Minggu, 19 Mei 2013

Bismillah, Paris


Namaku Kholisa Nadjla, aku seorang qoriah dan penghafal alquran. Sejak kecil aku sudah ditinggalkan ibuku, beliau telah kembali disisi-Nya ketika melahirkanku, namun sampai sekarang ayahku tidak pernah menikah lagi. Aku dibesarkan dilingkungan pesantren karena ayahku adalah penggurus pesantren tersebut. Namun, setelah dewasa aku tahu bahwa nenekku, orangtua ibu adalah seorang kristen, beliau tinggal di kota yang paling romantis di dunia, Paris. Hari ini tepat usiaku ke 20 tahun, aku mendapat kado dari ayahku sebuah tiket untuk liburan ke kota Paris. Aku sendiri bingung kenapa ayah memberikan izin aku liburan ke kota tersebut.
            “Abi, tiket? Paris?” kataku tak percaya.
            “Iya” dengan santainya ayahku menjawabnya tanpa menghiraukan ekspresi kagetku.
            “Abi tidak bercanda kan?” aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
            Abi hanya tersenyum dengan pertanyaanku. “Putriku, pergilah. Disana kamu akan belajar menjalani hidup yang sebenarnya," ucapnya bijaksana.

                                                                              ***

            Bendara Soekarno-Hatta, 07.00 WIB, saatnya berpisah ayahku, sosok yang selalu menemani hidupku selama 20 tahun ini.
            “Satu bulan lagi, abi menunggumu disini anakku. Bawalah ini...” aku mengambil sebuah tasbih bewarna emas dari ayahku itu. “Sampaikan salam abi kepada nenekmu. Bisikan di telinga nenekmu, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” Air mataku pun mengalir ketika ayah membisikan kalimat itu ditelingaku.

***

            Kehidupan di kota Paris ini berbeda ketika aku berada di pesantren bersama para santri, ustadz, dan ustadzah. Di rumah nenekku sendiri, begitu dekat sekali aku dengan dosa.
            “Nadjla, nenek nyuruh gue ngajak lo keliling kota Paris. Lo siap – siap gih, dan satu lagi pakaian lo jangan kampungan!!!” kata sepupuku Clara yang seumuran denganku.
            “Iya” jawabku singkat.
            Manara eiffel, simbol kota Paris. Sungguh indah, walau hanya bangunan terbuat dari besi, namun ini begitu sungguh sangat indah. Ketika aku menikmati pemandangat kota Paris dipuncak menara. Seorang lelaki menghampiri kami.
            “Salut Clara” mereka cipika – cipiki. Aku hanya 'mengucap' dalam hati melihat saudaraku dengan lelaki yang bukan muhrimnya itu.
Salut Daniel, elle est ma belle-sœur qui vient d’Indonésie.” Kata Clara kepada temannya.
            “Salut, Je suis Daniel. Tu es très belle. Mais pourquoi tu utilises ce habille? C'est très étrange kata lelaki itu. Ntah apa yang dia tanyakan kepadaku, tapi aku yakin dia heran terhadap penampilanku.
            “Elle ne parle pas français” jelas sapupuku.
            “Oh” kata lelaki itu. “Aku Daniel, aku keturunan Indonesia juga ko” jelasnya.
            “Nadjla” jawabku singkat.

