Senin, 24 Oktober 2016

Zahra - Bab 1

Satu

            Arboretum begitulah nama tempat ini,  berbagai macam pohon terdapat di tempat ini yang biasanya digunakan untuk penelitian mahasiswa FMIPA. Saung-saung menjadi tempat yang sering digunakan mahasiswa untuk belajar, diskusi, maupun melepas lelah di tempat ini. Zahra Putri Salsabilla terpaku dengan buku bacaannya, ia tidak mempedulikan keadaan disekitarnya. Tempat ini menimbulkan kedamai tersendiri baginya, apalagi saung favoritnya ini. Saung yang menghadap ke danau buatan ditempat ini. Ya, sebenarnya ini tidak pantas disebut sebuah danau terlalu kecil untuk disebut danau.
            “Hei!!”
            Zahra tak menggubris sapaan gadis berambut panjang itu. Ia hanya terpaku kepada buku yang sedang dibacanya.
            “Assalamu’alaikum ukhti!!”
            Ucapan salam itulah yang sontak menghentikan bacaannya. Sesok perempuan sudah berada disampingnya. Ia mengenali gadis sebagai Cahaya Mutiara Alatas, sahabat, teman sekamar dan teman sekelasnya, dia menarik nafas lega.
            Zahra memang bukan berasal dari keluarga kaya, ia hanya seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa dikampus ternama. Ia bukan penduduk asli kota ini, ia hanya pendatang yang berasal dari daerah terpencil di Pulau Kalimantan. Awalnya ia tidak tau tinggal dimana di kota ini, jangankan untuk menyewa kamar, makan pun ia harus mencari uang sepulang kuliah. Kebaikan hati Mutiara yang menawarkannya tempat tinggal di apartemennya. Benar, Mutiara adalah putri bungsu dari keluarga kaya, ia cantik, baik, namun untuk kepintaran jauh dibawah Zahra. Tinggal bersama Zahra sangat membantu dalam pendidikannya.  
            “Wa’alaikumsalam ukhti!!” Zahra menjawab dengan lembut. “Kamu membuat aku sedikit terkejut Muti.”
            Muti hanya tersenyum lebar. “Kamu terlalu sibuk dengan bukumu itu”
            “Buku itu gudang ilmu Muti, manusia itu haus akan ilmu maka sebaiknya harus memimba ilmu. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berilmu.”
            “Iya deh, aku mengerti,” kata Muti. “Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, sebelum aku lupa.” kata Muti sambil mengeluarkan kartu nama ditas nya. “Ibu Rina meminta kamu untuk menghubungi nomor yang tertera disini.”
            “Buat apa?” tanya Zahra ramah.
            “Ibu Rina tidak memberitahuku, dia bilang kalau Zahra bertanya hubungi beliau aja.” jawabnya ringan. “Aku pinjam bukumu Komunikasi Interpersonal yah”
            “Boleh, ambil aja di rak bukuku.” Jawab Zahra ringan.
            “Oke ukhti. Aku pergi dulu ya, mau jalan sama Dafa.” kata Muti senang. Gadis berambut panjang itu meninggalkan sahabatnya, ia akan pergi bersama pacaranya. Dafa Anggoro, mahasiswa Manajemen Bisnis, berasal dari keluarga konglomerat, lelaki yang berperawakan tinggi, atletis, keren, modis, berwajah tirus, bulu matanya yang hitam, serta lesung pipi di kedua pipi. Lelaki sempurna yang diidamkan oleh semua wanita. Dafa lebih tua satu tahun dari mereka.
            Agung M. Ikhsan Dinata nama yang tertera di kartu nama itu. Siapa dia? Zahra tak langsung menghubungi nomor yang tertera di kartu nama tersebut, ia hanya membacanya dan memasukkan ke dalam agendanya. Ia melihat jam tangannya, ternyata telah menunjukkan jam 2 siang, ia harus segera menuju rumah muridnya. Zahra memang bekerja sebagai guru privat di waktu luangnya untuk mencari uang memenuhi kebutuhan hidupnya.

