Namaku
Kholisa Nadjla, aku seorang qoriah dan penghafal alquran. Sejak kecil aku sudah
ditinggalkan ibuku, beliau telah kembali disisi-Nya ketika melahirkanku, namun
sampai sekarang ayahku tidak pernah menikah lagi. Aku dibesarkan dilingkungan
pesantren karena ayahku adalah penggurus pesantren tersebut. Namun, setelah
dewasa aku tahu bahwa nenekku, orangtua ibu adalah seorang kristen, beliau tinggal di kota
yang paling romantis di dunia, Paris. Hari ini tepat usiaku ke 20 tahun, aku mendapat
kado dari ayahku sebuah tiket untuk liburan ke kota Paris. Aku sendiri bingung
kenapa ayah memberikan izin aku liburan ke kota tersebut.
“Abi, tiket? Paris?” kataku tak
percaya.
“Iya” dengan santainya ayahku
menjawabnya tanpa menghiraukan ekspresi kagetku.
“Abi tidak bercanda kan?” aku masih
tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Abi hanya tersenyum dengan
pertanyaanku. “Putriku, pergilah. Disana kamu akan belajar menjalani hidup yang
sebenarnya," ucapnya bijaksana.
***
***
Bendara Soekarno-Hatta, 07.00 WIB, saatnya berpisah ayahku, sosok yang selalu menemani hidupku selama 20 tahun
ini.
“Satu bulan lagi, abi menunggumu
disini anakku. Bawalah ini...” aku mengambil sebuah tasbih bewarna emas dari
ayahku itu. “Sampaikan salam abi kepada nenekmu. Bisikan di telinga nenekmu, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu
anna Muhammadan rasuulullaah.” Air mataku pun mengalir ketika ayah membisikan
kalimat itu ditelingaku.
***
Kehidupan di kota Paris ini berbeda
ketika aku berada di pesantren bersama para santri, ustadz, dan ustadzah. Di
rumah nenekku sendiri, begitu dekat sekali aku dengan dosa.
“Nadjla, nenek nyuruh gue ngajak lo
keliling kota Paris. Lo siap – siap gih, dan satu lagi pakaian lo jangan
kampungan!!!” kata sepupuku Clara yang seumuran denganku.
“Iya” jawabku singkat.
Manara eiffel, simbol kota Paris.
Sungguh indah, walau hanya bangunan terbuat dari besi, namun ini begitu sungguh
sangat indah. Ketika aku menikmati pemandangat kota Paris dipuncak menara.
Seorang lelaki menghampiri kami.
“Salut
Clara” mereka cipika – cipiki. Aku hanya 'mengucap' dalam hati melihat
saudaraku dengan lelaki yang bukan muhrimnya itu.
“Salut
Daniel, elle est ma belle-sœur qui vient d’Indonésie.”
Kata Clara kepada temannya.
“Salut,
Je suis Daniel. Tu es très belle. Mais pourquoi tu utilises ce habille?
C'est très étrange”
kata lelaki itu. Ntah apa yang dia tanyakan kepadaku, tapi aku yakin dia heran
terhadap penampilanku.
“Elle ne parle pas français”
jelas sapupuku.
“Oh” kata lelaki itu. “Aku Daniel,
aku keturunan Indonesia juga ko” jelasnya.
“Nadjla” jawabku singkat.
***
Sejak pertemuaku dengannya malam
itu, dia begitu sering mengajakku keliling kota Paris. Begitu sering aku
menolaknya tapi lelaki itu tidak berhenti – hentinya mengajakku.
“Nadjla, Daniel pengen ngobrol sama
lo” kata sepupuku sambil memberikan hp kepadaku.
“Assalamu’alaikum”
Sapaku
“Ngomong apa sih kamu”
“Agamaku menyuruhku mengucapkan
salam. Maaf ada keperluan apa?”
“Kamu lagi ngapain?”
