik dengan buku bacaannya. Ada yang tenggelam dengan referensi skripsi beserta laptop di depannya. Ada yang asik dengan bacaan majalah bahkan, ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pedekate. Hening! Sesekali terdengar suara balikan buku serta keyboard laptop yang dipencet oleh pemiliknya. Ya, begitulah suasana perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi.
Ia berdiri di antara
deretan rak buku sejarah. Sejarah adalah bacaan favoritnya. Baginya, sejarah
bukan saja masa lalu tapi sejarah adalah bukti eksistensi manusia. Ia
memutuskan mengambil buku sejarah Minangkabau. Ia tersenyum sekilas, ‘saatnya
aku menggenalmu ayah’, batinya. Ia meminjam buku tersebut karena ayahnya adalah
asli Minangkabau. Ia mendengar cerita dari ibunya, semenjak menikah dengan
ibu, ayah tak pernah pulang bahkan membahas tentang minangkabau. Ia hanya
tau penikahan ayah dan ibu tidak direstui oleh pihak keluarga ayah karena
ibu berasal dari keluarga sederhana dari pedalaman Kalimantan. Pertemuan
ayah dan ibu karena ayah adalah seorang pengajar muda yang mengikuti program
guru untuk daerah terpencil. Hingga akhirnya mereka menikah dan mereka
memutuskan untuk tinggal dengan sederhana di desa ibunya.
Ia menggambil buku
tersebut dan berjalan ke meja. Ia berpapasan dengan dosen setengah baya namun
masih terlihat sangat cantik. Dosen itu adalah ibu Rina, salah satu dosen jurnalistik.
“Zahra, kamu sudah menghubungi
nomor di kartu nama yang saya kasih?” tanya ibu Rina.
“Astagfirullah.” Ia baru teringat kartu nama yang diberikan Muti
beberapa hari yang lalu. Ia hanya menyimpan kartu nama itu ke dalam agendanya.
“Maaf bu, belum saya hubungi. Nanti sehabis makan siang saya hubungi. Kalau
boleh saya, siapa yang harus saya hubungi itu?” kata Zahra sopan.
“Agung! Dia mahasiswa
program spesialis fakultas kedokteran. Ia membutuhkan bantuanmu.” jelas bu
Rina.
“Bantuan saya? Saya
mahasiswa Ilmu Komunikasi. Saya baru tingkat dua, sedangkan beliau seorang
mahasiswa spesialis. Apa ibu tidak salah?” tanya Zahra heran.
“Tidak! Kamu yang paling
tepat untuk membantunya. Saya sudah merekomendasikanmu pada Agung.” jawab bu Rina tegas.
“Maaf bu, bantuan seperti
apa yang beliau butuhkan?”
“Kamu akan tahu setelah
menghubunginya?”
“Baik bu.”
Ibu Rina memang dosen yang
sangat tegas di kampus. Terkenal akan kedisiplinannya. Sebagian besar mahasiswa
takut kepadanya, bahkan cenderung menghindar untuk berurusan dengan beliau.
Zahra sebenarnya memang
sedikit takut bila menghadap beliau. Semenjak pertama kuliah ibu Rina memang
selalu menyuruh Zahra. Ia menyuruh untuk mengumpulkan tugas-tugas temannya,
bahkan Zahra adalah penerima informasi tentang kehadirannya di kelas, maupun
tugas mata kuliahnya untuk disampaikan kepada teman-temannya.
Cacing diperut Zahra sudah
mulai bernyanyi. Ah iya, ia belum makan siang. Ia menyusuri koridor menuju
kantin.
Kantin begitu ramai, ia melirik disekitarnya. Oh God,
tidak ada bangku kosong. Ia membawa nampan untuk makan siangnya. Ia terus
mencari-cari bangku kosong. Ketika ia memandang ke pojok kanan kantin, Muti
melambaikan tangan kepadanya mengajak untuk bergabung. Muti duduk bersama dua
temannya, Zahra mengenalnya sebagai Nevan dan Arga. Nevan dan adalah mahasiswa
jurusan manajemen komunikasi, sedangkan Arga adalah mahasiswa jurusan
brokesting.
Sebenarnya Zahra enggan untuk bergabung dengan mereka. Ia
tahu bahwa Nevan menyukainya, sudah beberapa kali Nevan menyatakan cinta
kepadanya tapi selalu ditolaknya, tetapi lelaki itu tidak pernah bosan untuk mengejarnya.