***

            Apartemen ini memang tidak bisa digolongkan dengan tempat seorang mahasiswa yang terkesan sederhana. Berasal dari keluarga kaya, Muti  diberikan fasilitas apartemen  yang lengkap. Apartemen yang memempunyai kamar utama dan satu kamar lainnya yang lebih  kecil, ruang tamu, ruang tengah, serta dapur yang dilengkapi dengan fasilitas memasak yang lengkap. Hanya satu ruang di apartemen ini yang jarang sekali digunakan oleh Muti, yaitu dapur. Zahra lah yang selalu menggunakannya.
Zahra sibuk membolak-balik omolet agar tidak gosong. Bau wangi omolet tercium hingga ruang tamu apartemen.
            “Wah, baunya wangi sekali. Emmm.... mendadak lapar nihhh”
            Suara berat itu membuyarkan konsentasi Zahra. Dafa sudah bersandar di pintu dapur sambil berdecak pinggang.
            “Astagfirullah! Kak Dafa! Aku kira siapa? Bikin kaget aja.” jawab Zahra sembari menerusakan pekerjaannya. Ia melanjutkan perkataannya “Muti belum pulang, paling masih di PSM.” PSM (Paduan Suara Mahasiswa), Muti memang mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) tersebut, ia mengikuti kegiatan tersebut yang merupakan hobinya.
Tujuan utama Dafa memang ingin mengajak Muti pergi, ia memang sengaja tidak menghubungi gadis itu untuk memberikan kejutan. Tapi, tidak sesuai dengan harapannya. Gadis itu sedang tidak ada di apartemennya. Ia tau Muti memang mengikuti waktu di PSM, tapi sekarang bukan jadwalnya latihan. Sudah terlambat, batinnya.
            “Aku ngak nyari Muti tapi numpang makan.” jawab Dafa kemudian diikuti tawa ringan.
            “Dasar, orang kaya tapi makan maunya gratisan. Pelit!!” canda Zahra.
            “Makanya cepat kaya karena hemat bukan pelit.”
            “Emmmm, mau makan harus kerja dulu. So, ayo kesini bantu aku.”
            “Siapa takut, nanti jangan nyesel masakan kamu jadi gosong.”
Dafa sibuk memotong wortel sesuai dengan arahan Zahra sedangkan Zahra sibuk menyiapan bumbu sop karena mereka memang mau membuat sayur sop.  Dafa terlihat serius, sesekali ia menatap Zahra. Gadis itu memang selalu membuatnya kagum. Kepribadian gadis itu begitu mengagumkan, ia tak pernah mengeluh dengan kondisi apapun, ia selalu menampakan senyum walau sekalipun ia sedang bersedih, ia selalu dewasa dalam menyikapi semua hal. Ia tahu Zahra memang selalu menjaga jarak dengannya agar tidak menimbulkan kecemburuan Muti. Namun, hal itu membuatnya menggoda Zahra.
            Tak lama kemudian, terdengar deritan pintu, tanda dibuka oleh seseorang. Muncul seorang gadis, gadis cantik dengan rambut panjangnya. Ia, itu Muti. Terlihat jelas gurat kelelahan diwajahnya. Namun, langkah kaki gadis itu terhenti melihat Zahra dan Dafa. Cemburu? Apakah ia harus cmburu dengan sahabatnya itu? Iri? Ntahlah. Sahaatnya itu memang selalu membuat orang disekitarnya itu bahagia. Muti sadar betul, Zahra selalu membuat orang nyaman berada disampingnya.
            “Hemmmm, hemmmm…” Muti sengaja menyapa mereka hanya dengan deraman suaranya.
            “Ehhh, Muti! Kamu udah pulang. Aku sama kak Dafa masak omelet dan sop nih. Kamu belum makan kan? Kita makan bareng ya?” katanya Zahra sambil menyalin sop dari panci ke mangkok. Sementara Dafa menyiapkan piring seperti yang diperintahkan oleh Muti.