***

            Sejak pertemuaku dengannya malam itu, dia begitu sering mengajakku keliling kota Paris. Begitu sering aku menolaknya tapi lelaki itu tidak berhenti – hentinya mengajakku.
            “Nadjla, Daniel pengen ngobrol sama lo” kata sepupuku sambil memberikan hp kepadaku.
            “Assalamu’alaikum” Sapaku
            “Ngomong apa sih kamu”
            “Agamaku menyuruhku mengucapkan salam. Maaf ada keperluan apa?”
            “Kamu lagi ngapain?”
            “Lagi membaca alquran”
            “Ke Jardin de Luxemburg yuk!” ajaknya.
            “Maaf” tolakku.
            “Please” dia berusaha meyakinkanku.
            “Baiklah tapi sebelum jam 6 sore harus pulang” setujuku akhirnya.
            “Oke”
            Akhirnya kami sampai di taman ini. Taman yang begitu indah, begitu banyak orang – orang bermain, bersama dengan pasangan mereka dan yang membuatku kaget begitu banyak manusia yang membaca buku di taman ini, sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat di Indonesia.
            “Kenapa kamu begitu dingin Nadjla” parkatanya membuatku tersadar dari lamunanku.
            “Agamaku melarang aku untuk berinteraksi terlalu banyak dengan lelaki yang bukan muhrimku” jelasku.
            “Kamu ga bosan? Kamu sama sekali tidak tertarik dengan ku? secara aku ganteng, tinggi, mapan, aku anak konglomerat. Apa lagi yang kurang?”
            “Akidah! Itulah yang kurang dari kamu”
            “Quel est akidah?”
            “Kamu cari aja di google” jawabku singkat. “Sudah hampir jam 6, tolong antarkan aku pulang”
            “Jika aku tidak mau?”
            “Aku akan pulang sendiri”
            “Kamu tau jalan menuju rumah nenekmu?”
            “InsyaAllah Allah akan menumjukkan aku jalan."
            “Pulangnya nanti setelah makan malam ya?”
            “Aku bilang, aku mau pulang!!”
            “Aku akan mengatarkan kamu setelah makan malam”
            “Jika kamu tidak mau mengantarkanku, aku akan pulang sendiri” ancamku. Kemudian aku pergi, berjalan tanpa arah tujuan.
            Aku sama sekali tak tau jalan. Bahasa Perancis pun aku tak bisa. Betapa bodohnya aku, tidak memikirkan akibat dari keegoisan aku sendiri. Hanya berharap petunjuk dari Allah agar aku bisa kembali ke rumah nenekku dengan selamat.
            “Abi, Nadj kangen abi. Abi benar, disini akan mengetahui bagaimana hidup yang sebenarnya. Selama ini Nadj hidup disekeliling orang yang taat kepada Allah, kehidupan disini berbeda. Sekarang Nadj mengerti kenapa abi menyurh Nadj kesini. Nadj nggak boleh takut, Allah selalu bersama dengan Nadj, Nadj pasti akan pulang ke Indonesia dan menyampaikan berita yang ingin abi dengar. Doa kan putri mu ini abi, bisa menemukan rumah nenek” rintihku di jalan yang tak aku kenal ini.
            “Maaf, kamu orang Indonesia?” sapa seorang lelaki yang kira – kira seumuran dengan ayahku.
            “Bapak orang Indonesia?” tanyaku.
            “Iya, adek kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”
            “Alhamdulillah. Saya ingin pulang ke rumah nenek saya, tapi saya tidak tau arah jalan pulang. Saya harap bapak bisa membantu saya.”
            “Dimana alamat rumah nenek kamu? Mungkin saya bisa membantu kamu untuk pulang ke rumah nenek kamu”
            “Disini pak” aku memberikan secarik kertas kepada bapak itu.
            “Wah, alamat ini jauh dari sini. Sekarang juga sudah terlalu larut malam, bagaimana kalau adek menginap dulu di rumah saya. Adek bisa tidur bersama anak perempuan saya. Besok pagi, saya akan meminta istri saya mengantarkanmu ke alamat nenek mu.” saran bapak itu.
            “Baiklah pak. Maaf telah merepotkan dan terima kasih banyak atas pertolongannya” ucapku tulus.
            “Oh iya, saya Lukman, saya bekerja di kedutaan Indonesia. Adek ke Perancis buat apa ya?”
            “Saya Nadjla. Saya liburan ke rumah nenek saya pak.”
            Pertolong-Mu sungguh sangat luar biasa, Allah. Disaat aku tak tau lagi mau berbiat apa, Engkau mempertemukan aku dengan seseorang yang bisa membantuku. Sungguh luar biasa pertolonganmu. Sekarang aku tau, aku tak beleh berputus asa. Pertolongamu akan datang dari manapun.