“Lagi membaca alquran”
“Ke Jardin de Luxemburg
yuk!” ajaknya.
“Maaf” tolakku.
“Please” dia berusaha meyakinkanku.
“Baiklah tapi sebelum jam 6 sore
harus pulang” setujuku akhirnya.
“Oke”
Akhirnya kami sampai di taman ini.
Taman yang begitu indah, begitu banyak orang – orang bermain, bersama dengan
pasangan mereka dan yang membuatku kaget begitu banyak manusia yang membaca
buku di taman ini, sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat di Indonesia.
“Kenapa kamu begitu dingin Nadjla”
parkatanya membuatku tersadar dari lamunanku.
“Agamaku melarang aku untuk
berinteraksi terlalu banyak dengan lelaki yang bukan muhrimku” jelasku.
“Kamu ga bosan? Kamu sama sekali
tidak tertarik dengan ku? secara aku ganteng, tinggi, mapan, aku anak
konglomerat. Apa lagi yang kurang?”
“Akidah! Itulah yang kurang dari
kamu”
“Quel
est akidah?”
“Kamu cari aja di google” jawabku
singkat. “Sudah hampir jam 6, tolong antarkan aku pulang”
“Jika aku tidak mau?”
“Aku akan pulang sendiri”
“Kamu tau jalan menuju rumah nenekmu?”
“InsyaAllah Allah akan menumjukkan aku
jalan."
“Pulangnya nanti setelah makan malam
ya?”
“Aku bilang, aku mau pulang!!”
“Aku akan mengatarkan kamu setelah
makan malam”
“Jika kamu tidak mau mengantarkanku,
aku akan pulang sendiri” ancamku. Kemudian aku pergi, berjalan tanpa arah
tujuan.
Aku sama sekali tak tau jalan.
Bahasa Perancis pun aku tak bisa. Betapa bodohnya aku, tidak memikirkan akibat
dari keegoisan aku sendiri. Hanya berharap petunjuk dari Allah agar aku bisa
kembali ke rumah nenekku dengan selamat.
“Abi, Nadj kangen abi. Abi benar,
disini akan mengetahui bagaimana hidup yang sebenarnya. Selama ini Nadj hidup
disekeliling orang yang taat kepada Allah, kehidupan disini berbeda. Sekarang
Nadj mengerti kenapa abi menyurh Nadj kesini. Nadj nggak boleh takut, Allah selalu
bersama dengan Nadj, Nadj pasti akan pulang ke Indonesia dan menyampaikan
berita yang ingin abi dengar. Doa kan putri mu ini abi, bisa menemukan rumah
nenek” rintihku di jalan yang tak aku kenal ini.
“Maaf, kamu orang Indonesia?” sapa
seorang lelaki yang kira – kira seumuran dengan ayahku.
“Bapak orang Indonesia?” tanyaku.
“Iya, adek kenapa? Ada yang bisa
saya bantu?”
“Alhamdulillah.
Saya ingin pulang ke rumah nenek saya, tapi saya tidak tau arah jalan pulang.
Saya harap bapak bisa membantu saya.”
“Dimana alamat rumah nenek kamu?
Mungkin saya bisa membantu kamu untuk pulang ke rumah nenek kamu”
“Disini pak” aku memberikan secarik
kertas kepada bapak itu.
“Wah, alamat ini jauh dari sini.
Sekarang juga sudah terlalu larut malam, bagaimana kalau adek menginap dulu di
rumah saya. Adek bisa tidur bersama anak perempuan saya. Besok pagi, saya akan
meminta istri saya mengantarkanmu ke alamat nenek mu.” saran bapak itu.
“Baiklah pak. Maaf telah merepotkan
dan terima kasih banyak atas pertolongannya” ucapku tulus.
“Oh iya, saya Lukman, saya bekerja
di kedutaan Indonesia. Adek ke Perancis buat apa ya?”
“Saya Nadjla. Saya liburan ke rumah
nenek saya pak.”