            “Halo beb. Kamu udah pulang, ayok kita makan bareng. Kamu belum makan kan?” katanya tanpa melirik kearah Muti sama sekali, ia hanya sibuk menata alat makan di atas meja.
            Sambutan dingin Dafa, membuat suasana hati Muti semakin buruk. “Aku mau mandi.” jawab Muti dingin. Terdengar jelas dari nada Muti, nada cemburu. Kemudian, ia segera masuk ke kamarnya dengan pintu sedikit dibanting. Kamar Muti memang kamar utama di apartemen ini, sehingga mempunyai kamar mandi sendiri. Jauh berbeda dengan kamar Zahra, selain ukurannya berbeda juga tidak memiliki kamar mandi.
            Zahra sadar dengan sikap dingin sahabatnya. Benar, sahabatnya cemburu dengan kedekatan ia dengan Dafa. Dafa, ntah kenapa lelaki itu selalu membuatnya nyaman. Bersama Dafa adalah hal yang menyenangkan baginya. Dafa, orang yang pertama yang dikenalnya di kota ini. Saat itu, ia tak tau arah jalan menuju kampus itu dari terminal bis di kota Bandung. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada seseorang. Ya, orang itu adalah Dafa. Saat itu, Dafa baru kembali dari rumah orangtuanya di Jakarta. Ntah kenapa Zahra percaya begitu saja dengan lelaki yang baru dikenalnya, ia menerima begitu saja tawaran Dafa mengantarkannya menuju kampus UNPAD. Semenjak saat itu, hubungan mereka menjadi dekat, hingga Dafa bertemu Muti. Ketika itu Dafa mengunungi kampus Zahra, Zahra mengenalkan kepada Muti sahabatnya. Zahra sendiri tidak pernah tau jelas cerita mereka bisa pacaran. Ia hanya tau mereka berpacaran setelah sebulan saling mengenal. Zahra tak pernah ingin ikut campur dengan urusan sahabatnya kecuali sahabatnya sendiri yang bercerita kepadanya.
Zahra sendiri sadar, ia harus menjaga jarak dengan Dafa. Dafa adalah kekasih sahabatnya, orang yang telah memberinya tempat tinggal. Walaupun ia harus membalasnya dengan mengajarkan Muti semua kesulitan dalam pelajaran kuliah tapi itu tak masalah baginya. Ia tak pernah mengganggap itu sebagai beban tapi mengajarkan Muti adalah kewajiban baginya untuk membantu kesulitan sahabatnya.
Sahabatnya cemburu. Muti cemburu kepadanya karena Dafa memasak bersamanya. Ia menghela nafas, ia tak tau apa yang harus dilakukan agar sahabatnya tidak salah sangka kepadanya. Telihat sekali, Zahra tengah berfikir apa yang seharusnya yang ia lakukan.
“Kak….” katanya kepada Dafa.
“Iya.” jawab Dafa singkat. Ia masih tengah bolak-balik dapur dan meja makan, mengambil piring dan alat makan lainnya, kemudian ia menatanya di atas meja makan.
“Muti sepertinya sedang banyak pikiran. Kakak sebaiknya lebih sering ngobrol dan bersama dia.” kata Zahra. Ia tidak yakin ucapannya itu benar atau salah. Ia tak tau apakah perkataanya itu akan membuat Muti menjadi lebih baik atau sebalinya.
“Iya gitu? Aku lihat Muti baik-baik aja.” jawab Dafa cuek.
Zahra hanya memberikan senyum kepada Dafa. Ia sangat tau Dafa adalah tipe lelaki yang cuek. Ia tak pernah menunjukkan dengan kata-kata. Berbeda sekali dengan Muti yang selalu ingin mendengar kata rayuan manis. Hal itu yang selalu membuat Zahra binggung, kenapa Muti bisa berpacaran dengan Dafa.
Sementara Dafa, sangat tahu arti senyum yang diberikan Zahra saat ini. Itu merupakan perintah agar Dafa melakukan itu. “Siap, laksanakan!” jawab Dafa kemudian.
“Terimakasih Kak.” Ia berkata sambil tersenyum.

