Sabtu, 06 Juli 2013

Hikmah dibalik Cinta Tak Terbalas

Terkadang aku berfikir, kenapa aku hati harus memilih seseorang untuk dicintai?
Apalagi jika perasaan itu muncul sebelum menjadi halal?
Sehingga jika menuruti hawa nafsu maka akan terjerumus ke dalam sumur dosa.

Ajaran islam melarang manusia untuk mendekati dosa. Secara tidak langsung, islam itu melarang berpacaran sebelum menikah tetapi kenapa perasaan itu muncul?

Terkadang manusia menahan rasa itu dengan air mata, apalagi jika perasaan itu tak terbalas, bahkan hanya air mata dan air mata yang terus mengalir. Siapa yang patut disalahkan? diri sendirikah, karena sudah berani bermain cinta? ataukah orang lain yang tidak membalas perasaan itu?

Percayaalah dari semua yang terjadi dalam diri manusia itu adalah cobaan untuk meningkatkan keimanannya. Mungkin dengan perasaan cinta itu, mengajarkan manusia untuk bisa menahan nafsu, mengajarkan manusia untuk mencinta sesama itu, bahkan mengajarkan manusia untuk ikhlas menerima apa yang telah ditaksirkan Allah kepadanya. Bahkan Allah pasti akan memberikan pengganti yang lebih baik nantinya.

Mencintai Dalam Diam

Bukan sehari atau dua hari aku merasakan ini. Selama 2 tahun lebih aku merasakan rasa ini kepadanya. Kagum, rindu, cinta, dan cemburu, rasa yang tak seharusnya aku rasakan kepada lelaki yang belum tentu menjadi suamiku kelak. Seriap hariku dan waktuku, hanya ada fikiran - fikiran tentang dia. Hingga tangisku sering kali hanya untuk dia.
Aku tak seharusnya seperti itu, karena tak seharusnya aku terlalu mencintai lelaki itu. Setiap hari aku berusaha bersahabat dengan hatiku untuk melupakannnya, mencoba untuk mengikhlaskannya untuk orang lain. Namun, tetap saja hati ini terasa begitu sakit.
Terkadang aku berfikir untuk menggungkapan perasaan ini untuknya, tapi logika ku berkata, itu hal nekat dan bisa menghancurkan harga diriku sebagai wanita. Mencintainya dalam diam hal itu yang bisa aku lakukan. Terkadang aku ingin sekali memberikan perhatianku kepadanya, namun sikap itu akan membuat aku dibencinya.
Andai ada hal - hal yang bisa aku lakukan untuk melepasnya, pasti akan aku lakukan. Namun, setiap kali aku mencoba untuk melupakannya tapi tetap saja aku teringat lagi dengannya. Emmmm, Andai saja kau bisa membaca hatiku? Andai saja kau bisa mengerti sikapku kepadamu? Andai saja kau mampu menghapus air mataku? Andai saja kau mampu mengerti setiap senyumku? Andai saja kau memang untukku? Pasti rasa ini tak akan seperti ini lagi.

