Satu
Arboretum begitulah nama tempat
ini, berbagai macam pohon terdapat di
tempat ini yang biasanya digunakan untuk penelitian mahasiswa FMIPA.
Saung-saung menjadi tempat yang sering digunakan mahasiswa untuk belajar,
diskusi, maupun melepas lelah di tempat ini. Zahra Putri Salsabilla terpaku
dengan buku bacaannya, ia tidak mempedulikan keadaan disekitarnya. Tempat ini
menimbulkan kedamai tersendiri baginya, apalagi saung favoritnya ini. Saung
yang menghadap ke danau buatan ditempat ini. Ya, sebenarnya ini tidak pantas
disebut sebuah danau terlalu kecil untuk disebut danau.
“Hei!!”
Zahra tak menggubris sapaan gadis
berambut panjang itu. Ia hanya terpaku kepada buku yang sedang dibacanya.
“Assalamu’alaikum
ukhti!!”
Ucapan salam itulah yang sontak
menghentikan bacaannya. Sesok perempuan sudah berada disampingnya. Ia mengenali
gadis sebagai Cahaya Mutiara Alatas, sahabat, teman sekamar dan teman
sekelasnya, dia menarik nafas lega.
Zahra memang bukan berasal dari
keluarga kaya, ia hanya seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa dikampus
ternama. Ia bukan penduduk asli kota ini, ia hanya pendatang yang berasal dari
daerah terpencil di Pulau Kalimantan. Awalnya ia tidak tau tinggal dimana di
kota ini, jangankan untuk menyewa kamar, makan pun ia harus mencari uang
sepulang kuliah. Kebaikan hati Mutiara yang menawarkannya tempat tinggal di
apartemennya. Benar, Mutiara adalah putri bungsu dari keluarga kaya, ia cantik,
baik, namun untuk kepintaran jauh dibawah Zahra. Tinggal bersama Zahra sangat
membantu dalam pendidikannya.
“Wa’alaikumsalam
ukhti!!” Zahra menjawab dengan lembut. “Kamu membuat aku sedikit terkejut
Muti.”
Muti hanya tersenyum lebar. “Kamu
terlalu sibuk dengan bukumu itu”
“Buku itu gudang ilmu Muti, manusia
itu haus akan ilmu maka sebaiknya harus memimba ilmu. Sebaik-baiknya manusia
adalah manusia yang berilmu.”
“Iya deh, aku mengerti,” kata Muti.
“Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, sebelum aku lupa.” kata Muti sambil
mengeluarkan kartu nama ditas nya. “Ibu Rina meminta kamu untuk menghubungi
nomor yang tertera disini.”
“Buat apa?” tanya Zahra ramah.
“Ibu Rina tidak memberitahuku, dia
bilang kalau Zahra bertanya hubungi beliau aja.” jawabnya ringan. “Aku pinjam
bukumu Komunikasi Interpersonal yah”
“Boleh, ambil aja di rak bukuku.”
Jawab Zahra ringan.
“Oke ukhti. Aku pergi dulu ya, mau jalan sama Dafa.” kata Muti senang.
Gadis berambut panjang itu meninggalkan sahabatnya, ia akan pergi bersama
pacaranya. Dafa Anggoro, mahasiswa Manajemen Bisnis, berasal dari keluarga
konglomerat, lelaki yang berperawakan tinggi, atletis, keren, modis, berwajah
tirus, bulu matanya yang hitam, serta lesung pipi di kedua pipi. Lelaki
sempurna yang diidamkan oleh semua wanita. Dafa lebih tua satu tahun dari
mereka.
Agung M. Ikhsan Dinata nama yang
tertera di kartu nama itu. Siapa dia? Zahra tak langsung menghubungi nomor yang
tertera di kartu nama tersebut, ia hanya membacanya dan memasukkan ke dalam
agendanya. Ia melihat jam tangannya, ternyata telah menunjukkan jam 2 siang, ia
harus segera menuju rumah muridnya. Zahra memang bekerja sebagai guru privat di
waktu luangnya untuk mencari uang memenuhi kebutuhan hidupnya.
***
Apartemen ini memang tidak bisa
digolongkan dengan tempat seorang mahasiswa yang terkesan sederhana. Berasal
dari keluarga kaya, Muti diberikan
fasilitas apartemen yang lengkap.
Apartemen yang memempunyai kamar utama dan satu kamar lainnya yang lebih kecil, ruang tamu, ruang tengah, serta dapur
yang dilengkapi dengan fasilitas memasak yang lengkap. Hanya satu ruang di
apartemen ini yang jarang sekali digunakan oleh Muti, yaitu dapur. Zahra lah
yang selalu menggunakannya.