            Makan malam bersama, makan malam itu berlangsung dengan kesunyian. Zahra tak berani untuk memulai pembicaraan, ia tak mau akan memperburuk keadaan. Ia hanya fokus pada makanannya. Muti, raut wajahnya masih sama. Terlihat jelas, cemburu! Sementara Dafa dengan cueknya melahap makanannya.
            Akhirnya makan malam pun usai. Zahra langsung membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka. Sebenarnya Dafa sangat ingin membantu Zahra, tapi ia menolahnya dengan halus. Tanpa berkata pun, Dafa tahu apa yang diinginkan Zahra. Ia harus berbicara dengan Muti. Sementara Muti, ia memang tak pernah mencuci piring. Berasal dari keluarga kaya, Muti memang tidak pernah melakukan perkerjaan rumah tangga bahkan kamarnya sendiri Zahra yang membersihkannya. Awalnya Muti ingin menyewa seorang pembantu untuk mengurus apartemennya, tapi Zahra menolaknya, biar ia saja yang melakukan pekerjaan itu. Ia berkata pada Muti saat itu, anggap saja sebagai tugas ia karena sudah berikan tempat tinggal gratis.
Selesai makan, Muti langsung menuju ruang tengah, ia langsung menyalakan televisi. Terlihat jelas bahwa  tidak sedang ingin mentonton, setiap beberapa menit ia mengganti saluran.
Dafa menghampiri Muti. Ia duduk disebelah Muti. Ia dengan cueknya mengambil remote dari tangan Muti.
“Ini baru seru” katanya.
Muti hanya diam tak menghiraukan omongan Dafa. Ia hanya menatap lurus ke arah televisi. Namun, tatapan itu bukanlah tatapan yang penuh minat terhadap acara yang sedang ditontonnya. Sementara Dafa dengan cueknya menonton acara tersebut. Dari kejauhan Zahra hanya memandang mereka berdua. Perasaan bersalah terus menyiksanya.
Zahra telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan menuju kamar, ia menghentikan langkahnya untuk berpamitan kepada mereka berdua.
“Aku ke kamar duluan.” Katanya. Ia melanjutkan langkanya menuju kamar.