Ia terpaksa harus duduk disana karena tak ada pilihan lain.
“Silahkan tuan putri” kata Nevan sambil menarik kursi
untuknya. Sebetulnya kursi kantin itu tak perlu ditarik, tapi itulah Nevan, ia
selalu berusaha untuk menarik perhatian Zahra.
“Assalamu’alaikum” kata Zahra singkat.
“Opssss…. Lupa. Wa’alaikumsalam.”
kata Nevan kemudian.
“Ra, kamu kemana aja sih? Tadi pagi tiba-tiba pas aku
bangun, kamu udah nggak ada di apartemen. Tadi habis kelas langsung
menghilang.” tanya Muti.
Dalam hati Zahra bersyukur, sahabatnya telah kembali
bersikap normal kepadanya, seolah-olah kejadian tadi malam tidak pernah
terjadi.
Zahra tersenyum dan berkata, “Seperti biasa, my
favorite place.”
“Dimana tuh Ra?” tanya Nevan tertarik.
Zahra tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum.
“Ah Ra, kakanda Nevan penasan tuh Ra, kalau nggak dikasih
tau bisa nggak tidur dia ntar malam.” ceroros Arga.
Nevan menyikut Arga.
“Auuuu, sakit tau!”
Zahra hanya tersenyum melihat kelakuan Arga dan Nevan.
“Lo mau tau cuy?” tanya Muti ke Nevan.
“Ah lo, Muti, kayak nggak tau Nevan aja, pasti dia mau
tau lah. Dia tuh cuma malu-malu kucing.”
“Kalau lo mau nyari dia, cari aja di perpus, kalau nggak
ada lo cari aja tuh di Arboretum, pasti lo menemukan si tuan putri.” jelas
Muti.
Zahra melirik Muti untuk jangan memberitahu kebiasaanya.
Tapi dasar Muti, ia memang senang menjodohkan Zahra.
Muti berdiri menarik tangan Arga. “Ya, anterin gue ke
favorite deh.” Favorite adalah toko yang menjual alat-alat tulis yang teletak
di gerbang kampus. Ia sengaja mengajak Arga untuk membiarkan Zahra dan Nevan
agar mempunyai waktu bersama.
Sepeninggalan Muti dan Arga. Nevan memanfaatkan waktunya
bersama Zahra. Selama ini Zahra selalu menghindar berdua dengannya. Sekarang
Zahra tidak ada alasan untuk menghindari, pikir Nevan. Zahra melirik jam
ditanganya, 13.00 WIB, ia ada kelas jam 3 sore, berarti 2 jam lagi. Pamitan
untuk sholat? Ah, ia sudah sholat sebelum ke kantin. Bukan Zahra namanya, yang
hanya pasrah dengan keadaan.
Oh… Ia teringat jika ia harus menghubungi nomor yang
diberikan ibu Rina. Itu tak mengulur-ulur waktu lagi. Ia berpikir itu adalah
cara yang terbaik agar Nevan tidak terlalu banyak bertanya dan bercerita. Ia
mengeluarkan kartu nama yang tersimpan di agendanya. Ia mengambil telepon
genggamnya dan mulai mengetik pesan singkat.
Salam.
Selamat siang, benar ini dengan pak Agung?
Saya Zahra, saya diminta ibu Rina untuk menghubungi
bapak. Kata beliau bapak membutuhkan bantuan saya, bantuan seperti apa yang
bapak butuhkan dari saya?
Terimakasih.
Zahra.
Zahra meletakkan telepon genggamnya di atas meja.
Sementara itu, Nevan terus saja menanyakan yang berhungan dengannya, sembari
mencari perhatian. Zahra hanya mendengarkan dengan pasrah. Tak berapa lama
kemudian ponselnya berdering. Ia menarik nafas lega, setidaknya ia bisa sejenak
memberhentikan Nevan untuk bertanya tentangnya. Ia mengmbil ponsel nya, di
layar Hp tersebut muncul nomor yang baru ia kirimin pesan. Ia memencet tombol
warnah hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
“Halo” kata Zahra.
“Halo, Selamat siang.” sapa seseorang diseberang sana.
“Terimakasih telah menghubungi saya. Saya Agung M. Ikhsan.” suara itu terdengar
ramah, berwibawa, tegas, dan sopan.
“Selamat siang, saya Zahra. Ibu Rina meminta saya untuk
menghubungi anda, beliau bilang, anda membutuhkan bantuan saya. Bantuan seperti
apa yang bisa saya berikan kepada anda?” Tanya Zahra ramah.
