Senin, 02 Januari 2017

Zahra - Bab 2

                                                                          Dua

          Jejeran rak dipenuhi buku-buku tersusun rapi.  Ratusan pemikiran dan penelitian ilmuan terekam indah diatas kertas. Benar! Buku adalah jendela dunia. Para mahasiswa tengah asik dengan kegiatanya masing-masing. Ada yang asik dengan buku bacaannya. Ada yang tenggelam dengan referensi skripsi beserta laptop di depannya. Ada yang asik dengan bacaan majalah bahkan, ada yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat pedekate. Hening! Sesekali terdengar suara balikan buku serta keyboard laptop yang dipencet oleh pemiliknya. Ya, begitulah suasana perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi.
            Ia berdiri di antara deretan rak buku sejarah. Sejarah adalah bacaan favoritnya. Baginya, sejarah bukan saja masa lalu tapi sejarah adalah bukti eksistensi manusia. Ia memutuskan mengambil buku sejarah Minangkabau. Ia tersenyum sekilas, ‘saatnya aku menggenalmu ayah’, batinya. Ia meminjam buku tersebut karena ayahnya adalah asli Minangkabau. Ia mendengar cerita dari ibunya, semenjak menikah dengan ibu, ayah tak pernah pulang bahkan membahas tentang minangkabau. Ia hanya tau penikahan ayah dan ibu tidak direstui oleh pihak keluarga ayah karena ibu berasal dari keluarga sederhana dari pedalaman Kalimantan. Pertemuan ayah dan ibu karena ayah adalah seorang pengajar muda yang mengikuti program guru untuk daerah terpencil. Hingga akhirnya mereka menikah dan mereka memutuskan untuk tinggal dengan sederhana di desa ibunya.
            Ia menggambil buku tersebut dan berjalan ke meja. Ia berpapasan dengan dosen setengah baya namun masih terlihat sangat cantik. Dosen itu adalah ibu Rina, salah satu dosen jurnalistik.
            “Zahra, kamu sudah menghubungi nomor di kartu nama yang saya kasih?” tanya ibu Rina.
            “Astagfirullah.” Ia baru teringat kartu nama yang diberikan Muti beberapa hari yang lalu. Ia hanya menyimpan kartu nama itu ke dalam agendanya. “Maaf bu, belum saya hubungi. Nanti sehabis makan siang saya hubungi. Kalau boleh saya, siapa yang harus saya hubungi itu?” kata Zahra sopan.
           “Agung! Dia mahasiswa program spesialis fakultas kedokteran. Ia membutuhkan bantuanmu.” jelas bu Rina.
            “Bantuan saya? Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi. Saya baru tingkat dua, sedangkan beliau seorang mahasiswa spesialis. Apa ibu tidak salah?” tanya Zahra heran.
           “Tidak! Kamu yang paling tepat untuk membantunya. Saya sudah merekomendasikanmu pada Agung.”  jawab bu Rina tegas.
            “Maaf bu, bantuan seperti apa yang beliau butuhkan?”
            “Kamu akan tahu setelah menghubunginya?”
            “Baik bu.”
          Ibu Rina memang dosen yang sangat tegas di kampus. Terkenal akan kedisiplinannya. Sebagian besar mahasiswa takut kepadanya, bahkan cenderung menghindar untuk berurusan dengan beliau.
            Zahra sebenarnya memang sedikit takut bila menghadap beliau. Semenjak pertama kuliah ibu Rina memang selalu menyuruh Zahra. Ia menyuruh untuk mengumpulkan tugas-tugas temannya, bahkan Zahra adalah penerima informasi tentang kehadirannya di kelas, maupun tugas mata kuliahnya untuk disampaikan kepada teman-temannya.

            Cacing diperut Zahra sudah mulai bernyanyi. Ah iya, ia belum makan siang. Ia menyusuri koridor menuju kantin.
Kantin begitu ramai, ia melirik disekitarnya. Oh God, tidak ada bangku kosong. Ia membawa nampan untuk makan siangnya. Ia terus mencari-cari bangku kosong. Ketika ia memandang ke pojok kanan kantin, Muti melambaikan tangan kepadanya mengajak untuk bergabung. Muti duduk bersama dua temannya, Zahra mengenalnya sebagai Nevan dan Arga. Nevan dan adalah mahasiswa jurusan manajemen komunikasi, sedangkan Arga adalah mahasiswa jurusan brokesting.
Sebenarnya Zahra enggan untuk bergabung dengan mereka. Ia tahu bahwa Nevan menyukainya, sudah beberapa kali Nevan menyatakan cinta kepadanya tapi selalu ditolaknya, tetapi lelaki itu tidak pernah bosan untuk mengejarnya. Ia terpaksa harus duduk disana karena tak ada pilihan lain.
“Silahkan tuan putri” kata Nevan sambil menarik kursi untuknya. Sebetulnya kursi kantin itu tak perlu ditarik, tapi itulah Nevan, ia selalu berusaha untuk menarik perhatian Zahra.
“Assalamu’alaikum” kata Zahra singkat.
“Opssss…. Lupa. Wa’alaikumsalam.” kata Nevan kemudian.
“Ra, kamu kemana aja sih? Tadi pagi tiba-tiba pas aku bangun, kamu udah nggak ada di apartemen. Tadi habis kelas langsung menghilang.” tanya Muti.
Dalam hati Zahra bersyukur, sahabatnya telah kembali bersikap normal kepadanya, seolah-olah kejadian tadi malam tidak pernah terjadi.
Zahra tersenyum dan berkata, “Seperti biasa, my favorite place.”
“Dimana tuh Ra?” tanya Nevan tertarik.
Zahra tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum.
“Ah Ra, kakanda Nevan penasan tuh Ra, kalau nggak dikasih tau bisa nggak tidur dia ntar malam.” ceroros Arga.
Nevan menyikut Arga.
“Auuuu, sakit tau!”
Zahra hanya tersenyum melihat kelakuan Arga dan Nevan.
“Lo mau tau cuy?” tanya Muti ke Nevan.
“Ah lo, Muti, kayak nggak tau Nevan aja, pasti dia mau tau lah. Dia tuh cuma malu-malu kucing.”
“Kalau lo mau nyari dia, cari aja di perpus, kalau nggak ada lo cari aja tuh di Arboretum, pasti lo menemukan si tuan putri.” jelas Muti.
Zahra melirik Muti untuk jangan memberitahu kebiasaanya. Tapi dasar Muti, ia memang senang menjodohkan Zahra.
Muti berdiri menarik tangan Arga. “Ya, anterin gue ke favorite deh.” Favorite adalah toko yang menjual alat-alat tulis yang teletak di gerbang kampus. Ia sengaja mengajak Arga untuk membiarkan Zahra dan Nevan agar mempunyai waktu bersama.
Sepeninggalan Muti dan Arga. Nevan memanfaatkan waktunya bersama Zahra. Selama ini Zahra selalu menghindar berdua dengannya. Sekarang Zahra tidak ada alasan untuk menghindari, pikir Nevan. Zahra melirik jam ditanganya, 13.00 WIB, ia ada kelas jam 3 sore, berarti 2 jam lagi. Pamitan untuk sholat? Ah, ia sudah sholat sebelum ke kantin. Bukan Zahra namanya, yang hanya pasrah dengan keadaan.
Oh… Ia teringat jika ia harus menghubungi nomor yang diberikan ibu Rina. Itu tak mengulur-ulur waktu lagi. Ia berpikir itu adalah cara yang terbaik agar Nevan tidak terlalu banyak bertanya dan bercerita. Ia mengeluarkan kartu nama yang tersimpan di agendanya. Ia mengambil telepon genggamnya dan mulai mengetik pesan singkat.