Ruangan berukuran 3x3 meter, itulah ruangan untuk kamar tidur Zahra. Kamar ini tidak memiliki tempat tidur, hanya memiliki kasur ukuran kecil untuk 1 orang. Di sisi kiri, berjejeran buku-buku koleksi bacaan Zahra yang tertata rapi di lemari buku. Disisi kanan terdapat lemari kecil tempat menyimpan baju. Lemari itu hanya setinggi dada orang dewasa. Diatasnya, berjejeran figura dengan foto bangunan suatu negara atau kota. Pernah suatu ketika Zahra tak sengaja bertemu dengan Dafa ketika ia sedang mencetak foto Mezquita.
“Cantik!” kata Dafa yang mengagetkan Zahra.
Ia tau maksud Dafa adalah foto yang sedang dipenggangnya. “Benar, menandakan Islam pernah eksis di Eropa.” Kata Zahra.
“Mezquita dalam bahasa Spanyol yang berarti masjid. Masjid agung di kota Cordoba yang sekarang dialih fungsikan sebagai Katedral Cordoba. Awalnya bangunan itu adalah gereja yang bernama Katedral Saint Vincent yang dibangun tahun 600. Namun, setelah Bani Ummayah berhasil menaklukan Spanyol, kaum muslim mengubahnya sebagai masjid agung dengan keindahan pilar-pilar. Tahun 1236, tentara katolik berhasil menaklukan kota Cordoba. Kemudian mengalihkan fungsikan menjadi katedral, namun masih mempertahankan sebagian besar arstitektur asli masjid.” Jelas Dafa.
Great!” kata Zahra. Ia tak menyangkan Dafa yang terlihat cuek mengetahui secara rinci sejarah Islam di Eropa.
“Bukan itu saja jejak Islam pernah menguasai Eropa. Selain itu, menara Giralda, Medina Azahara, Istana Alcazar, Aljaferia, Masjid Cristo de la Luz, Torre de Oro, Alcazaba de Malaga.” Lanjut Dafa.
Zahra memberikan senyum atas penjelasan yang diberikan Zahra. Bukan Zahra tak mengetahuinya. Ia hanya tak menyangka Dafa yang terlihat cuek mengetahui sejarah.
“Kamu pasti ngak nyangka, menurut aku yang lebih unik itu Perancis.”
“Kenapa?” pernyataan Dafa menimbulkan rasa ingin ingin tahunya.
La tour Eiffel, L’arc de Triomphe, Musée du Louvre kalau diperhatikan di Peta itu berada dalam satu garis lurus dan kalau garis itu terus ditarik maka akan satu garis lurus dengan ka’bah. Ntah sengaja bangunan itu dibangun seperti itu atau dengan ketidaksengajaan. Tapi, kalau dipikir-pikir itu adalah salah satu tanda ajaran Islam itu benar, sama halnya dengan kita sholat menghadap kiblat dan kiblat kita menghadap ka’bah, penyatu umat Islam.” Dafa melirik ke Zahra, terlihat jelas ketetarikan Zahra dengan semua ucapan Dafa. Dafa tersenyum dan melanjutkan penjelasannnya. “Oh ya… Yang paling menakjubkan itu adalah lukisan Bunda Maria karya Ugolino di Musée du Louvre. Di kerudung Bunda Maria terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic, yang konan katanya berlafadz ‘Laa Illaha Illallah’
“SubhanaAllah” hanya itu kata yang mampu terucap di mulut Zahra.
Setiap memasuki kamar ini dan memandang deretan figura yang berisi  foto-foto jejak Islam selalu membuat Zahra tersenyum dan teringat penjelasan Dafa.
Zahra tak langsung tidur ia mengmbil salah satu buku di lemari bukunya. Buku tersebut bersampul warna merah jambu, tebal buku tersebut kira-kira 5 cm yang berjudul Fiqih Wanita. Buku itu adalah hadiah ulang tahun ke-17 dari ayahnya. Hadiah terakhir sebelum ayahnya meninggalkannya dan ibunya untuk selamanya.
Samar-samar ia dapat mendengar percakapan Muti dan Dafa di ruang tengah.
“Kamu ngapain kesini?” tanya Muti jutek.
“Ke apartemen pacar ngapain lagi coba.” jawab Dafa cuek.
“Aku ngak ada di apartemen dan kamu ngak kasih tau aku mau kesini. Bilang aja kamu mau bertemu Zahra.” balas Muti Jutek.
“Ayolah Muti, kamu masa sama Zahra cemburu. Dia sahabat kamu, sahabat aku."
“Tidak ada persahabatan antara wanita dan pria.” balas Muti jutek.
“Kamu ngak percaya sama aku?”
“Kamu mempertanyaan itu sama aku? Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Muti membuang muka, ia semakin kesal kepada Dafa. Ia tadinya berharap Dafa meranyunya, bukan seperti ini yang ia inginkan. Dafa yang selalu memintanya untuk pengertian.
“Sepertinya kamu sangat lelah Muti, lebih baik aku pulang agar kamu bisa istirahat.” kata Dafa datar. Ia bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja dan berjalan menuju pintu. Dafa berhenti sejenak dan berkata, “Zahra bukanlah orang patut kamu cemburui untuk merebut apa yang kamu  miliki. Ia adalah orang yang selalu memberi apapun untukmu tanpa kamu kamu sadari. Oh ya, tadi aku kesini mau mengajak kamu kesitu.” Dafa menunjuk ke arah kertas yang terletak di meja kecil yang terletak di samping televisi. “Aku pamit dulu.” Dafa meninggalan apartemen Muti.
Muti memandang kertas yang terletak di atas meja di samping televisi. Ia tertegun melihat kertas itu, dua tiket konser musik Jazz. Ia baru ingat malam ini konser tunggal Sandy Sandoro disebuah hotel di Bandung. Penyesalan itu selalu datang terakhir. Ia telah berprasangka buruk kepada kekasih dan sahabatnya. Ia melirik jam dinding, jam 10.30. Sudah terlambat batinya. Ia ingin menyusul Dafa. Dafa pasti sudah pergi dengan mobilnya ke kostanya di Kota Bandung. Zahra, Muti, dan Dafa memang satu universitas, tapi letak kampus mereka berbeda. Kampus Dafa terletak di Dipati Ukur, di Kota Bandung sedangkan kampus Zahra dan Muti terletak di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Zahra? Apakah ia harus meminta maaf pada Zahra? Tapi bukanlah kepribadian Muti. Latar belakang keluarga membuatnya mempunyai sifat gengsi untuk meminta maaf.  Ia memutuskan masuk kamar dengan penuh penyesalan.
Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar percakapan Dafa dan Muti. Ia kembali fokus dengan buku ditangannya.
Berselang waktu telepon genggamnya berbunyi.
Ia menggapai telepon genggamnya yang terletak di atas meja kecil disamping lemari pakaian. Di layar hp nya tertulis, 1 pesan masuk. Ia membuka pesan itu.