Senin, 24 Juni 2013

Masa Pahit itu Terkenang lagi

Jika ditanya apakah aku orang yang pengecut? aku akui aku memang pengecut. Aku takut menghadapi apa yang akan terjadi nantinya. Masih terekam indah dalam benakku ketika satu persatu mereka menyakitiku, mereka menusukku, membuat aku orang yang terus merasa seolah - olah aku memang tak pantas.
Masih begitu jernih difikiranku, perkataan mereka, perlakuan mereka kepadaku. Masih segar dalam ingatanku kejadian itu. Orang yang paling ku percayai, sahabatku, bahkan sudah aku anggap sebagai saudaraku merusak kepercayaanku, menyakiti. Bahkan pertaannya itu, ternyata mereka menggapku bukan sahabatnya, kepada orang yg baru dikenalnya mereka bilang adalah sahabat, sementar aku yang telah mengenalnya lebih lama, hanya kesalahan dan kejelekanku yang terlihat dan mereka katakan. Apakah itu namanya seorang sahabat? Sendiri, merasa menjadi orang tak beharga itu yang selalu aku rasakan. Bahkan mereka membuat aku dibenci seolah - olah aku adalah orang yang paling jahat. Aku tau aku terlalu cerewet, perkataanku dulu sering tak dapat aku kontrol, namun tak ada sedikitpun maksudku untuk menyakiti mereka. Aku teralu menyangi mereka sebagai sahabat - sahabatku.
Tangis, air mata, bagai mayat hidupku, hari - hariku ku jelani dengan air mata. Di depan orang - orang aku berusaha tersenyum, namun hatiku hampa dan sakit. Masih segar difikiranku ketika mereka semua memusihiku, hanya karena sebuah dia merasa sakit hati kepada organisasiku. Sahabatku sendiri melaporkanku, sehingga aku ditegur. Orang yang seharusnya menjadi tempat curahan hati tapi malah menyudutkanku. Orang yang selalu aku bagi susah senang hidupku, dia malah menceritakan sesuatu yang seharusnya tak diceritakan kepada orang lain. Setiap kali bertemu hanya wajah kebencian yang selalu terpancar diwajah mereka, kata - kata yang menyakitiku.
Alhamdulillah datang para malaikat itu, temen yang dalam organisasiku yang selalu menengarkan dan mendukungku. Meraka yang menggapku ada, mereka yang menerimaku apa adanya. Ketika ku kesulitan mereka yang menolongku. Sahabat yang hanya ku kenal di dunia maya yang selalu memberikan motivasi kepadaku, untuk tidak memikirkan mereka yang selalu menyakiti. Temen yang begitu baik, walau hanya ku kenal di dunia maya. Temen yang ku kenal ketika pertama kali aku mengikuti organisai. Temen yang selalu memberikan semangat hidup, masukan kepadaku, perkataanya sebagai obat dalam laraku.
Kuat dan kuat yang selalu ku tanamkan dalam hatiku, agar aku bisa menjalani hari - hari yang sulit itu, hari yang penuh air mata itu. Ibu, ayah, dan adikku yang selalu ku ingat agarku selalu kuar dan tegar menghadapinya. Hingga akhirnya aku bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi cobaan hidup ini.
Kebencian mereka, perkataan mereka yang membuat aku kuat, membuat aku menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi semua persoalan yang ada.

Saat ini, aku harus menutup rapat semua. Mereka tau aku mengenalnya, bahkan meraka yang selalu memandanya sebelah mata. Bahkan meraka pernah bilang mereka tidak menyukainya. Tapi, apa maksudnya sekarang? Mereka merencanakan apa? Akan lebih baik aku berpura - pura, seakan aku tidak apa - apa. Berpura - pura semuanya baik - baik saja.

Masa lalu itu biarlah menjadi pelajaran bagiku untuk menjadi yang lebih baik hari ini, esok, lusa, bahkan seterusnya.
Jalan yang terbaik adalah aku berpura - pura tidak tau apa - apa. Aku baik - baik saja, agar air mata itu tak ada lagi. 

Sabtu, 15 Juni 2013

Apalah maksudmu?

Hanya satu hal yang takutkan DIBENCI. Aku terlalu banyak bicara, aku membiarkan semua orang tau semua masalahku, semua kehidupanku. Sekarang aku takut, takut mereka membeberkan semua yang pernah aku ceritakan. Temen yang aku kenal sudah sebagai saudaraku sendiri, mampu menghianatiku, mampu menceritakan semua yang pernah aku ceritakan kepadanya.

Namun, aku masih saja membiarakn orang tau semua masalahku, semua ceritaku. Di depan orang lain, aku mampu menyimpan semua yang aku rasakan, aku bisa tersenyum, tertawa, tak ada duka sedikit pun, namun yang aku rasakan berbeda, aku terluka, sangat terluka.

Miss V orang yang aku kenal menghianatiku, menceritakan semua yang pernah aku ceritakan kepadanya. Seorang temen satu jurusan yang pernah mengganggapku sebagai seorang adiknya, dia tau semuanya, dia tau tentang semua ceritaku, sekarang apalah maksudnya? dia menikamku. Dulu, dia selalu bilang, aku adalah adiknya, dia selalu baik kepadaku. Aku melakukan apapun deminya, namun sekarang apalah yang dia lakukan? Apakah dia sengaja melakukan ini kepadaku.Berfikiran positif adalah jalan yang terbaik....

Selasa, 11 Juni 2013

Dia

Andai aku boleh meminta, aku hanya ingin dia, lelaki yang aku kenal 2,5 tahun yang lalu. Awal yang tak pernah aku sangka. Temanku yang menjadi alasan aku kenal dengan dekat dengannya. Islam yang membuat aku begitu sangat mengaguminya. Aku bisa menjadi manusia seperti sekarang ini, itu semua berkat dia, dia yang memotivasiku menjadi manusia yang lebih baik. Perkataannya yang membuat aku kuat, membuat aku merasa tidak takut lagi. Aku merasa lebih dihargai sebagai seorang perempuan.