Zahra
sibuk membolak-balik omolet agar tidak gosong. Bau wangi omolet tercium hingga
ruang tamu apartemen.
“Wah, baunya wangi sekali. Emmm....
mendadak lapar nihhh”
Suara berat itu membuyarkan
konsentasi Zahra. Dafa sudah bersandar di pintu dapur sambil berdecak pinggang.
“Astagfirullah!
Kak Dafa! Aku kira siapa? Bikin kaget aja.” jawab Zahra sembari menerusakan
pekerjaannya. Ia melanjutkan perkataannya “Muti belum pulang, paling masih di PSM.”
PSM (Paduan Suara Mahasiswa), Muti memang mengikuti UKM (Unit Kegiatan
Mahasiswa) tersebut, ia mengikuti kegiatan tersebut yang merupakan hobinya.
Tujuan
utama Dafa memang ingin mengajak Muti pergi, ia memang sengaja tidak
menghubungi gadis itu untuk memberikan kejutan. Tapi, tidak sesuai dengan harapannya.
Gadis itu sedang tidak ada di apartemennya. Ia tau Muti memang mengikuti waktu
di PSM, tapi sekarang bukan jadwalnya latihan. Sudah terlambat, batinnya.
“Aku ngak nyari Muti tapi numpang
makan.” jawab Dafa kemudian diikuti tawa ringan.
“Dasar, orang kaya tapi makan maunya
gratisan. Pelit!!” canda Zahra.
“Makanya cepat kaya karena hemat
bukan pelit.”
“Emmmm, mau makan harus kerja dulu.
So, ayo kesini bantu aku.”
“Siapa takut, nanti jangan nyesel
masakan kamu jadi gosong.”
Dafa
sibuk memotong wortel sesuai dengan arahan Zahra sedangkan Zahra sibuk
menyiapan bumbu sop karena mereka memang mau membuat sayur sop. Dafa terlihat serius, sesekali ia menatap
Zahra. Gadis itu memang selalu membuatnya kagum. Kepribadian gadis itu begitu
mengagumkan, ia tak pernah mengeluh dengan kondisi apapun, ia selalu menampakan
senyum walau sekalipun ia sedang bersedih, ia selalu dewasa dalam menyikapi
semua hal. Ia tahu Zahra memang selalu menjaga jarak dengannya agar tidak
menimbulkan kecemburuan Muti. Namun, hal itu membuatnya menggoda Zahra.
Tak lama kemudian, terdengar deritan
pintu, tanda dibuka oleh seseorang. Muncul seorang gadis, gadis cantik dengan
rambut panjangnya. Ia, itu Muti. Terlihat jelas gurat kelelahan diwajahnya.
Namun, langkah kaki gadis itu terhenti melihat Zahra dan Dafa. Cemburu? Apakah
ia harus cmburu dengan sahabatnya itu? Iri? Ntahlah. Sahaatnya itu memang
selalu membuat orang disekitarnya itu bahagia. Muti sadar betul, Zahra selalu
membuat orang nyaman berada disampingnya.
“Hemmmm, hemmmm…” Muti sengaja
menyapa mereka hanya dengan deraman suaranya.
“Ehhh, Muti! Kamu udah pulang. Aku
sama kak Dafa masak omelet dan sop nih. Kamu belum makan kan? Kita makan bareng
ya?” katanya Zahra sambil menyalin sop dari panci ke mangkok. Sementara Dafa
menyiapkan piring seperti yang diperintahkan oleh Muti.
“Halo beb. Kamu udah pulang, ayok
kita makan bareng. Kamu belum makan kan?” katanya tanpa melirik kearah Muti
sama sekali, ia hanya sibuk menata alat makan di atas meja.
Sambutan dingin Dafa, membuat
suasana hati Muti semakin buruk. “Aku mau mandi.” jawab Muti dingin. Terdengar
jelas dari nada Muti, nada cemburu. Kemudian, ia segera masuk ke kamarnya
dengan pintu sedikit dibanting. Kamar Muti memang kamar utama di apartemen ini,
sehingga mempunyai kamar mandi sendiri. Jauh berbeda dengan kamar Zahra, selain
ukurannya berbeda juga tidak memiliki kamar mandi.
Zahra sadar dengan sikap dingin sahabatnya.
