Sabtu, 06 Juli 2013

Hikmah dibalik Cinta Tak Terbalas

Terkadang aku berfikir, kenapa aku hati harus memilih seseorang untuk dicintai?
Apalagi jika perasaan itu muncul sebelum menjadi halal?
Sehingga jika menuruti hawa nafsu maka akan terjerumus ke dalam sumur dosa.

Ajaran islam melarang manusia untuk mendekati dosa. Secara tidak langsung, islam itu melarang berpacaran sebelum menikah tetapi kenapa perasaan itu muncul?

Terkadang manusia menahan rasa itu dengan air mata, apalagi jika perasaan itu tak terbalas, bahkan hanya air mata dan air mata yang terus mengalir. Siapa yang patut disalahkan? diri sendirikah, karena sudah berani bermain cinta? ataukah orang lain yang tidak membalas perasaan itu?

Percayaalah dari semua yang terjadi dalam diri manusia itu adalah cobaan untuk meningkatkan keimanannya. Mungkin dengan perasaan cinta itu, mengajarkan manusia untuk bisa menahan nafsu, mengajarkan manusia untuk mencinta sesama itu, bahkan mengajarkan manusia untuk ikhlas menerima apa yang telah ditaksirkan Allah kepadanya. Bahkan Allah pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik nantinya.

Mencintai Dalam Diam

Bukan sehari atau dua hari aku merasakan ini. Selama 2 tahun lebih aku merasakan rasa ini kepadanya. Kagum, rindu, cinta, dan cemburu, rasa yang tak seharusnya aku rasakan kepada lelaki yang belum tentu menjadi suamiku kelak. Seriap hariku dan waktuku, hanya ada fikiran - fikiran tentang dia. Hingga tangisku sering kali hanya untuk dia.
Aku tak seharusnya seperti itu, karena tak seharusnya aku terlalu mencintai lelaki itu. Setiap hari aku berusaha bersahabat dengan hatiku untuk melupakannnya, mencoba untuk mengikhlaskannya untuk orang lain. Namun, tetap saja hati ini terasa begitu sakit.
Terkadang aku berfikir untuk menggungkapan perasaan ini untuknya, tapi logika ku berkata, itu hal nekat dan bisa menghancurkan harga diriku sebagai wanita. Mencintainya dalam diam hal itu yang bisa aku lakukan. Terkadang aku ingin sekali memberikan perhatianku kepadanya, namun sikap itu akan membuat aku dibencinya.
Andai ada hal - hal yang bisa aku lakukan untuk melepasnya, pasti akan aku lakukan. Namun, setiap kali aku mencoba untuk melupakannya tapi tetap saja aku teringat lagi dengannya. Emmmm, Andai saja kau bisa membaca hatiku? Andai saja kau bisa mengerti sikapku kepadamu? Andai saja kau mampu menghapus air mataku? Andai saja kau mampu mengerti setiap senyumku? Andai saja kau memang untukku? Pasti rasa ini tak akan seperti ini lagi.

Senin, 24 Juni 2013

Masa Pahit itu Terkenang lagi

Jika ditanya apakah aku orang yang pengecut? aku akui aku memang pengecut. Aku takut menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Masih terekam indah dalam benakku ketika satu persatu mereka menyakitiku, mereka menusukku, membuat aku orang yang terus merasa seolah - olah aku memang tak pantas.
Masih begitu jernih difikiranku, perkataan mereka, perlakuan mereka kepadaku. Masih segar dalam ingatanku kejadian itu. Orang yang paling ku percayai, sahabatku, bahkan sudah aku anggap sebagai saudaraku merusak kepercayaanku, menyakiti. Bahkan pertaannya itu, ternyata mereka menggapku bukan sahabatnya, kepada orang yg baru dikenalnya mereka bilang adalah sahabat, sementar aku yang telah mengenalnya lebih lama, hanya kesalahan dan kejelekanku yang terlihat dan mereka katakan. Apakah itu namanya seorang sahabat? Sendiri, merasa menjadi orang tak beharga itu yang selalu aku rasakan. Bahkan mereka membuat aku dibenci seolah - olah aku adalah orang yang paling jahat. Aku tau aku terlalu cerewet, perkataanku dulu sering tak dapat aku kontrol, namun tak ada sedikitpun maksudku untuk menyakiti mereka. Aku teralu menyangi mereka sebagai sahabat - sahabatku.
Tangis, air mata, bagai mayat hidupku, hari - hariku ku jelani dengan air mata. Di depan orang - orang aku berusaha tersenyum, namun hatiku hampa dan sakit. Masih segar difikiranku ketika mereka semua memusihiku, hanya karena sebuah dia merasa sakit hati kepada organisasiku. Sahabatku sendiri melaporkanku, sehingga aku ditegur. Orang yang seharusnya menjadi tempat curahan hati tapi malah menyudutkanku. Orang yang selalu aku bagi susah senang hidupku, dia malah menceritakan sesuatu yang seharusnya tak diceritakan kepada orang lain. Setiap kali bertemu hanya wajah kebencian yang selalu terpancar diwajah mereka, kata - kata yang menyakitiku.
Alhamdulillah datang para malaikat itu, temen yang dalam organisasiku yang selalu menengarkan dan mendukungku. Meraka yang menggapku ada, mereka yang menerimaku apa adanya. Ketika ku kesulitan mereka yang menolongku. Sahabat yang hanya ku kenal di dunia maya yang selalu memberikan motivasi kepadaku, untuk tidak memikirkan mereka yang selalu menyakiti. Temen yang begitu baik, walau hanya ku kenal di dunia maya. Temen yang ku kenal ketika pertama kali aku mengikuti organisai. Temen yang selalu memberikan semangat hidup, masukan kepadaku, perkataanya sebagai obat dalam laraku.
Kuat dan kuat yang selalu ku tanamkan dalam hatiku, agar aku bisa menjalani hari - hari yang sulit itu, hari yang penuh air mata itu. Ibu, ayah, dan adikku yang selalu ku ingat agarku selalu kuar dan tegar menghadapinya. Hingga akhirnya aku bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi cobaan hidup ini.
Kebencian mereka, perkataan mereka yang membuat aku kuat, membuat aku menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi semua persoalan yang ada.

Saat ini, aku harus menutup rapat semua. Mereka tau aku mengenalnya, bahkan meraka yang selalu memandanya sebelah mata. Bahkan meraka pernah bilang mereka tidak menyukainya. Tapi, apa maksudnya sekarang? Mereka merencanakan apa? Akan lebih baik aku berpura - pura, seakan aku tidak apa - apa. Berpura - pura semuanya baik - baik saja.

Masa lalu itu biarlah menjadi pelajaran bagiku untuk menjadi yang lebih baik hari ini, esok, lusa, bahkan seterusnya.
Jalan yang terbaik adalah aku berpura - pura tidak tau apa - apa. Aku baik - baik saja, agar air mata itu tak ada lagi.