Aku ak pernah mengharapkan perasaan ini ku berikan kepadanya. Namun, apalah dayaku, aku mengaguminya, aku selalu mengaharapnya.

Aku tau aku tidak boleh egois, aku tak boleh mementingkan kebahagianku sendiri, namun nafsu ku tetap berkata begitu. Andai saja dia memang untukku.

Hari ini, aku bertemu lagi dengannya, aku berharap aku sudah bisa melupakannya seutuhnya. Namun aku salah, aku masih mengaharapkannya, aku masih mengaguminya. Dia begitu menawan dimataku, begitu berarti bagiku.

Walau dia hanya ada didalam hanyalku, aku selalu bahagia.

Minggu, 19 Mei 2013

Bismillah, Paris


Namaku Kholisa Nadjla, aku seorang qoriah dan penghafal alquran. Sejak kecil aku sudah ditinggalkan ibuku, beliau telah kembali disisi-Nya ketika melahirkanku, namun sampai sekarang ayahku tidak pernah menikah lagi. Aku dibesarkan dilingkungan pesantren karena ayahku adalah penggurus pesantren tersebut. Namun, setelah dewasa aku tahu bahwa nenekku, orangtua ibu adalah seorang kristen, beliau tinggal di kota yang paling romantis di dunia, Paris. Hari ini tepat usiaku ke 20 tahun, aku mendapat kado dari ayahku sebuah tiket untuk liburan ke kota Paris. Aku sendiri bingung kenapa ayah memberikan izin aku liburan ke kota tersebut.
            “Abi, tiket? Paris?” kataku tak percaya.
            “Iya” dengan santainya ayahku menjawabnya tanpa menghiraukan ekspresi kagetku.
            “Abi tidak bercanda kan?” aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat.
            Abi hanya tersenyum dengan pertanyaanku. “Putriku, pergilah. Disana kamu akan belajar menjalani hidup yang sebenarnya," ucapnya bijaksana.

                                                                              ***

            Bendara Soekarno-Hatta, 07.00 WIB, saatnya berpisah ayahku, sosok yang selalu menemani hidupku selama 20 tahun ini.
            “Satu bulan lagi, abi menunggumu disini anakku. Bawalah ini...” aku mengambil sebuah tasbih bewarna emas dari ayahku itu. “Sampaikan salam abi kepada nenekmu. Bisikan di telinga nenekmu, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” Air mataku pun mengalir ketika ayah membisikan kalimat itu ditelingaku.

***

            Kehidupan di kota Paris ini berbeda ketika aku berada di pesantren bersama para santri, ustadz, dan ustadzah. Di rumah nenekku sendiri, begitu dekat sekali aku dengan dosa.
            “Nadjla, nenek nyuruh gue ngajak lo keliling kota Paris. Lo siap – siap gih, dan satu lagi pakaian lo jangan kampungan!!!” kata sepupuku Clara yang seumuran denganku.
            “Iya” jawabku singkat.
            Manara eiffel, simbol kota Paris. Sungguh indah, walau hanya bangunan terbuat dari besi, namun ini begitu sungguh sangat indah. Ketika aku menikmati pemandangat kota Paris dipuncak menara. Seorang lelaki menghampiri kami.
            “Salut Clara” mereka cipika – cipiki. Aku hanya 'mengucap' dalam hati melihat saudaraku dengan lelaki yang bukan muhrimnya itu.
Salut Daniel, elle est ma belle-sœur qui vient d’Indonésie.” Kata Clara kepada temannya.
            “Salut, Je suis Daniel. Tu es très belle. Mais pourquoi tu utilises ce habille? C'est très étrange kata lelaki itu. Ntah apa yang dia tanyakan kepadaku, tapi aku yakin dia heran terhadap penampilanku.
            “Elle ne parle pas français” jelas sapupuku.
            “Oh” kata lelaki itu. “Aku Daniel, aku keturunan Indonesia juga ko” jelasnya.
            “Nadjla” jawabku singkat.