Salam.
Selamat siang, benar ini dengan pak Agung?
Saya Zahra, saya diminta ibu Rina untuk menghubungi bapak. Kata beliau bapak membutuhkan bantuan saya, bantuan seperti apa yang bapak butuhkan dari saya?
Terimakasih.
Zahra.

Zahra meletakkan telepon genggamnya di atas meja. Sementara itu, Nevan terus saja menanyakan yang berhungan dengannya, sembari mencari perhatian. Zahra hanya mendengarkan dengan pasrah. Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering. Ia menarik nafas lega, setidaknya ia bisa sejenak memberhentikan Nevan untuk bertanya tentangnya. Ia mengmbil ponsel nya, di layar Hp tersebut muncul nomor yang baru ia kirimin pesan. Ia memencet tombol warnah hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinganya.
“Halo” kata Zahra.
“Halo, Selamat siang.” sapa seseorang diseberang sana. “Terimakasih telah menghubungi saya. Saya Agung M. Ikhsan.” suara itu terdengar ramah, berwibawa, tegas, dan sopan.
“Selamat siang, saya Zahra. Ibu Rina meminta saya untuk menghubungi anda, beliau bilang, anda membutuhkan bantuan saya. Bantuan seperti apa yang bisa saya berikan kepada anda?” Tanya Zahra ramah.
“Sebaiknya kita membicarakan ini tidak melalui telepon. Kapan mbak Zahra ada waktu untuk bertemu dengan saya?”
Zahra tampak berpikir, “Dalam minggu ini sepertinya saya sudah memiliki agenda. Bagaimana kalau Sabtu depan?”
“Ohhh, begitu lama sekali, tidak ada waktu setidaknya 15 menit untuk bertemu dengan saya?”
“Kalau bapak tidak keberatan, hari ini saya mempunyai waktu kosong sampai jam 3 sore nanti….” belum sempat Zahra menjelaskan, perkataannya sudah dipotong.
“Oke, saya bisa. Dimana saya bisa menemui anda?” suaranya terdengar senang dan antuasias.
“Di kampus saya, saya sedang berada di kantin Fikom. Bapak bisa menemui saya disini.”
“10 menit lagi saya sampai disana.” Sambungan telepon langsung dimatikannya.
Nevan hanya terheran melihat Zahra. Ia ingin tau dengan siapa Zahra berbicara.
“Siapa Ra?” tanyanya penasaran.
“Mahasiswa spesialis kedokteran.” jawab Zahra singkat.
“Ada apa kamu sama dia?” tanya Nevan penasaran.
“Ada urusan.”
“Ya, urusan apa?” nada suara itu sedikit meninggi. Sehingga orang disebelah mereka memandang kepada mereka.
“Bisa pelankan suaramu sedikit!” pinta Zahra.
“Sorry Ra, tapi perasaanku….”
Belum sempat Nevan melanjutkan pembicaraanya langsung dipotong oleh Zahra.
“Sekali aku minta maaf Nevan. Kamu sudah tahu jawaban aku kan? Lebih baik kita berteman saja Nevan. Aku harap kamu mengerti Nevan. Banyak gadis diluar sana yang lebih baik dari aku.”
“Tapi Ra…”
“Nevan, please….!!”
Nevan masih saja meyakinkan Zahra. Percakapan mereka terhenti ketika muncul seorang lelaki. Lelaki itu kira-kira berumur 25 tahun, wajahnya tirus, tingginya kira-kira 180 cm, berpakaian rapi, rambut hitam kecoklatan yang tertata rapi, matanya bening, menggunakan kacamata minus, kaca mata itu tidak membuatnya terlihat culun tapi justru membuat ia terlihat dewasa.
“Permisi, saya mencari Zahra Putri Salsabilla. Apakah anda mengenalnya ?” tanyanya ramah.
“Oh, anda pasti Bapak Agung M. Ikhsan Dinata, saya Zahra.” kata Zahra ramah, ia bangkit menyambut kedatangan Agung.
“Selamat siang Zahra, perkenalkan saya Agung M. Ikhsan Dinata.” Ikhsan memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan tanda perkenalan. Zahra tidak menjabat tangannya, ia hanya menangkupkan kedua tangan di dadanya, salam seharusnya salam antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram.
“Selamat siang, senang berkenalan dengan bapak Agung.”
“Panggil saya Ikhsan saja, tidak usah ada tambahan bapak, saya belum setua itu.” katanya sambil tertawa ringan.
“Tidak sopan sepertinya saya memanggil anda dengan nama. Emmm, karena anda adalah mahasiswa spesialis kedokteran bagaimana kalau saya panggil dokter saja.”