“Sebaiknya kita membicarakan ini tidak melalui telepon.
Kapan mbak Zahra ada waktu untuk bertemu dengan saya?”
Zahra tampak berpikir, “Dalam minggu ini sepertinya saya
sudah memiliki agenda. Bagaimana kalau Sabtu depan?”
“Ohhh, begitu lama sekali, tidak ada waktu setidaknya 15
menit untuk bertemu dengan saya?”
“Kalau bapak tidak keberatan, hari ini saya mempunyai
waktu kosong sampai jam 3 sore nanti….” belum sempat Zahra menjelaskan, perkataannya
sudah dipotong.
“Oke, saya bisa. Dimana saya bisa menemui anda?” suaranya
terdengar senang dan antuasias.
“Di kampus saya, saya sedang berada di kantin Fikom.
Bapak bisa menemui saya disini.”
“10 menit lagi saya sampai disana.” Sambungan telepon
langsung dimatikannya.
Nevan hanya terheran melihat Zahra. Ia ingin tau dengan
siapa Zahra berbicara.
“Siapa Ra?” tanyanya penasaran.
“Mahasiswa spesialis kedokteran.” jawab Zahra singkat.
“Ada apa kamu sama dia?” tanya Nevan penasaran.
“Ada urusan.”
“Ya, urusan apa?” nada suara itu sedikit meninggi.
Sehingga orang disebelah mereka memandang kepada mereka.
“Bisa pelankan suaramu sedikit!” pinta Zahra.
“Sorry Ra, tapi perasaanku….”
Belum sempat Nevan melanjutkan pembicaraanya langsung
dipotong oleh Zahra.
“Sekali aku minta maaf Nevan. Kamu sudah tahu jawaban aku
kan? Lebih baik kita berteman saja Nevan. Aku harap kamu mengerti Nevan. Banyak
gadis diluar sana yang lebih baik dari aku.”
“Tapi Ra…”
“Nevan, please….!!”
Nevan masih saja meyakinkan Zahra. Percakapan mereka
terhenti ketika muncul seorang lelaki. Lelaki itu kira-kira berumur 25 tahun,
wajahnya tirus, tingginya kira-kira 180 cm, berpakaian rapi, rambut hitam
kecoklatan yang tertata rapi, matanya bening, menggunakan kacamata minus, kaca
mata itu tidak membuatnya terlihat culun tapi justru membuat ia terlihat
dewasa.
“Permisi, saya mencari Zahra Putri Salsabilla. Apakah
anda mengenalnya ?” tanyanya ramah.
“Oh, anda pasti Bapak Agung M. Ikhsan Dinata, saya Zahra.”
kata Zahra ramah, ia bangkit menyambut kedatangan Agung.
“Selamat siang Zahra, perkenalkan saya Agung M. Ikhsan
Dinata.” Ikhsan memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan tanda perkenalan.
Zahra tidak menjabat tangannya, ia hanya menangkupkan kedua tangan di dadanya,
salam seharusnya salam antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram.
“Selamat siang, senang berkenalan dengan bapak Agung.”
“Panggil saya Ikhsan saja, tidak usah ada tambahan bapak,
saya belum setua itu.” katanya sambil tertawa ringan.
“Tidak sopan sepertinya saya memanggil anda dengan nama.
Emmm, karena anda adalah mahasiswa spesialis kedokteran bagaimana kalau saya
panggil dokter saja.”
“Saya disini tidak prektek, panggil saja mas saja.”
“Baiklah. Oh iya, perkenalkan ini teman saya, Nevan.” kata
Zahra sambil menunjuk kearah Nevan.
“Nevan” kata Nevan sambil mengulurkan tangannya ke
Ikhsan. Telihat jelas ketidaksukaan Nevan akan kehadiran Ikhsan.
Ahh, Ikhsan menyadarinya ketika Nevan menjabat tanganya
dengan kasar. Benar, itu mendakan ketidaksukaan Nevan terhadap sosok Ikhsan.
Lelaki ini pasti mempunyai perasaan khusus kepada gadis ini? Pikir Ikhsan. Ia
bersikap tenang, ia sama sekali tidak terdiskriminasi dengan sikap Nevan. Ia
kemudian berkata, “Maaf mengganggu makan siang kalian. Saya ada sedikit
keperluan dengan Zahra.” jelasnya.