***

            Sejak pertemuaku dengannya malam itu, dia begitu sering mengajakku keliling kota Paris. Begitu sering aku menolaknya tapi lelaki itu tidak berhenti – hentinya mengajakku.
            “Nadjla, Daniel pengen ngobrol sama lo” kata sepupuku sambil memberikan hp kepadaku.
            “Assalamu’alaikum” Sapaku
            “Ngomong apa sih kamu”
            “Agamaku menyuruhku mengucapkan salam. Maaf ada keperluan apa?”
            “Kamu lagi ngapain?”
            “Lagi membaca alquran”
            “Ke Jardin de Luxemburg yuk!” ajaknya.
            “Maaf” tolakku.
            “Please” dia berusaha meyakinkanku.
            “Baiklah tapi sebelum jam 6 sore harus pulang” setujuku akhirnya.
            “Oke”
            Akhirnya kami sampai di taman ini. Taman yang begitu indah, begitu banyak orang – orang bermain, bersama dengan pasangan mereka dan yang membuatku kaget begitu banyak manusia yang membaca buku di taman ini, sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat di Indonesia.
            “Kenapa kamu begitu dingin Nadjla” parkatanya membuatku tersadar dari lamunanku.
            “Agamaku melarang aku untuk berinteraksi terlalu banyak dengan lelaki yang bukan muhrimku” jelasku.
            “Kamu ga bosan? Kamu sama sekali tidak tertarik dengan ku? secara aku ganteng, tinggi, mapan, aku anak konglomerat. Apa lagi yang kurang?”
            “Akidah! Itulah yang kurang dari kamu”
            “Quel est akidah?”
            “Kamu cari aja di google” jawabku singkat. “Sudah hampir jam 6, tolong antarkan aku pulang”
            “Jika aku tidak mau?”
            “Aku akan pulang sendiri”
            “Kamu tau jalan menuju rumah nenekmu?”
            “InsyaAllah Allah akan menumjukkan aku jalan."
            “Pulangnya nanti setelah makan malam ya?”
            “Aku bilang, aku mau pulang!!”
            “Aku akan mengatarkan kamu setelah makan malam”
            “Jika kamu tidak mau mengantarkanku, aku akan pulang sendiri” ancamku. Kemudian aku pergi, berjalan tanpa arah tujuan.
            Aku sama sekali tak tau jalan. Bahasa Perancis pun aku tak bisa. Betapa bodohnya aku, tidak memikirkan akibat dari keegoisan aku sendiri. Hanya berharap petunjuk dari Allah agar aku bisa kembali ke rumah nenekku dengan selamat.
            “Abi, Nadj kangen abi. Abi benar, disini akan mengetahui bagaimana hidup yang sebenarnya. Selama ini Nadj hidup disekeliling orang yang taat kepada Allah, kehidupan disini berbeda. Sekarang Nadj mengerti kenapa abi menyurh Nadj kesini. Nadj nggak boleh takut, Allah selalu bersama dengan Nadj, Nadj pasti akan pulang ke Indonesia dan menyampaikan berita yang ingin abi dengar. Doa kan putri mu ini abi, bisa menemukan rumah nenek” rintihku di jalan yang tak aku kenal ini.
            “Maaf, kamu orang Indonesia?” sapa seorang lelaki yang kira – kira seumuran dengan ayahku.
            “Bapak orang Indonesia?” tanyaku.
            “Iya, adek kenapa? Ada yang bisa saya bantu?”
            “Alhamdulillah. Saya ingin pulang ke rumah nenek saya, tapi saya tidak tau arah jalan pulang. Saya harap bapak bisa membantu saya.”
            “Dimana alamat rumah nenek kamu? Mungkin saya bisa membantu kamu untuk pulang ke rumah nenek kamu”
            “Disini pak” aku memberikan secarik kertas kepada bapak itu.
            “Wah, alamat ini jauh dari sini. Sekarang juga sudah terlalu larut malam, bagaimana kalau adek menginap dulu di rumah saya. Adek bisa tidur bersama anak perempuan saya. Besok pagi, saya akan meminta istri saya mengantarkanmu ke alamat nenek mu.” saran bapak itu.
            “Baiklah pak. Maaf telah merepotkan dan terima kasih banyak atas pertolongannya” ucapku tulus.
            “Oh iya, saya Lukman, saya bekerja di kedutaan Indonesia. Adek ke Perancis buat apa ya?”
            “Saya Nadjla. Saya liburan ke rumah nenek saya pak.”
            Pertolong-Mu sungguh sangat luar biasa, Allah. Disaat aku tak tau lagi mau berbiat apa, Engkau mempertemukan aku dengan seseorang yang bisa membantuku. Sungguh luar biasa pertolonganmu. Sekarang aku tau, aku tak beleh berputus asa. Pertolongamu akan datang dari manapun.