“Saya disini tidak prektek, panggil saja mas saja.”
“Baiklah. Oh iya, perkenalkan ini teman saya, Nevan.” kata Zahra sambil menunjuk kearah Nevan.
“Nevan” kata Nevan sambil mengulurkan tangannya ke Ikhsan. Telihat jelas ketidaksukaan Nevan akan kehadiran Ikhsan.
Ahh, Ikhsan menyadarinya ketika Nevan menjabat tanganya dengan kasar. Benar, itu mendakan ketidaksukaan Nevan terhadap sosok Ikhsan. Lelaki ini pasti mempunyai perasaan khusus kepada gadis ini? Pikir Ikhsan. Ia bersikap tenang, ia sama sekali tidak terdiskriminasi dengan sikap Nevan. Ia kemudian berkata, “Maaf mengganggu makan siang kalian. Saya ada sedikit keperluan dengan Zahra.” jelasnya.
“Oh tidak apa-apa pak, ehh mas.. Boleh saya tau mas butuh bantuan saya apa?” tanya Zahra.
“Sebenarnya tidak enak kalau dibicarakan disini, tapi berhubung kita hanya bisa bertemu hari ini, saya langsung saja tidak masalah kan?”
“Oh tidak masalah mas. InsyaAllah saya akan membantu mas semampu saya.”
“Begini Zahra, saya membutuhkan seorang penulis untuk penelitian saya. Saya kurang mengetahui tentang dunia penulisan dan jurnalistik. Sebelumnya saya meminta Ibu Rina untuk membantu saya dalam penulisan hasil penelitian saya. Berhubung beliau sibuk, beliau merekomendarikan kamu untuk membantu saya dalam penulisan hasil penelitian tersebut.”
“Ohhh, tapi saya bukanlah seorang propesional. Cara penulisan dan tulisan saya tidak sebaik Ibu Rina.”
“Saya percaya tulisan kamu pasti bagus, karena Ibu Rina sendiri yang merekomendasikan kamu.”
“Tapi…..”
“Ayolah Zahra, ini adalah penelitian untuk tesis saya. Saya harus menerbitkan artikel hasil penelitian saya. Saya membutuhkan seorang jurnalis untuk menulis menjadikan sebuah artikel.” mohon Ikhsan.
Nampak Zahra berfikir sejanak, sejujurnya ia tidak yakin akan bisa membantu Ikhsan dengan baik. Ia merasa dirinya belum bisa menghasilkan tulisan yang bagus sehingga pembaca tertarik membaca tulisannya. Namun, ia tidak mungkin menolak pemintaan Ibu Rina untuk membantu Ikhsan.
 “Baiklah. Saya akan membantu semampu saya. Mas bisa mengirimkan hasil penelitiaan ke email saya.” kata Zahra akhirnya. Ia mengambil note di dalam tasnya dan menulis alamat emailnya di kertas itu. “Ini alamat email saya,  mas bisa kirim hasilnya.”
“Baiklah, akan segera saya kirim. Oh iya, soal fee bagaimana?” tanya Ikhlas sungkan.
Zahra tersenyum dan berkata “Tidak usah dipikirkan mas, saya ikhlas membantu mas. Mudah-mudahan tulisan saya bisa diterima penerbit.”
“Oh tidak bisa begitu Zahra. Saya tidak mau berhutang budi sama orang.”
“Itu bukan utang budi mas. Anggap saja, mas membantu saya mengembangkan kemampuan saya dalam penulisan.”
“Kamu yang membantu saya, jadi kamu berhak menerima imbalan. Saya tidak mau menerima bantu dengan cuma-cuma.”
“Kalau begitu berikan saja imbalan atas jasa saya kepada orang yang lebih membutuhkan.” kata Zahra akhirnya.
“Kalau begitu mau kamu, baiklah. Saya tidak bisa lama-lama, saya harus bertemu dengan dengan dosen saya. Terimaksih atas waktunya. Saya permisi dulu.” kata Ikhsan sambil pamitan.
“Kembali kasih” kata Zahra sambil tersenyum ramah.
“Maaf telah mengganggu waktu anda dengan Zahra.” kata Ikhlas kepada Nevan. Nampak kedua pria tersebut saling tatap. Mereka saling memberikan tatapan tajam. Zahra mengerti tatapan mata mereka, tatapan yang menandakan ketidaksukaan antara satu dan lainnya.
Ponsel Zahra kembali berbunyi, ‘pesan masuk‘ batin Zahra. Ia mengambil ponselnya dan membuka pesan itu. Nomor tak di kenal, ia menarik nafas. Ia sudah bisa menebak, pesan misterius itu lagi.
‘Why do you give all people your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’.
Zahra menyapu pandangan kesekitarnya. Ia yakin pengirim pesan misterius itu ada disekelilingnya. Nihil! Tak ada yang aneh, semua orang sibuk dengan aktifitasnya.