“Oh tidak apa-apa pak, ehh mas.. Boleh saya tau mas butuh
bantuan saya apa?” tanya Zahra.
“Sebenarnya tidak enak kalau dibicarakan disini, tapi
berhubung kita hanya bisa bertemu hari ini, saya langsung saja tidak masalah
kan?”
“Oh tidak masalah mas. InsyaAllah saya akan
membantu mas semampu saya.”
“Begini Zahra, saya membutuhkan seorang penulis untuk
penelitian saya. Saya kurang mengetahui tentang dunia penulisan dan
jurnalistik. Sebelumnya saya meminta Ibu Rina untuk membantu saya dalam
penulisan hasil penelitian saya. Berhubung beliau sibuk, beliau
merekomendarikan kamu untuk membantu saya dalam penulisan hasil penelitian
tersebut.”
“Ohhh, tapi saya bukanlah seorang propesional. Cara
penulisan dan tulisan saya tidak sebaik Ibu Rina.”
“Saya percaya tulisan kamu pasti bagus, karena Ibu Rina
sendiri yang merekomendasikan kamu.”
“Tapi…..”
“Ayolah Zahra, ini adalah penelitian untuk tesis saya.
Saya harus menerbitkan artikel hasil penelitian saya. Saya membutuhkan seorang
jurnalis untuk menulis menjadikan sebuah artikel.” mohon Ikhsan.
Nampak Zahra berfikir sejanak, sejujurnya ia tidak yakin
akan bisa membantu Ikhsan dengan baik. Ia merasa dirinya belum bisa
menghasilkan tulisan yang bagus sehingga pembaca tertarik membaca tulisannya.
Namun, ia tidak mungkin menolak pemintaan Ibu Rina untuk membantu Ikhsan.
“Baiklah. Saya
akan membantu semampu saya. Mas bisa mengirimkan hasil penelitiaan ke email
saya.” kata Zahra akhirnya. Ia mengambil note di dalam tasnya dan menulis
alamat emailnya di kertas itu. “Ini alamat email saya, mas bisa kirim hasilnya.”
“Baiklah, akan segera saya kirim. Oh iya, soal fee bagaimana?” tanya Ikhlas sungkan.
Zahra tersenyum dan berkata “Tidak usah dipikirkan mas,
saya ikhlas membantu mas. Mudah-mudahan tulisan saya bisa diterima penerbit.”
“Oh tidak bisa begitu Zahra. Saya tidak mau berhutang
budi sama orang.”
“Itu bukan utang budi mas. Anggap saja, mas membantu saya
mengembangkan kemampuan saya dalam penulisan.”
“Kamu yang membantu saya, jadi kamu berhak menerima
imbalan. Saya tidak mau menerima bantu dengan cuma-cuma.”
“Kalau begitu berikan saja imbalan atas jasa saya kepada
orang yang lebih membutuhkan.” kata Zahra akhirnya.
“Kalau begitu mau kamu, baiklah. Saya tidak bisa
lama-lama, saya harus bertemu dengan dengan dosen saya. Terimaksih atas waktunya.
Saya permisi dulu.” kata Ikhsan sambil pamitan.
“Kembali kasih” kata Zahra sambil tersenyum ramah.
“Maaf telah mengganggu waktu anda dengan Zahra.” kata
Ikhlas kepada Nevan. Nampak kedua pria tersebut saling tatap. Mereka saling
memberikan tatapan tajam. Zahra mengerti tatapan mata mereka, tatapan yang
menandakan ketidaksukaan antara satu dan lainnya.
Ponsel Zahra kembali berbunyi, ‘pesan masuk‘ batin Zahra.
Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan itu. Nomor tak di kenal, ia menarik
nafas. Ia sudah bisa menebak, pesan misterius itu lagi.
‘Why do you give all people your smile? Your
smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be
crazy’.
Zahra menyapu pandangan
kesekitarnya. Ia yakin pengirim pesan misterius itu ada disekelilingnya. Nihil!
Tak ada yang aneh, semua orang sibuk dengan aktifitasnya.
Dafa berdiri dipintu kantin. Ia telah berada disitu dari
beberapa menit yang lalu. Hanya bisa tepaku melihat ketegangan antara Nevan dan
seorang lelaki berkaca mata. Ia yakin Zahra merasa terganggu dengan sikap
Nevan. Siapa lelaki asing yang bersama Zahra? Lelaki itu terlihat dewasa, rapi,
bahkan terlihat sudah mapan. Lelaki itu mampu mengitimidasi lawan bicaranya.