Pertolong-Mu sungguh sangat luar
biasa, Allah. Disaat aku tak tau lagi mau berbiat apa, Engkau mempertemukan aku
dengan seseorang yang bisa membantuku. Sungguh luar biasa pertolonganmu.
Sekarang aku tau, aku tak beleh berputus asa. Pertolongamu akan datang dari
manapun.
***
“Assalamu’alaikum”
“Nadjla!!!” nenekku segera
menghampiri dan memelukku. “Kamu baik – baik saja kan? Kamu kemana saja? Nenek, Tante, Om dan Clara keliling kota Paris mencarimu”
“Alhamdulillah
Nadjla baik – baik aja. Nadjla kesasar nek, Nadj nggak tau jalan pulang ke
rumah nenek. Alhmadulillah Nadjla ketemu dengan orang Indonesia dan mengantarkan
Nadjla ke rumah nenek”
“Lo itu bikin seisi rumah kuatir
tau. Lo tau nggak, kalo sampai hari ini lo nggak pulang Daniel akan mengerahkan orang
– orangnya untuk mencarimu. Dia kuatir banget sama lo, lo keras kepala banget
sih. Dia semalaman keliling kota Paris nyariin lo, dia kuatir banget tau” oceh Clara.
“Clara, aku mau ke kamar dulu ya?”
Aku tak mau mendegar ocehan sepupuku lagi. Aku terlalu capek dan ingin sekali istirahat. Sekitar 1 jam aku
tidur, aku mendapatkan telfon dari ayahku.
“Assalamu’alaikum
abi”
““Wa’alaikumsalam. Bagaimana kabarmu nak?”
“Alhamdulillah Nadj baik – baik
saja, Nadj kangen sekali sama abi. Abi baik kan?”
“Alhamdulillah nak. InsyaAllah kita
akan bertemu dalam waktu dekat ini nak”
“Nadj 2 minggu lagi
disini abi, masih lama kan abi.”
“Besok kamu sudah bisa pulang
anakku. Nenekmu sudah membelikan tiket pulang untukmu anakku. Nenekmu dan
sepupumu telah menceritakan semua yang terjadi padamu tadi malam kepada abi.
Akhirnya nenekmu mengizinkanmu untuk pulang ke Indonesia lebih cepat.
Nenekmu sadar, Paris bukan kota yang cocok untuk dirimu”
“Maksud abi?”
“Nenekmu yang meminta abi untuk
mengirimu kesana anakku. Dia ingin kamu hidup bersamanya. Awalnya abi tidak
setuju tapi nenekmu memaksa abi, akhirnya abi terpaksa menuruti permintaan
nenekmu dengan syarat, abi akan memberikan waktu sebulan untuk kamu memilih
tinggal bersama abi atau tinggal disana bersama dengan nenekmu. Siap – siap lah
anakku, besok abi akan menjemputmu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Bandara Internasional Charles de
Gaule.
“Nadjla pamit nenek, om, tante, ra.”
Aku memeluk satu persatu kelurgaku yang jauh akan Allah. Ketika aku memeluk
nenekmu, aku membisikan di telinganya Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu
anna Muhammadan rasuulullaah. Beliau menitihkan air mata ketika mendengar
ucapan itu.
“Hati – hati cucuku, nenek selalu
merindukamu. Katakan kepada ayahku, nenek akan menemuinya jika hati nenek sudah
mantap”
“Baiklah nenek”
Seorang sosok lelaki yang sempurna
kecuali akidahnya menghampiriku.
“Maafkan aku Nadjla, perbuatanku
telah membuat kamu terluka dan meninggalkan kota ini dengan kesan yang buruk.
Aku sungguh menyesal. Aku mencintaimu Nadjla.”
“Aku sudah memaafkanmu. Jika kamu
memang ingin menjadi lelaki yang akan mengantarku menuju surga-Nya maka kamu harus memantaskan dirimu untuk menjadi imamku.” ucapku tulus.