Dafa berdiri dipintu kantin. Ia telah berada disitu dari beberapa menit yang lalu. Hanya bisa tepaku melihat ketegangan antara Nevan dan seorang lelaki berkaca mata. Ia yakin Zahra merasa terganggu dengan sikap Nevan. Siapa lelaki asing yang bersama Zahra? Lelaki itu terlihat dewasa, rapi, bahkan terlihat sudah mapan. Lelaki itu mampu mengitimidasi lawan bicaranya. Siapa lelaki itu? pikir Dafa. Dafa berjalan kearah Zahra dan Nevan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” jawab Zahra lembut kemudian menoleh ke arah datangnya suara.
Dafa menarik kursi di sebelah Nevan. “Lelaki tadi siapa Ra?” tanya Dafa penasaran.
“Residen kak, kenalan bu Rina, beliau meminta aku membantunya dalam penulisan hasil penelitiannya untuk diterbitkan menjadi sebuah artikel.” jelas Zahra singkat.
“Cakep loh ra, boleh tuh Ra.” goda Dafa.
Sementara itu, Nevan terlihat sangat jengkel dengan perkataan Dafa. “Cakep apaan? Terlihat tua begitu” katanya jutek.
“Come on man, itu mapan bukan tua. Calon spesialis, cakep, perfect!!” balas Dafa.
“Astagfirullah. Udah ya bahas itu. Oh ya, kakak ngapain kesini? Mau ketemu Muti? Dia lagi ke favorite sama Arga.” kata Zahra untuk mengalihkan pembicaraan.
“Aku kesini mau ketemu kamu.” kata Dafa sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Dafa menyerahkan bungkusan itu kepada Zahra.
“Apa ini kak?” tanya Zahra heran.
“Dari Bunda, buka aja. Kemaren aku lupa membawanya.”
Zahra membuka bungkusan tersebut. Sebuah gamis bewarna pink baby serta sebuah kerudung yang sangat indah. Mata Zahra menjadi berkaca-kaca melihat gamis serta kerudung pemberian Ibu Alya, ibunya Dafa.
“Kak ini….” Zahra tak mampu meneruskan perkataannya. Ia ingat sekali itu gamis yang sangat diinginkannya. Gamis yang ia lihat di majalah yang ia beli dua minggu yang lalu. Gamis itu terdapat kerutan di bagian pinggang kanan serta  dihiasi beberapa bunga mawar merah yang menonjol dikerutan tersebut sehingga terkesan anggun. Kenapa Ibu Alya tahu ia menginginkannya.
“Kamu pasti bertanya kenapa Bunda bisa tahu?” tanya Dafa.
Zahra hanya mengganguk. Ia masih terharu dengan kado yang diterimanya.
“Ingat kamu ninggalin majalah kamu di mobil aku. Bunda gak sengaja melihat majalah itu, waktu aku ke Jakarta minggu lalu. Bunda tanya di majalah siapa? aku jawab itu punya kamu. Bunda nggak sengaja membaca tulisan kamu dihalaman baju itu. Waktu aku mau balik ke Bandung, Bunda titip itu buat kamu.” jelas Dafa.
“Makasih,” ucap Zahra parau.
“Bukan sama aku. Kamu telfon aja Bunda, Bunda pasti akan sangat senang”, ucap Dafa sambil merapikan rambutnya. “Muti masih lama?” tanya Dafa kemudian.
Zahra memandang Dafa sejenak. Ekspresi Dafa sangat sulit diartikan, apa Dafa dan Muti sudah berbaikan?
“Mungkin sebentar lagi?” jawab Zahra.
Dafa bangkit dari duduknya. Ia hendak pamit. “Aku pamit, Rian nunggu di parkiran,” ucap Dafa.
Zahra menghela nafasnya. Dafa pasti belum berbaikan dengan Muti. “Nggak nunggu Muti dulu?” tanya Zahra parau.
Dafa tersenyum. Senyum Dafa terlihat terpaksa. “Belum waktunya,” ucap Dafa. Dafa melirik ke arah Nevan, “Awas kalau Zahra sampai lecet!” ucap Dafa sangar. “Lo tau kan akibatnya untuk keluarga lo?” ancam Dafa.
Raut muka Nevan berubah seketika. Ia sangat ketakuan, ia tahu ancaman Dafa bukanlah ancaman sembarangan.
“Assalamu’alaikum,” pamit Dafa.
“Wa’alaikumsalam,” balas Zahra.

Dari kejahuan seorang gadis berdiri mematung menyaksikan kejadian itu. Ia sudah lama berdiri menyaksikan pemberikan kado dari Dafa untuk Zahra. Mata gadis itu sudah mulai memerah. Setan pun mulai menguasai tubuhnya. Ia terbakar cemburu. Ia menggepalkan kedua tangannya.