Benar, sahabatnya cemburu dengan kedekatan ia dengan Dafa. Dafa, ntah kenapa
lelaki itu selalu membuatnya nyaman. Bersama Dafa adalah hal yang menyenangkan
baginya. Dafa, orang yang pertama yang dikenalnya di kota ini. Saat itu, ia tak
tau arah jalan menuju kampus itu dari terminal bis di kota Bandung. Ia
memberanikan diri untuk bertanya kepada seseorang. Ya, orang itu adalah Dafa.
Saat itu, Dafa baru kembali dari rumah orangtuanya di Jakarta. Ntah kenapa
Zahra percaya begitu saja dengan lelaki yang baru dikenalnya, ia menerima
begitu saja tawaran Dafa mengantarkannya menuju kampus UNPAD. Semenjak saat
itu, hubungan mereka menjadi dekat, hingga Dafa bertemu Muti. Ketika itu Dafa
mengunungi kampus Zahra, Zahra mengenalkan kepada Muti sahabatnya. Zahra
sendiri tidak pernah tau jelas cerita mereka bisa pacaran. Ia hanya tau mereka
berpacaran setelah sebulan saling mengenal. Zahra tak pernah ingin ikut campur
dengan urusan sahabatnya kecuali sahabatnya sendiri yang bercerita kepadanya.
Zahra
sendiri sadar, ia harus menjaga jarak dengan Dafa. Dafa adalah kekasih
sahabatnya, orang yang telah memberinya tempat tinggal. Walaupun ia harus
membalasnya dengan mengajarkan Muti semua kesulitan dalam pelajaran kuliah tapi
itu tak masalah baginya. Ia tak pernah mengganggap itu sebagai beban tapi
mengajarkan Muti adalah kewajiban baginya untuk membantu kesulitan sahabatnya.
Sahabatnya
cemburu. Muti cemburu kepadanya karena Dafa memasak bersamanya. Ia menghela
nafas, ia tak tau apa yang harus dilakukan agar sahabatnya tidak salah sangka
kepadanya. Telihat sekali, Zahra tengah berfikir apa yang seharusnya yang ia
lakukan.
“Kak….”
katanya kepada Dafa.
“Iya.”
jawab Dafa singkat. Ia masih tengah bolak-balik dapur dan meja makan, mengambil
piring dan alat makan lainnya, kemudian ia menatanya di atas meja makan.
“Muti
sepertinya sedang banyak pikiran. Kakak sebaiknya lebih sering ngobrol dan
bersama dia.” kata Zahra. Ia tidak yakin ucapannya
itu benar atau salah. Ia tak tau apakah perkataanya itu akan membuat Muti
menjadi lebih baik atau sebalinya.
“Iya
gitu? Aku lihat Muti baik-baik aja.” jawab Dafa cuek.
Zahra
hanya memberikan senyum kepada Dafa. Ia sangat tau Dafa adalah tipe lelaki yang
cuek. Ia tak pernah menunjukkan dengan kata-kata. Berbeda sekali dengan Muti
yang selalu ingin mendengar kata rayuan manis. Hal itu yang selalu membuat
Zahra binggung, kenapa Muti bisa berpacaran dengan Dafa.
Sementara
Dafa, sangat tahu arti senyum yang diberikan Zahra saat ini. Itu merupakan
perintah agar Dafa melakukan itu. “Siap, laksanakan!” jawab Dafa kemudian.
“Terimakasih
Kak.” Ia berkata sambil tersenyum.
Makan malam bersama, makan malam itu
berlangsung dengan kesunyian. Zahra tak berani untuk memulai pembicaraan, ia
tak mau akan memperburuk keadaan. Ia hanya fokus pada makanannya. Muti, raut
wajahnya masih sama. Terlihat jelas, cemburu! Sementara Dafa dengan cueknya
melahap makanannya.
Akhirnya makan malam pun usai. Zahra
langsung membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka.
Sebenarnya Dafa sangat ingin membantu Zahra, tapi ia menolahnya dengan halus.
Tanpa berkata pun, Dafa tahu apa yang diinginkan Zahra. Ia harus berbicara
dengan Muti. Sementara Muti, ia memang tak pernah mencuci piring. Berasal dari
keluarga kaya, Muti memang tidak pernah melakukan perkerjaan rumah tangga
bahkan kamarnya sendiri Zahra yang membersihkannya. Awalnya Muti ingin menyewa
seorang pembantu untuk mengurus apartemennya, tapi Zahra menolaknya, biar ia
saja yang melakukan pekerjaan itu. Ia berkata pada Muti saat itu, anggap saja
sebagai tugas ia karena sudah berikan tempat tinggal gratis.
Selesai
makan, Muti langsung menuju ruang tengah, ia langsung menyalakan televisi.