“Kamu tidak mencintaiku?” tanyanya.
“Haram bagiku mencintai seorang lelaki
yang bukan muhrimku”
“Terus kamu maunya apa? aku terlalu
mencintaimu” ucapnya.
“Jawabanya ada disini” Aku
memberikannya sebuah al-quran.
“Apa ini?”
“Pelajarilah, Jika kamu ingin
menjadi lelaki yang pantas menjadi imamku dan jika kamu masih mengganggap
dirimu muslim.”
“Jika aku telah melakukan semua itu.
Apakah kamu akan menerima cintaku?”
“Datanglah menemui ayahku. Aku harus
pergi, pesawatku sebentar lagi take off” ucapku meinggalkannya.
***
Tiga tahun kemudian, Pondok
Pesantren Daaruttaqwa.
“Kamu kenapa anakku? Semenjak kamu
pulang dari Paris, kamu lebih banyak diam.” tanya Abi.
“Nggak apa-apa abi” jawabku.
“Ya sudah, udah malam, sebaiknya
kamu tidur” saran Abi.
Aku tak mengerti kenapa aku selalu
menunggu lelaki itu datang memintaku kepada ayahku. Harapan itu selalu ada, aku
selalu menanti dan mengharapkan kedatangnya.
Keesokan harinya, seperti biasa. Aku
mengajarkan membaca alquran kepada santriwati perempuan. Setelah selesai
mengajar, temanku Aisyah menghampiriku.
“Nadj, aku dengar ada seorang lelaki
yang menemui ayahmu. Dia bermaksud untuk meminangmu. Kamu gimana Nadj?”
“Jika menurut abi, dia adalah lelaki
yang pantas menjadi imamku, maka aku akan ikhlas mengabdikan hidupku padanya.”
“Tapi, Nadj. Ustadz Zakaria aja yang
1 tahun yang lalu ingin meminangmu saja di tolak abimu. Dia jelas lelaki impian para wanita. Mungkin saja abimu, menolakknya lagi kan?”
“InsyaAllah abi akan memberikan yang
terbaik untukku”
Terkadang aku juga tidak mengerti
dengan ayahku ini. Ntah apa yang dia rencanakan untuk hidupku. Begitu banyak
ustadz yang meminangku ditolakknya sedangkan lelaki ini, dia memintaku untuk
ta’aruf dengannya.
“Assalamu’alakum” itu suara
seseorang yang sudah lama sekali tidak ku dengar.
“Wa’alaikumsalam, Daniel???” aku
benar – benar kaget, melihat sosok seorang lelaki yang telah berubah di depan
ku ini.
“Perkenalkan nama saya Muhammad
Hafidz. InsyaAllah saya akan berta’aruf dengan kamu Nadjla. InsyaAllah kita akan
segera menikah, itu pun jika kamu bersedia menjadikan aku sebagai imammu”
Sungguh indah rencana yang Engkau
berikan kepada hamba-Mu. Sekarang aku tau kenapa lelaki yang meminangku selalu
ditolak ayahku. Lelaki itu, yang dulunya bernama Daniel Hardianta sekarang
telah merubah namanya menjadi Muhammad Hafiz yang sekarang menjadi suamiku.
Lelaki nekat dan tak kenal putus asa yang aku kenal. Ternyata tanpa
sepengetahuanku, dia mengikutiku ke Indonesia dan menemui ayahku, dia meminta
ayahku untuk menerimanya sebagai menantu. Dia berjanji kepada ayahku untuk
menunggunya menjadi lelaki yang pantas mendampingiku. Ayahku memberinya waktu 3
tahun untuk menjadi lelaki yang pantas menjadi suamiku. Sekarang dia
membuktikannya, lelaki yang aku cintai. Semuanya berawal dari kota Paris, Paris
telah mempertemukanku dengannya, disana lah aku tau arti hidup yang sebenarnya.