Senin, 24 Oktober 2016

Zahra - Bab 1

Satu

            Arboretum begitulah nama tempat ini,  berbagai macam pohon terdapat di tempat ini yang biasanya digunakan untuk penelitian mahasiswa FMIPA. Saung-saung menjadi tempat yang sering digunakan mahasiswa untuk belajar, diskusi, maupun melepas lelah di tempat ini. Zahra Putri Salsabilla terpaku dengan buku bacaannya, ia tidak mempedulikan keadaan disekitarnya. Tempat ini menimbulkan kedamai tersendiri baginya, apalagi saung favoritnya ini. Saung yang menghadap ke danau buatan ditempat ini. Ya, sebenarnya ini tidak pantas disebut sebuah danau terlalu kecil untuk disebut danau.
            “Hei!!”
            Zahra tak menggubris sapaan gadis berambut panjang itu. Ia hanya terpaku kepada buku yang sedang dibacanya.
            “Assalamu’alaikum ukhti!!”
            Ucapan salam itulah yang sontak menghentikan bacaannya. Sesok perempuan sudah berada disampingnya. Ia mengenali gadis sebagai Cahaya Mutiara Alatas, sahabat, teman sekamar dan teman sekelasnya, dia menarik nafas lega.
            Zahra memang bukan berasal dari keluarga kaya, ia hanya seorang yang beruntung mendapatkan beasiswa dikampus ternama. Ia bukan penduduk asli kota ini, ia hanya pendatang yang berasal dari daerah terpencil di Pulau Kalimantan. Awalnya ia tidak tau tinggal dimana di kota ini, jangankan untuk menyewa kamar, makan pun ia harus mencari uang sepulang kuliah. Kebaikan hati Mutiara yang menawarkannya tempat tinggal di apartemennya. Benar, Mutiara adalah putri bungsu dari keluarga kaya, ia cantik, baik, namun untuk kepintaran jauh dibawah Zahra. Tinggal bersama Zahra sangat membantu dalam pendidikannya.  
            “Wa’alaikumsalam ukhti!!” Zahra menjawab dengan lembut. “Kamu membuat aku sedikit terkejut Muti.”
            Muti hanya tersenyum lebar. “Kamu terlalu sibuk dengan bukumu itu”
            “Buku itu gudang ilmu Muti, manusia itu haus akan ilmu maka sebaiknya harus memimba ilmu. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berilmu.”
            “Iya deh, aku mengerti,” kata Muti. “Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, sebelum aku lupa.” kata Muti sambil mengeluarkan kartu nama ditas nya. “Ibu Rina meminta kamu untuk menghubungi nomor yang tertera disini.”
            “Buat apa?” tanya Zahra ramah.
            “Ibu Rina tidak memberitahuku, dia bilang kalau Zahra bertanya hubungi beliau aja.” jawabnya ringan. “Aku pinjam bukumu Komunikasi Interpersonal yah”
            “Boleh, ambil aja di rak bukuku.” Jawab Zahra ringan.
            “Oke ukhti. Aku pergi dulu ya, mau jalan sama Dafa.” kata Muti senang. Gadis berambut panjang itu meninggalkan sahabatnya, ia akan pergi bersama pacaranya. Dafa Anggoro, mahasiswa Manajemen Bisnis, berasal dari keluarga konglomerat, lelaki yang berperawakan tinggi, atletis, keren, modis, berwajah tirus, bulu matanya yang hitam, serta lesung pipi di kedua pipi. Lelaki sempurna yang diidamkan oleh semua wanita. Dafa lebih tua satu tahun dari mereka.
            Agung M. Ikhsan Dinata nama yang tertera di kartu nama itu. Siapa dia? Zahra tak langsung menghubungi nomor yang tertera di kartu nama tersebut, ia hanya membacanya dan memasukkan ke dalam agendanya. Ia melihat jam tangannya, ternyata telah menunjukkan jam 2 siang, ia harus segera menuju rumah muridnya. Zahra memang bekerja sebagai guru privat di waktu luangnya untuk mencari uang memenuhi kebutuhan hidupnya.