Terlihat jelas bahwa tidak sedang ingin
mentonton, setiap beberapa menit ia mengganti saluran.
Dafa
menghampiri Muti. Ia duduk disebelah Muti. Ia dengan cueknya mengambil remote
dari tangan Muti.
“Ini
baru seru” katanya.
Muti
hanya diam tak menghiraukan omongan Dafa. Ia hanya menatap lurus ke arah
televisi. Namun, tatapan itu bukanlah tatapan yang penuh minat terhadap acara
yang sedang ditontonnya. Sementara Dafa dengan cueknya menonton acara tersebut.
Dari kejauhan Zahra hanya memandang mereka berdua. Perasaan bersalah terus menyiksanya.
Zahra
telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan menuju kamar, ia menghentikan
langkahnya untuk berpamitan kepada mereka berdua.
“Aku
ke kamar duluan.” Katanya. Ia melanjutkan langkanya menuju kamar.
Ruangan
berukuran 3x3 meter, itulah ruangan untuk kamar tidur Zahra. Kamar ini tidak
memiliki tempat tidur, hanya memiliki kasur ukuran kecil untuk 1 orang. Di sisi
kiri, berjejeran buku-buku koleksi bacaan Zahra yang tertata rapi di lemari
buku. Disisi kanan terdapat lemari kecil tempat menyimpan baju. Lemari itu
hanya setinggi dada orang dewasa. Diatasnya, berjejeran figura dengan foto bangunan
suatu negara atau kota. Pernah suatu ketika Zahra tak sengaja bertemu dengan
Dafa ketika ia sedang mencetak foto Mezquita.
“Cantik!”
kata Dafa yang mengagetkan Zahra.
Ia
tau maksud Dafa adalah foto yang sedang dipenggangnya. “Benar, menandakan Islam
pernah eksis di Eropa.” Kata Zahra.
“Mezquita
dalam bahasa Spanyol yang berarti masjid. Masjid agung di kota Cordoba yang
sekarang dialih fungsikan sebagai Katedral Cordoba. Awalnya bangunan itu adalah
gereja yang bernama Katedral Saint Vincent yang dibangun tahun 600. Namun,
setelah Bani Ummayah berhasil menaklukan Spanyol, kaum muslim mengubahnya
sebagai masjid agung dengan keindahan pilar-pilar. Tahun 1236, tentara katolik
berhasil menaklukan kota Cordoba. Kemudian mengalihkan fungsikan menjadi
katedral, namun masih mempertahankan sebagian besar arstitektur asli masjid.”
Jelas Dafa.
“Great!” kata Zahra. Ia tak menyangkan
Dafa yang terlihat cuek mengetahui secara rinci sejarah Islam di Eropa.
“Bukan
itu saja jejak Islam pernah menguasai Eropa. Selain itu, menara Giralda, Medina
Azahara, Istana Alcazar, Aljaferia, Masjid Cristo de la Luz, Torre de Oro,
Alcazaba de Malaga.” Lanjut Dafa.
Zahra
memberikan senyum atas penjelasan yang diberikan Zahra. Bukan Zahra tak
mengetahuinya. Ia hanya tak menyangka Dafa yang terlihat cuek mengetahui
sejarah.
“Kamu
pasti ngak nyangka, menurut aku yang lebih unik itu Perancis.”
“Kenapa?”
pernyataan Dafa menimbulkan rasa ingin ingin tahunya.
“La tour Eiffel, L’arc de Triomphe, Musée du Louvre
kalau diperhatikan di Peta itu berada dalam satu garis lurus dan kalau garis
itu terus ditarik maka akan satu garis lurus dengan ka’bah. Ntah sengaja
bangunan itu dibangun seperti itu atau dengan ketidaksengajaan. Tapi, kalau
dipikir-pikir itu adalah salah satu tanda ajaran Islam itu benar, sama halnya
dengan kita sholat menghadap kiblat dan kiblat kita menghadap ka’bah, penyatu
umat Islam.” Dafa melirik ke Zahra, terlihat jelas ketetarikan Zahra dengan
semua ucapan Dafa. Dafa tersenyum dan melanjutkan penjelasannnya. “Oh ya… Yang
paling menakjubkan itu adalah lukisan Bunda Maria karya Ugolino di Musée du
Louvre. Di kerudung Bunda Maria terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic, yang
konan katanya berlafadz ‘Laa Illaha
Illallah’”
“SubhanaAllah”
hanya itu kata yang mampu terucap di mulut Zahra.
Setiap
memasuki kamar ini dan memandang deretan figura yang berisi foto-foto jejak Islam selalu membuat Zahra
tersenyum dan teringat penjelasan Dafa.