***

            “Assalamu’alaikum
            “Nadjla!!!” nenekku segera menghampiri dan memelukku. “Kamu baik – baik saja kan? Kamu kemana saja? Nenek, Tante, Om dan Clara keliling kota Paris mencarimu”
            “Alhamdulillah Nadjla baik – baik aja. Nadjla kesasar nek, Nadj nggak tau jalan pulang ke rumah nenek. Alhmadulillah Nadjla ketemu dengan orang Indonesia dan mengantarkan Nadjla ke rumah nenek”
            “Lo itu bikin seisi rumah kuatir tau. Lo tau nggak, kalo sampai hari ini lo nggak pulang Daniel akan mengerahkan orang – orangnya untuk mencarimu. Dia kuatir banget sama lo, lo keras kepala banget sih. Dia semalaman keliling kota Paris nyariin lo, dia kuatir banget tau” oceh Clara.
            “Clara, aku mau ke kamar dulu ya?”
            Aku tak mau mendegar ocehan sepupuku lagi. Aku terlalu capek dan ingin sekali istirahat. Sekitar 1 jam aku tidur, aku mendapatkan telfon dari ayahku.
            “Assalamu’alaikum abi”
            ““Wa’alaikumsalam.  Bagaimana kabarmu nak?”
            “Alhamdulillah Nadj baik – baik saja, Nadj kangen sekali sama abi. Abi baik kan?”
            “Alhamdulillah nak. InsyaAllah kita akan bertemu dalam waktu dekat ini nak”
            “Nadj 2 minggu lagi disini abi, masih lama kan abi.”
            “Besok kamu sudah bisa pulang anakku. Nenekmu sudah membelikan tiket pulang untukmu anakku. Nenekmu dan sepupumu telah menceritakan semua yang terjadi padamu tadi malam kepada abi. Akhirnya nenekmu mengizinkanmu untuk pulang ke Indonesia lebih cepat. Nenekmu sadar, Paris bukan kota yang cocok untuk dirimu”
            “Maksud abi?”
            “Nenekmu yang meminta abi untuk mengirimu kesana anakku. Dia ingin kamu hidup bersamanya. Awalnya abi tidak setuju tapi nenekmu memaksa abi, akhirnya abi terpaksa menuruti permintaan nenekmu dengan syarat, abi akan memberikan waktu sebulan untuk kamu memilih tinggal bersama abi atau tinggal disana bersama dengan nenekmu. Siap – siap lah anakku, besok abi akan menjemputmu. Assalamu’alaikum
            “Wa’alaikumsalam”
            Bandara Internasional Charles de Gaule.
            “Nadjla pamit nenek, om, tante, ra.” Aku memeluk satu persatu kelurgaku yang jauh akan Allah. Ketika aku memeluk nenekmu, aku membisikan di telinganya  Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Beliau menitihkan air mata ketika mendengar ucapan itu.
            “Hati – hati cucuku, nenek selalu merindukamu. Katakan kepada ayahku, nenek akan menemuinya jika hati nenek sudah mantap”
            “Baiklah nenek”
            Seorang sosok lelaki yang sempurna kecuali akidahnya menghampiriku.
            “Maafkan aku Nadjla, perbuatanku telah membuat kamu terluka dan meninggalkan kota ini dengan kesan yang buruk. Aku sungguh menyesal. Aku mencintaimu Nadjla.”
            “Aku sudah memaafkanmu. Jika kamu memang ingin menjadi lelaki yang akan mengantarku menuju surga-Nya maka kamu harus memantaskan dirimu untuk menjadi imamku.” ucapku tulus.
            “Kamu tidak mencintaiku?” tanyanya.
            “Haram bagiku mencintai seorang lelaki yang bukan muhrimku”
            “Terus kamu maunya apa? aku terlalu mencintaimu” ucapnya.
            “Jawabanya ada disini” Aku memberikannya sebuah al-quran.
            “Apa ini?”
            “Pelajarilah, Jika kamu ingin menjadi lelaki yang pantas menjadi imamku dan jika kamu masih mengganggap dirimu muslim.”
            “Jika aku telah melakukan semua itu. Apakah kamu akan menerima cintaku?”
            “Datanglah menemui ayahku. Aku harus pergi, pesawatku sebentar lagi take off” ucapku meinggalkannya.