***

            Apartemen ini memang tidak bisa digolongkan dengan tempat seorang mahasiswa yang terkesan sederhana. Berasal dari keluarga kaya, Muti  diberikan fasilitas apartemen  yang lengkap. Apartemen yang memempunyai kamar utama dan satu kamar lainnya yang lebih  kecil, ruang tamu, ruang tengah, serta dapur yang dilengkapi dengan fasilitas memasak yang lengkap. Hanya satu ruang di apartemen ini yang jarang sekali digunakan oleh Muti, yaitu dapur. Zahra lah yang selalu menggunakannya.
Zahra sibuk membolak-balik omolet agar tidak gosong. Bau wangi omolet tercium hingga ruang tamu apartemen.
            “Wah, baunya wangi sekali. Emmm.... mendadak lapar nihhh”
            Suara berat itu membuyarkan konsentasi Zahra. Dafa sudah bersandar di pintu dapur sambil berdecak pinggang.
            “Astagfirullah! Kak Dafa! Aku kira siapa? Bikin kaget aja.” jawab Zahra sembari menerusakan pekerjaannya. Ia melanjutkan perkataannya “Muti belum pulang, paling masih di PSM.” PSM (Paduan Suara Mahasiswa), Muti memang mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) tersebut, ia mengikuti kegiatan tersebut yang merupakan hobinya.
Tujuan utama Dafa memang ingin mengajak Muti pergi, ia memang sengaja tidak menghubungi gadis itu untuk memberikan kejutan. Tapi, tidak sesuai dengan harapannya. Gadis itu sedang tidak ada di apartemennya. Ia tau Muti memang mengikuti waktu di PSM, tapi sekarang bukan jadwalnya latihan. Sudah terlambat, batinnya.
            “Aku ngak nyari Muti tapi numpang makan.” jawab Dafa kemudian diikuti tawa ringan.
            “Dasar, orang kaya tapi makan maunya gratisan. Pelit!!” canda Zahra.
            “Makanya cepat kaya karena hemat bukan pelit.”
            “Emmmm, mau makan harus kerja dulu. So, ayo kesini bantu aku.”
            “Siapa takut, nanti jangan nyesel masakan kamu jadi gosong.”
Dafa sibuk memotong wortel sesuai dengan arahan Zahra sedangkan Zahra sibuk menyiapan bumbu sop karena mereka memang mau membuat sayur sop.  Dafa terlihat serius, sesekali ia menatap Zahra. Gadis itu memang selalu membuatnya kagum. Kepribadian gadis itu begitu mengagumkan, ia tak pernah mengeluh dengan kondisi apapun, ia selalu menampakan senyum walau sekalipun ia sedang bersedih, ia selalu dewasa dalam menyikapi semua hal. Ia tahu Zahra memang selalu menjaga jarak dengannya agar tidak menimbulkan kecemburuan Muti. Namun, hal itu membuatnya menggoda Zahra.
            Tak lama kemudian, terdengar deritan pintu, tanda dibuka oleh seseorang. Muncul seorang gadis, gadis cantik dengan rambut panjangnya. Ia, itu Muti. Terlihat jelas gurat kelelahan diwajahnya. Namun, langkah kaki gadis itu terhenti melihat Zahra dan Dafa. Cemburu? Apakah ia harus cmburu dengan sahabatnya itu? Iri? Ntahlah. Sahaatnya itu memang selalu membuat orang disekitarnya itu bahagia. Muti sadar betul, Zahra selalu membuat orang nyaman berada disampingnya.
            “Hemmmm, hemmmm…” Muti sengaja menyapa mereka hanya dengan deraman suaranya.
            “Ehhh, Muti! Kamu udah pulang. Aku sama kak Dafa masak omelet dan sop nih. Kamu belum makan kan? Kita makan bareng ya?” katanya Zahra sambil menyalin sop dari panci ke mangkok. Sementara Dafa menyiapkan piring seperti yang diperintahkan oleh Muti.
            “Halo beb. Kamu udah pulang, ayok kita makan bareng. Kamu belum makan kan?” katanya tanpa melirik kearah Muti sama sekali, ia hanya sibuk menata alat makan di atas meja.
            Sambutan dingin Dafa, membuat suasana hati Muti semakin buruk. “Aku mau mandi.” jawab Muti dingin. Terdengar jelas dari nada Muti, nada cemburu. Kemudian, ia segera masuk ke kamarnya dengan pintu sedikit dibanting. Kamar Muti memang kamar utama di apartemen ini, sehingga mempunyai kamar mandi sendiri. Jauh berbeda dengan kamar Zahra, selain ukurannya berbeda juga tidak memiliki kamar mandi.
            Zahra sadar dengan sikap dingin sahabatnya. Benar, sahabatnya cemburu dengan kedekatan ia dengan Dafa. Dafa, ntah kenapa lelaki itu selalu membuatnya nyaman. Bersama Dafa adalah hal yang menyenangkan baginya. Dafa, orang yang pertama yang dikenalnya di kota ini. Saat itu, ia tak tau arah jalan menuju kampus itu dari terminal bis di kota Bandung. Ia memberanikan diri untuk bertanya kepada seseorang. Ya, orang itu adalah Dafa. Saat itu, Dafa baru kembali dari rumah orangtuanya di Jakarta. Ntah kenapa Zahra percaya begitu saja dengan lelaki yang baru dikenalnya, ia menerima begitu saja tawaran Dafa mengantarkannya menuju kampus UNPAD. Semenjak saat itu, hubungan mereka menjadi dekat, hingga Dafa bertemu Muti. Ketika itu Dafa mengunungi kampus Zahra, Zahra mengenalkan kepada Muti sahabatnya. Zahra sendiri tidak pernah tau jelas cerita mereka bisa pacaran. Ia hanya tau mereka berpacaran setelah sebulan saling mengenal. Zahra tak pernah ingin ikut campur dengan urusan sahabatnya kecuali sahabatnya sendiri yang bercerita kepadanya.
Zahra sendiri sadar, ia harus menjaga jarak dengan Dafa. Dafa adalah kekasih sahabatnya, orang yang telah memberinya tempat tinggal. Walaupun ia harus membalasnya dengan mengajarkan Muti semua kesulitan dalam pelajaran kuliah tapi itu tak masalah baginya. Ia tak pernah mengganggap itu sebagai beban tapi mengajarkan Muti adalah kewajiban baginya untuk membantu kesulitan sahabatnya.
Sahabatnya cemburu. Muti cemburu kepadanya karena Dafa memasak bersamanya. Ia menghela nafas, ia tak tau apa yang harus dilakukan agar sahabatnya tidak salah sangka kepadanya. Telihat sekali, Zahra tengah berfikir apa yang seharusnya yang ia lakukan.
“Kak….” katanya kepada Dafa.
“Iya.” jawab Dafa singkat. Ia masih tengah bolak-balik dapur dan meja makan, mengambil piring dan alat makan lainnya, kemudian ia menatanya di atas meja makan.
“Muti sepertinya sedang banyak pikiran. Kakak sebaiknya lebih sering ngobrol dan bersama dia.” kata Zahra. Ia tidak yakin ucapannya itu benar atau salah. Ia tak tau apakah perkataanya itu akan membuat Muti menjadi lebih baik atau sebalinya.
“Iya gitu? Aku lihat Muti baik-baik aja.” jawab Dafa cuek.
Zahra hanya memberikan senyum kepada Dafa. Ia sangat tau Dafa adalah tipe lelaki yang cuek. Ia tak pernah menunjukkan dengan kata-kata. Berbeda sekali dengan Muti yang selalu ingin mendengar kata rayuan manis. Hal itu yang selalu membuat Zahra binggung, kenapa Muti bisa berpacaran dengan Dafa.
Sementara Dafa, sangat tahu arti senyum yang diberikan Zahra saat ini. Itu merupakan perintah agar Dafa melakukan itu. “Siap, laksanakan!” jawab Dafa kemudian.
“Terimakasih Kak.” Ia berkata sambil tersenyum.

