Masa bodoh mungkin itu yang paling tepat untuk sebutan diriku dulu. Aku tak mempedulikan orang - orang disekelilingku, yang aku pikirkan bagaimana membuat diriku bahagia, tanpa aku sadari aku membuat orang - orang disekirtarku terluka dan bahkan membenciku. Aku selalu menggap diriku benar, baik, dan semua tindakan ku benar. Bisa juga dibilang aku sangar egois. Aku masih ingat aku pernah menyakiti seorang sahabatku karena saat itu aku mengikuti rasa malasku, aku tak mau menemani dia sehingga berdampak buruk terhadap diriku. Aku selalu menggap diriku bisa melakukan apapun tanpa membutuhkan bantuan orang lain, aku selalu menyebut diriku mandiri walaupun sebenarnya aku membutuhkan tapi karena kegengsianku aku selalu meyakinkan diriku aku tidak membutuhkan bantuan teman - teman. Salah satu faktor yang membuat aku merasa seperti itu karena diantara aku dan sahabat - sahabatku aku lah yang paling dewasa, itu yang selalu dikatakan sahabatku.
Namun, rasa percaya diriku mulai memudar ketika aku telah memduduki bangku perkuliahan. Di kampus aku mulai bertemu dengan orang yang jauh lebih pintar, luwes, kaya, melebihi semua yang aku punya dan menjadi senjata kepercayaan diriku dan sifat masa bodohku. Berbagai permasalahan mulai aku hadapi dalam hari - hariku. Candaku sering membuat teman - temanku terluka sehingga teman - temanku meninggalkan aku. Kebanyakan dari mereka hanya memanfaatkan kebaikkan ku. Berbeda waktu aku ketika aku masih sekolah aku disegani oleh teman - teman ku, walau sifatku itu sangat menyebalkan tapi mereka bisa menerimaku apa adanya. Berbeda dengan dunia perkuliahan yang menuntut aku yang membuat orang menyukaiku.
Aku pernah merasa sejatuh - jatuhnya, aku merasa aku tak dihargai oleh orang - orang disekitarku, merasa disisihkan. Itu berdampak buruk sekali terhadap mentalku. Aku menjadi sosok seorang yang pendiam, aku lebih banyak mengalah, aku lebih banyak menyendiri, merasa takut melakukan apapun karena aku takut berada diantara orang - orang baru, aku takut untuk dibenci lebih dalam lagi.
Namun, aku masih bersyukur ada sesosok teman yang membantuku, dia selalu mendengarkan curhatanku, dia tidak pernah menyalahkan sikapku walau ku tau itu salah. Dia selalu membuatku merasa diriku berarti untuk orang lain, dia penyemangat hidupku. Nasihatnya mulai membangkitkan keberanianku lagi, kepercayaan diriku, keterpurukanku. Dia mengenalkanku dengan benyak orang yang dapat membantuku untuk bangkit dari keterpurukanku. Dia selalu mendengar keluh kesahku, tangisku, dukaku. Dari dia aku belajar tak selamanya aku bisa dicintai, disanyangi, dan dilihat oleh orang lain. Perkataan demi perkataan memotifasi diriku. Aku masih ingat perkataannya "Kalo kamu mau dilihat, dihargai, disayangi, dipercaya, dan dihormati orang lain maka kamu harus membuat dirimu layak untuk dilihat, dihargai, disayangi, dipercayai, dihormati orang lain" itu perkartaan yang sangat simple namun itu sangat memotifasi diriku.
Walau terkadang dia sering membuat aku terluka, namun aku tetap sangat berhutang budi kepada dia. Dia yang orang yang telah membuat diriku bangkit dari keretpurukan, dari sisi gelap yang singgah di hidupku. Walau banyak temanku yang tidak menyukai dirinya, namun aku selalu yakin kalau tak ada manusia yang sempurna...^_^
Thanks to my bestfriend
Thanks to my bestfriend



0 komentar:
Posting Komentar