***

            “Assalamu’alaikum
            “Nadjla!!!” nenekku segera menghampiri dan memelukku. “Kamu baik – baik saja kan? Kamu kemana saja? Nenek, Tante, Om dan Clara keliling kota Paris mencarimu”
            “Alhamdulillah Nadjla baik – baik aja. Nadjla kesasar nek, Nadj nggak tau jalan pulang ke rumah nenek. Alhmadulillah Nadjla ketemu dengan orang Indonesia dan mengantarkan Nadjla ke rumah nenek”
            “Lo itu bikin seisi rumah kuatir tau. Lo tau nggak, kalo sampai hari ini lo nggak pulang Daniel akan mengerahkan orang – orangnya untuk mencarimu. Dia kuatir banget sama lo, lo keras kepala banget sih. Dia semalaman keliling kota Paris nyariin lo, dia kuatir banget tau” oceh Clara.
            “Clara, aku mau ke kamar dulu ya?”
            Aku tak mau mendegar ocehan sepupuku lagi. Aku terlalu capek dan ingin sekali istirahat. Sekitar 1 jam aku tidur, aku mendapatkan telfon dari ayahku.
            “Assalamu’alaikum abi”
            ““Wa’alaikumsalam.  Bagaimana kabarmu nak?”
            “Alhamdulillah Nadj baik – baik saja, Nadj kangen sekali sama abi. Abi baik kan?”
            “Alhamdulillah nak. InsyaAllah kita akan bertemu dalam waktu dekat ini nak”
            “Nadj 2 minggu lagi disini abi, masih lama kan abi.”
            “Besok kamu sudah bisa pulang anakku. Nenekmu sudah membelikan tiket pulang untukmu anakku. Nenekmu dan sepupumu telah menceritakan semua yang terjadi padamu tadi malam kepada abi. Akhirnya nenekmu mengizinkanmu untuk pulang ke Indonesia lebih cepat. Nenekmu sadar, Paris bukan kota yang cocok untuk dirimu”
            “Maksud abi?”
            “Nenekmu yang meminta abi untuk mengirimu kesana anakku. Dia ingin kamu hidup bersamanya. Awalnya abi tidak setuju tapi nenekmu memaksa abi, akhirnya abi terpaksa menuruti permintaan nenekmu dengan syarat, abi akan memberikan waktu sebulan untuk kamu memilih tinggal bersama abi atau tinggal disana bersama dengan nenekmu. Siap – siap lah anakku, besok abi akan menjemputmu. Assalamu’alaikum
            “Wa’alaikumsalam”
            Bandara Internasional Charles de Gaule.
            “Nadjla pamit nenek, om, tante, ra.” Aku memeluk satu persatu kelurgaku yang jauh akan Allah. Ketika aku memeluk nenekmu, aku membisikan di telinganya  Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah. Beliau menitihkan air mata ketika mendengar ucapan itu.
            “Hati – hati cucuku, nenek selalu merindukamu. Katakan kepada ayahku, nenek akan menemuinya jika hati nenek sudah mantap”
            “Baiklah nenek”
            Seorang sosok lelaki yang sempurna kecuali akidahnya menghampiriku.
            “Maafkan aku Nadjla, perbuatanku telah membuat kamu terluka dan meninggalkan kota ini dengan kesan yang buruk. Aku sungguh menyesal. Aku mencintaimu Nadjla.”
            “Aku sudah memaafkanmu. Jika kamu memang ingin menjadi lelaki yang akan mengantarku menuju surga-Nya maka kamu harus memantaskan dirimu untuk menjadi imamku.” ucapku tulus.
            “Kamu tidak mencintaiku?” tanyanya.
            “Haram bagiku mencintai seorang lelaki yang bukan muhrimku”
            “Terus kamu maunya apa? aku terlalu mencintaimu” ucapnya.
            “Jawabanya ada disini” Aku memberikannya sebuah al-quran.
            “Apa ini?”
            “Pelajarilah, Jika kamu ingin menjadi lelaki yang pantas menjadi imamku dan jika kamu masih mengganggap dirimu muslim.”
            “Jika aku telah melakukan semua itu. Apakah kamu akan menerima cintaku?”
            “Datanglah menemui ayahku. Aku harus pergi, pesawatku sebentar lagi take off” ucapku meinggalkannya.