            Makan malam bersama, makan malam itu berlangsung dengan kesunyian. Zahra tak berani untuk memulai pembicaraan, ia tak mau akan memperburuk keadaan. Ia hanya fokus pada makanannya. Muti, raut wajahnya masih sama. Terlihat jelas, cemburu! Sementara Dafa dengan cueknya melahap makanannya.
            Akhirnya makan malam pun usai. Zahra langsung membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka. Sebenarnya Dafa sangat ingin membantu Zahra, tapi ia menolahnya dengan halus. Tanpa berkata pun, Dafa tahu apa yang diinginkan Zahra. Ia harus berbicara dengan Muti. Sementara Muti, ia memang tak pernah mencuci piring. Berasal dari keluarga kaya, Muti memang tidak pernah melakukan perkerjaan rumah tangga bahkan kamarnya sendiri Zahra yang membersihkannya. Awalnya Muti ingin menyewa seorang pembantu untuk mengurus apartemennya, tapi Zahra menolaknya, biar ia saja yang melakukan pekerjaan itu. Ia berkata pada Muti saat itu, anggap saja sebagai tugas ia karena sudah berikan tempat tinggal gratis.
Selesai makan, Muti langsung menuju ruang tengah, ia langsung menyalakan televisi. Terlihat jelas bahwa  tidak sedang ingin mentonton, setiap beberapa menit ia mengganti saluran.
Dafa menghampiri Muti. Ia duduk disebelah Muti. Ia dengan cueknya mengambil remote dari tangan Muti.
“Ini baru seru” katanya.
Muti hanya diam tak menghiraukan omongan Dafa. Ia hanya menatap lurus ke arah televisi. Namun, tatapan itu bukanlah tatapan yang penuh minat terhadap acara yang sedang ditontonnya. Sementara Dafa dengan cueknya menonton acara tersebut. Dari kejauhan Zahra hanya memandang mereka berdua. Perasaan bersalah terus menyiksanya.
Zahra telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan menuju kamar, ia menghentikan langkahnya untuk berpamitan kepada mereka berdua.
“Aku ke kamar duluan.” Katanya. Ia melanjutkan langkanya menuju kamar.

Ruangan berukuran 3x3 meter, itulah ruangan untuk kamar tidur Zahra. Kamar ini tidak memiliki tempat tidur, hanya memiliki kasur ukuran kecil untuk 1 orang. Di sisi kiri, berjejeran buku-buku koleksi bacaan Zahra yang tertata rapi di lemari buku. Disisi kanan terdapat lemari kecil tempat menyimpan baju. Lemari itu hanya setinggi dada orang dewasa. Diatasnya, berjejeran figura dengan foto bangunan suatu negara atau kota. Pernah suatu ketika Zahra tak sengaja bertemu dengan Dafa ketika ia sedang mencetak foto Mezquita.
“Cantik!” kata Dafa yang mengagetkan Zahra.
Ia tau maksud Dafa adalah foto yang sedang dipenggangnya. “Benar, menandakan Islam pernah eksis di Eropa.” Kata Zahra.
“Mezquita dalam bahasa Spanyol yang berarti masjid. Masjid agung di kota Cordoba yang sekarang dialih fungsikan sebagai Katedral Cordoba. Awalnya bangunan itu adalah gereja yang bernama Katedral Saint Vincent yang dibangun tahun 600. Namun, setelah Bani Ummayah berhasil menaklukan Spanyol, kaum muslim mengubahnya sebagai masjid agung dengan keindahan pilar-pilar. Tahun 1236, tentara katolik berhasil menaklukan kota Cordoba. Kemudian mengalihkan fungsikan menjadi katedral, namun masih mempertahankan sebagian besar arstitektur asli masjid.” Jelas Dafa.
“Great!” kata Zahra. Ia tak menyangkan Dafa yang terlihat cuek mengetahui secara rinci sejarah Islam di Eropa.
“Bukan itu saja jejak Islam pernah menguasai Eropa. Selain itu, menara Giralda, Medina Azahara, Istana Alcazar, Aljaferia, Masjid Cristo de la Luz, Torre de Oro, Alcazaba de Malaga.” Lanjut Dafa.
Zahra memberikan senyum atas penjelasan yang diberikan Zahra. Bukan Zahra tak mengetahuinya. Ia hanya tak menyangka Dafa yang terlihat cuek mengetahui sejarah.
“Kamu pasti ngak nyangka, menurut aku yang lebih unik itu Perancis.”
“Kenapa?” pernyataan Dafa menimbulkan rasa ingin ingin tahunya.
“La tour Eiffel, L’arc de Triomphe, Musée du Louvre kalau diperhatikan di Peta itu berada dalam satu garis lurus dan kalau garis itu terus ditarik maka akan satu garis lurus dengan ka’bah. Ntah sengaja bangunan itu dibangun seperti itu atau dengan ketidaksengajaan. Tapi, kalau dipikir-pikir itu adalah salah satu tanda ajaran Islam itu benar, sama halnya dengan kita sholat menghadap kiblat dan kiblat kita menghadap ka’bah, penyatu umat Islam.” Dafa melirik ke Zahra, terlihat jelas ketetarikan Zahra dengan semua ucapan Dafa. Dafa tersenyum dan melanjutkan penjelasannnya. “Oh ya… Yang paling menakjubkan itu adalah lukisan Bunda Maria karya Ugolino di Musée du Louvre. Di kerudung Bunda Maria terdapat tulisan Arab Pseudo Kufic, yang konan katanya berlafadz ‘Laa Illaha Illallah’”
“SubhanaAllah” hanya itu kata yang mampu terucap di mulut Zahra.
Setiap memasuki kamar ini dan memandang deretan figura yang berisi  foto-foto jejak Islam selalu membuat Zahra tersenyum dan teringat penjelasan Dafa.
Zahra tak langsung tidur ia mengmbil salah satu buku di lemari bukunya. Buku tersebut bersampul warna merah jambu, tebal buku tersebut kira-kira 5 cm yang berjudul Fiqih Wanita. Buku itu adalah hadiah ulang tahun ke-17 dari ayahnya. Hadiah terakhir sebelum ayahnya meninggalkannya dan ibunya untuk selamanya.
Samar-samar ia dapat mendengar percakapan Muti dan Dafa di ruang tengah.
“Kamu ngapain kesini?” tanya Muti jutek.
“Ke apartemen pacar ngapain lagi coba.” jawab Dafa cuek.
“Aku ngak ada di apartemen dan kamu ngak kasih tau aku mau kesini. Bilang aja kamu mau bertemu Zahra.” balas Muti Jutek.
“Ayolah Muti, kamu masa sama Zahra cemburu. Dia sahabat kamu, sahabat aku."
“Tidak ada persahabatan antara wanita dan pria.” balas Muti jutek.
“Kamu ngak percaya sama aku?”
“Kamu mempertanyaan itu sama aku? Tanyakan saja pada dirimu sendiri.” Muti membuang muka, ia semakin kesal kepada Dafa. Ia tadinya berharap Dafa meranyunya, bukan seperti ini yang ia inginkan. Dafa yang selalu memintanya untuk pengertian.
“Sepertinya kamu sangat lelah Muti, lebih baik aku pulang agar kamu bisa istirahat.” kata Dafa datar. Ia bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja dan berjalan menuju pintu. Dafa berhenti sejenak dan berkata, “Zahra bukanlah orang patut kamu cemburui untuk merebut apa yang kamu  miliki. Ia adalah orang yang selalu memberi apapun untukmu tanpa kamu kamu sadari. Oh ya, tadi aku kesini mau mengajak kamu kesitu.” Dafa menunjuk ke arah kertas yang terletak di meja kecil yang terletak di samping televisi. “Aku pamit dulu.” Dafa meninggalan apartemen Muti.
Muti memandang kertas yang terletak di atas meja di samping televisi. Ia tertegun melihat kertas itu, dua tiket konser musik Jazz. Ia baru ingat malam ini konser tunggal Sandy Sandoro disebuah hotel di Bandung. Penyesalan itu selalu datang terakhir. Ia telah berprasangka buruk kepada kekasih dan sahabatnya. Ia melirik jam dinding, jam 10.30. Sudah terlambat batinya. Ia ingin menyusul Dafa. Dafa pasti sudah pergi dengan mobilnya ke kostanya di Kota Bandung. Zahra, Muti, dan Dafa memang satu universitas, tapi letak kampus mereka berbeda. Kampus Dafa terletak di Dipati Ukur, di Kota Bandung sedangkan kampus Zahra dan Muti terletak di Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Zahra? Apakah ia harus meminta maaf pada Zahra? Tapi bukanlah kepribadian Muti. Latar belakang keluarga membuatnya mempunyai sifat gengsi untuk meminta maaf.  Ia memutuskan masuk kamar dengan penuh penyesalan.
Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar percakapan Dafa dan Muti. Ia kembali fokus dengan buku ditangannya.
Berselang waktu telepon genggamnya berbunyi.
Ia menggapai telepon genggamnya yang terletak di atas meja kecil disamping lemari pakaian. Di layar hp nya tertulis, 1 pesan masuk. Ia membuka pesan itu.