***

            Tiga tahun kemudian, Pondok Pesantren Daaruttaqwa.
            “Kamu kenapa anakku? Semenjak kamu pulang dari Paris, kamu lebih banyak diam.” tanya Abi.
            “Nggak apa-apa abi” jawabku. 
            “Ya sudah, udah malam, sebaiknya kamu tidur” saran Abi.
            Aku tak mengerti kenapa aku selalu menunggu lelaki itu datang memintaku kepada ayahku. Harapan itu selalu ada, aku selalu menanti dan mengharapkan kedatangnya.
            Keesokan harinya, seperti biasa. Aku mengajarkan membaca alquran kepada santriwati perempuan. Setelah selesai mengajar, temanku Aisyah menghampiriku.
            “Nadj, aku dengar ada seorang lelaki yang menemui ayahmu. Dia bermaksud untuk meminangmu. Kamu gimana Nadj?”
            “Jika menurut abi, dia adalah lelaki yang pantas menjadi imamku, maka aku akan ikhlas mengabdikan hidupku padanya.”
            “Tapi, Nadj. Ustadz Zakaria aja yang 1 tahun yang lalu ingin meminangmu saja di tolak abimu. Dia jelas lelaki impian para wanita. Mungkin saja abimu, menolakknya lagi kan?”
            “InsyaAllah abi akan memberikan yang terbaik untukku”
            Terkadang aku juga tidak mengerti dengan ayahku ini. Ntah apa yang dia rencanakan untuk hidupku. Begitu banyak ustadz yang meminangku ditolakknya sedangkan lelaki ini, dia memintaku untuk ta’aruf dengannya.
            “Assalamu’alakum” itu suara seseorang yang sudah lama sekali tidak ku dengar.
            “Wa’alaikumsalam, Daniel???” aku benar – benar kaget, melihat sosok seorang lelaki yang telah berubah di depan ku ini.
            “Perkenalkan nama saya Muhammad Hafidz. InsyaAllah saya akan berta’aruf dengan kamu Nadjla. InsyaAllah kita akan segera menikah, itu pun jika kamu bersedia menjadikan aku sebagai imammu”
            Sungguh indah rencana yang Engkau berikan kepada hamba-Mu. Sekarang aku tau kenapa lelaki yang meminangku selalu ditolak ayahku. Lelaki itu, yang dulunya bernama Daniel Hardianta sekarang telah merubah namanya menjadi Muhammad Hafiz yang sekarang menjadi suamiku. Lelaki nekat dan tak kenal putus asa yang aku kenal. Ternyata tanpa sepengetahuanku, dia mengikutiku ke Indonesia dan menemui ayahku, dia meminta ayahku untuk menerimanya sebagai menantu. Dia berjanji kepada ayahku untuk menunggunya menjadi lelaki yang pantas mendampingiku. Ayahku memberinya waktu 3 tahun untuk menjadi lelaki yang pantas menjadi suamiku. Sekarang dia membuktikannya, lelaki yang aku cintai. Semuanya berawal dari kota Paris, Paris telah mempertemukanku dengannya, disana lah aku tau arti hidup yang sebenarnya.

Minggu, 12 Mei 2013

Doa

Ketika aku mengingat akan dosa
Dosa yang telah tergores
Tercatat dalam catatan malaikat atid
Luglai, resah dan gelisah.....

Tak kala teringat akan kematian
Betapa belum pantas mendaptkan surga-Nya
Namun,
Takut akan neraka-Nya

Setiap sujud, doa,,,,
Hanya terbingkai akan ampunan
Harapan demi harapan
Selalu terucap untuk mendapatkan ridho-Nya

Setiap langkah,,,
Selalu mengharapkan ridho dan petunjuk dari-Nya

Rindu
Rindu oh rindu
Andai aku bisa meminta dan berharap
Selalu berharap bersama Rasul ku kelak,,,,

Dua Sisi Mata Uang yang Berbeda

Bagai dua sisi mata uang yang berbeda, itu yang tepat menyebutkan dia dan kamu yang aku kenal. Dia yang aku kenal jauh sebelum kamu adalah pribadi yang lembut, mempuanyai pribadi yang lembut. Namun, agamamu sangat bisa diadalkan. Pribadi yang aku kagumi, pribadi yang sangat aku dambakan untuk menjadi imanku kelak, menjadi pembimbing untuk menggapai surga-Nya. Nasehat dia, menjadikan motivasi hidupku, dia membuatku bangkit dalam keterpurukan, disaat aku merasa orang yang tak berguna, dia yang membuat aku bangkit, bangkit dari keterpurukan itu.

Kamu yang aku kenal, pribadi yang ambisius dan keras kepala. Bersabar dan mengalah apabila selalu berada didekatmu. Namun, kamu merupakan pribadi yang sangat perhatian. Tapi, agamamu jauh dia bawah dia.

Kalian sungguh sangat berbeda.