Siapa lelaki itu? pikir Dafa. Dafa berjalan kearah Zahra dan Nevan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” jawab Zahra lembut kemudian menoleh ke arah
datangnya suara.
Dafa menarik kursi di sebelah Nevan. “Lelaki tadi siapa
Ra?” tanya Dafa penasaran.
“Residen kak, kenalan bu Rina, beliau meminta aku
membantunya dalam penulisan hasil penelitiannya untuk diterbitkan menjadi
sebuah artikel.” jelas Zahra singkat.
“Cakep loh ra, boleh tuh Ra.” goda Dafa.
Sementara itu, Nevan terlihat sangat jengkel dengan
perkataan Dafa. “Cakep apaan? Terlihat tua begitu” katanya jutek.
“Come on man,
itu mapan bukan tua. Calon spesialis, cakep, perfect!!” balas Dafa.
“Astagfirullah.
Udah ya bahas itu. Oh ya, kakak ngapain kesini? Mau ketemu Muti? Dia lagi ke favorite
sama Arga.” kata Zahra untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku kesini mau ketemu kamu.” kata Dafa sambil
mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Dafa menyerahkan bungkusan itu
kepada Zahra.
“Apa ini kak?” tanya Zahra heran.
“Dari Bunda, buka aja. Kemaren aku lupa
membawanya.”
Zahra membuka bungkusan tersebut. Sebuah gamis
bewarna pink baby serta sebuah kerudung yang sangat indah. Mata Zahra menjadi
berkaca-kaca melihat gamis serta kerudung pemberian Ibu Alya, ibunya Dafa.
“Kak ini….” Zahra tak mampu meneruskan
perkataannya. Ia ingat sekali itu gamis yang sangat diinginkannya. Gamis yang
ia lihat di majalah yang ia beli dua minggu yang lalu. Gamis itu terdapat
kerutan di bagian pinggang kanan serta
dihiasi beberapa bunga mawar merah yang menonjol dikerutan tersebut
sehingga terkesan anggun. Kenapa Ibu Alya tahu ia menginginkannya.
“Kamu pasti bertanya kenapa Bunda bisa tahu?”
tanya Dafa.
Zahra hanya mengganguk. Ia masih terharu
dengan kado yang diterimanya.
“Ingat kamu ninggalin majalah kamu di mobil
aku. Bunda gak sengaja melihat majalah itu, waktu aku ke Jakarta minggu lalu.
Bunda tanya di majalah siapa? aku jawab itu punya kamu. Bunda nggak sengaja
membaca tulisan kamu dihalaman baju itu. Waktu aku mau balik ke Bandung, Bunda
titip itu buat kamu.” jelas Dafa.
“Makasih,” ucap Zahra parau.
“Bukan sama aku. Kamu telfon aja Bunda, Bunda
pasti akan sangat senang”, ucap Dafa sambil merapikan rambutnya. “Muti masih
lama?” tanya Dafa kemudian.
Zahra memandang Dafa sejenak. Ekspresi Dafa
sangat sulit diartikan, apa Dafa dan Muti sudah berbaikan?
“Mungkin sebentar lagi?” jawab Zahra.
Dafa bangkit dari duduknya. Ia hendak pamit. “Aku
pamit, Rian nunggu di parkiran,” ucap Dafa.
Zahra menghela nafasnya. Dafa pasti belum
berbaikan dengan Muti. “Nggak nunggu Muti dulu?” tanya Zahra parau.
Dafa tersenyum. Senyum Dafa terlihat terpaksa.
“Belum waktunya,” ucap Dafa. Dafa melirik ke arah Nevan, “Awas kalau Zahra
sampai lecet!” ucap Dafa sangar. “Lo tau kan akibatnya untuk keluarga lo?”
ancam Dafa.
Raut muka Nevan berubah seketika. Ia sangat
ketakuan, ia tahu ancaman Dafa bukanlah ancaman sembarangan.
“Assalamu’alaikum,” pamit Dafa.
“Wa’alaikumsalam,” balas Zahra.
Dari kejahuan seorang gadis berdiri mematung
menyaksikan kejadian itu. Ia sudah lama berdiri menyaksikan pemberikan kado
dari Dafa untuk Zahra. Mata gadis itu sudah mulai memerah. Setan pun mulai
menguasai tubuhnya. Ia terbakar cemburu. Ia menggepalkan kedua tangannya.