Assalamu’alaikum.
Terimakasih untuk makan malamnya. Maaf tidak sempat pamit. Nice dream… ^_^
Dafa

Ia kemudian menekan tombol balas dan mulai mengetik.
Wa’alaikukumsalam Wr. Wb.
Kembali kasih, kak.
Hati-hati nyetirnya…
Zahra

Ia melirik jam dinding di kamarnya, 11.00 WIB. Ia menutup bukunya, mematikan lampu kamar, dan membaringkan tubuhnya di atas kamus. Setengah jam kemudian telepon genggamnya kembali bordering. Siapa yang mengirim pesan malam begini? Ia sebenarnya malas untuk menggapai telepon genggam. Siapa tau penting pikirnya.
Oh, dilayar Hp nya tertulis ‘Why do you give all person your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’
Pesan itu lagi batinya. Ia segera menghapus pesan itu dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.




Zahra (Ketika ku mencintaimu dalam diamku)

Prolog

            Ia menangis dalam sujudnya. Keheningan dan dinginnya malam tak menghambat langkahnya untuk curhat kepada Yang Maha Kuasa.
            Ada yang hampa dalam harinya.
            Tangisnya tak mampu mengisi kekosangan itu, kosong dan terus kosong. Matanya sebab akibat butiran air mata selalu mengalir deras di sudut matanya. Dia selalu bertanya kepada dirinya, apa yang kosong? Hanya saja ia tak pernah menemukan jawabannya. Terkadang dia bertanya, apakah kesendirian hidup yang membuatnya hampa? Lelaki? Tak sedikit pun terlintas dibenaknya untuk berhubungan dengan lelaki. Bukan ia tidak menyukai lelaki tapi ia tidak ingin pacaran sebelum menikah.
            Tepat saat itu telepon genggamnya berbunyi.
            Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa yang meng-SMSnya tengah malam begini? Ibunya kah? Tidak mungkin, ibunya tidak bisa mengirim SMS. Enggan sekali ia membaca malam – malam begini. Namun, rasa ingin tahu mengalahkan keenganannya.
            Oh, dilayar Hp nya tertulis ‘Why do you give all person your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’
            Nomor asing, siapa yang mengiriminya SMS itu? Otaknya tak ingin memikirkan pesan aneh itu. Kemudian ia langsung menghapus pesan itu.