Assalamu’alaikum.
Terimakasih untuk makan malamnya. Maaf tidak sempat pamit. Nice dream… ^_^
Dafa

Ia kemudian menekan tombol balas dan mulai mengetik.
Wa’alaikukumsalam Wr. Wb.
Kembali kasih, kak.
Hati-hati nyetirnya…
Zahra

Ia melirik jam dinding di kamarnya, 11.00 WIB. Ia menutup bukunya, mematikan lampu kamar, dan membaringkan tubuhnya di atas kamus. Setengah jam kemudian telepon genggamnya kembali bordering. Siapa yang mengirim pesan malam begini? Ia sebenarnya malas untuk menggapai telepon genggam. Siapa tau penting pikirnya.
Oh, dilayar Hp nya tertulis ‘Why do you give all person your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’
Pesan itu lagi batinya. Ia segera menghapus pesan itu dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.




Zahra (Ketika ku mencintaimu dalam diamku)

Prolog

            Ia menangis dalam sujudnya. Keheningan dan dinginnya malam tak menghambat langkahnya untuk curhat kepada Yang Maha Kuasa.
            Ada yang hampa dalam harinya.
            Tangisnya tak mampu mengisi kekosangan itu, kosong dan terus kosong. Matanya sebab akibat butiran air mata selalu mengalir deras di sudut matanya. Dia selalu bertanya kepada dirinya, apa yang kosong? Hanya saja ia tak pernah menemukan jawabannya. Terkadang dia bertanya, apakah kesendirian hidup yang membuatnya hampa? Lelaki? Tak sedikit pun terlintas dibenaknya untuk berhubungan dengan lelaki. Bukan ia tidak menyukai lelaki tapi ia tidak ingin pacaran sebelum menikah.
            Tepat saat itu telepon genggamnya berbunyi.
            Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa yang meng-SMSnya tengah malam begini? Ibunya kah? Tidak mungkin, ibunya tidak bisa mengirim SMS. Enggan sekali ia membaca malam – malam begini. Namun, rasa ingin tahu mengalahkan keenganannya.
            Oh, dilayar Hp nya tertulis ‘Why do you give all person your smile? Your smile is so beautiful! You know my girl... If I always think you, I will be crazy’
            Nomor asing, siapa yang mengiriminya SMS itu? Otaknya tak ingin memikirkan pesan aneh itu. Kemudian ia langsung menghapus pesan itu.