Zahra
tak langsung tidur ia mengmbil salah satu buku di lemari bukunya. Buku tersebut
bersampul warna merah jambu, tebal buku tersebut kira-kira 5 cm yang berjudul
Fiqih Wanita. Buku itu adalah hadiah ulang tahun ke-17 dari ayahnya. Hadiah
terakhir sebelum ayahnya meninggalkannya dan ibunya untuk selamanya.
Samar-samar
ia dapat mendengar percakapan Muti dan Dafa di ruang tengah.
“Kamu
ngapain kesini?” tanya Muti jutek.
“Ke
apartemen pacar ngapain lagi coba.” jawab Dafa cuek.
“Aku
ngak ada di apartemen dan kamu ngak kasih tau aku mau kesini. Bilang aja kamu
mau bertemu Zahra.” balas Muti Jutek.
“Ayolah
Muti, kamu masa sama Zahra cemburu. Dia sahabat kamu, sahabat aku."
“Tidak
ada persahabatan antara wanita dan pria.” balas Muti jutek.
“Kamu
ngak percaya sama aku?”
“Kamu
mempertanyaan itu sama aku? Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Muti membuang
muka, ia semakin kesal kepada Dafa. Ia tadinya berharap Dafa meranyunya, bukan
seperti ini yang ia inginkan. Dafa yang selalu memintanya untuk pengertian.
“Sepertinya
kamu sangat lelah Muti, lebih baik aku pulang agar kamu bisa istirahat.” kata
Dafa datar. Ia bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil kunci mobilnya di
atas meja dan berjalan menuju pintu. Dafa berhenti sejenak dan berkata, “Zahra
bukanlah orang patut kamu cemburui untuk merebut apa yang kamu miliki. Ia adalah orang yang selalu memberi
apapun untukmu tanpa kamu kamu sadari. Oh ya, tadi aku kesini mau mengajak kamu
kesitu.” Dafa menunjuk ke arah kertas yang terletak di meja kecil yang terletak
di samping televisi. “Aku pamit dulu.” Dafa meninggalan apartemen Muti.
Muti
memandang kertas yang terletak di atas meja di samping televisi. Ia tertegun
melihat kertas itu, dua tiket konser musik Jazz. Ia baru ingat malam ini konser
tunggal Sandy Sandoro disebuah hotel di Bandung. Penyesalan itu selalu datang
terakhir. Ia telah berprasangka buruk kepada kekasih dan sahabatnya. Ia melirik
jam dinding, jam 10.30. Sudah terlambat batinya. Ia ingin menyusul Dafa. Dafa
pasti sudah pergi dengan mobilnya ke kostanya di Kota Bandung. Zahra, Muti, dan
Dafa memang satu universitas, tapi letak kampus mereka berbeda. Kampus Dafa
terletak di Dipati Ukur, di Kota Bandung sedangkan kampus Zahra dan Muti terletak
di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Zahra?
Apakah ia harus meminta maaf pada Zahra? Tapi bukanlah kepribadian Muti. Latar
belakang keluarga membuatnya mempunyai sifat gengsi untuk meminta maaf. Ia memutuskan masuk kamar dengan penuh
penyesalan.
Zahra
hanya menghela nafas panjang mendengar percakapan Dafa dan Muti. Ia kembali
fokus dengan buku ditangannya.
Berselang
waktu telepon genggamnya berbunyi.
Ia
menggapai telepon genggamnya yang terletak di atas meja kecil disamping lemari
pakaian. Di layar hp nya tertulis, 1 pesan masuk. Ia membuka pesan itu.
Assalamu’alaikum.
Terimakasih
untuk makan malamnya. Maaf tidak sempat pamit. Nice dream… ^_^
Dafa
Ia kemudian menekan tombol balas dan mulai mengetik.
Wa’alaikukumsalam
Wr. Wb.
Kembali
kasih, kak.
Hati-hati
nyetirnya…
Zahra
Ia melirik jam
dinding di kamarnya, 11.00 WIB. Ia menutup bukunya, mematikan lampu kamar, dan
membaringkan tubuhnya di atas kamus. Setengah jam kemudian telepon genggamnya
kembali bordering. Siapa yang mengirim pesan malam begini? Ia sebenarnya malas
untuk menggapai telepon genggam. Siapa tau penting pikirnya.
Oh, dilayar Hp
nya tertulis ‘Why do you give all person
your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think
you, I will be crazy’
Pesan itu lagi
batinya. Ia segera menghapus pesan itu dan memutuskan untuk melanjutkan
tidurnya.