***

            Tiga tahun kemudian, Pondok Pesantren Daaruttaqwa.
            “Kamu kenapa anakku? Semenjak kamu pulang dari Paris, kamu lebih banyak diam.” tanya Abi.
            “Nggak apa-apa abi” jawabku. 
            “Ya sudah, udah malam, sebaiknya kamu tidur” saran Abi.
            Aku tak mengerti kenapa aku selalu menunggu lelaki itu datang memintaku kepada ayahku. Harapan itu selalu ada, aku selalu menanti dan mengharapkan kedatangnya.
            Keesokan harinya, seperti biasa. Aku mengajarkan membaca alquran kepada santriwati perempuan. Setelah selesai mengajar, temanku Aisyah menghampiriku.
            “Nadj, aku dengar ada seorang lelaki yang menemui ayahmu. Dia bermaksud untuk meminangmu. Kamu gimana Nadj?”
            “Jika menurut abi, dia adalah lelaki yang pantas menjadi imamku, maka aku akan ikhlas mengabdikan hidupku padanya.”
            “Tapi, Nadj. Ustadz Zakaria aja yang 1 tahun yang lalu ingin meminangmu saja di tolak abimu. Dia jelas lelaki impian para wanita. Mungkin saja abimu, menolakknya lagi kan?”
            “InsyaAllah abi akan memberikan yang terbaik untukku”
            Terkadang aku juga tidak mengerti dengan ayahku ini. Ntah apa yang dia rencanakan untuk hidupku. Begitu banyak ustadz yang meminangku ditolakknya sedangkan lelaki ini, dia memintaku untuk ta’aruf dengannya.
            “Assalamu’alakum” itu suara seseorang yang sudah lama sekali tidak ku dengar.
            “Wa’alaikumsalam, Daniel???” aku benar – benar kaget, melihat sosok seorang lelaki yang telah berubah di depan ku ini.
            “Perkenalkan nama saya Muhammad Hafidz. InsyaAllah saya akan berta’aruf dengan kamu Nadjla. InsyaAllah kita akan segera menikah, itu pun jika kamu bersedia menjadikan aku sebagai imammu”
            Sungguh indah rencana yang Engkau berikan kepada hamba-Mu. Sekarang aku tau kenapa lelaki yang meminangku selalu ditolak ayahku. Lelaki itu, yang dulunya bernama Daniel Hardianta sekarang telah merubah namanya menjadi Muhammad Hafiz yang sekarang menjadi suamiku. Lelaki nekat dan tak kenal putus asa yang aku kenal. Ternyata tanpa sepengetahuanku, dia mengikutiku ke Indonesia dan menemui ayahku, dia meminta ayahku untuk menerimanya sebagai menantu. Dia berjanji kepada ayahku untuk menunggunya menjadi lelaki yang pantas mendampingiku. Ayahku memberinya waktu 3 tahun untuk menjadi lelaki yang pantas menjadi suamiku. Sekarang dia membuktikannya, lelaki yang aku cintai. Semuanya berawal dari kota Paris, Paris telah mempertemukanku dengannya, disana lah aku tau arti hidup yang sebenarnya.

Minggu, 12 Mei 2013

Doa

Ketika aku mengingat akan dosa
Dosa yang telah tergores
Tercatat dalam catatan malaikat atid
Luglai, resah dan gelisah.....

Tak kala teringat akan kematian
Betapa belum pantas mendaptkan surga-Nya
Namun,
Takut akan neraka-Nya

Setiap sujud, doa,,,,
Hanya terbingkai akan ampunan
Harapan demi harapan
Selalu terucap untuk mendapatkan ridho-Nya

Setiap langkah,,,
Selalu mengharapkan ridho dan petunjuk dari-Nya

Rindu
Rindu oh rindu
Andai aku bisa meminta dan berharap
Selalu berharap bersama Rasul ku kelak,,,,

Dua Sisi Mata Uang yang Berbeda

Bagai dua sisi mata uang yang berbeda, itu yang tepat menyebutkan dia dan kamu yang aku kenal. Dia yang aku kenal jauh sebelum kamu adalah pribadi yang lembut, mempuanyai pribadi yang lembut. Namun, agamamu sangat bisa diadalkan. Pribadi yang aku kagumi, pribadi yang sangat aku dambakan untuk menjadi imanku kelak, menjadi pembimbing untuk menggapai surga-Nya. Nasehat dia, menjadikan motivasi hidupku, dia membuatku bangkit dalam keterpurukan, disaat aku merasa orang yang tak berguna, dia yang membuat aku bangkit, bangkit dari keterpurukan itu.

Kamu yang aku kenal, pribadi yang ambisius dan keras kepala. Bersabar dan mengalah apabila selalu berada didekatmu. Namun, kamu merupakan pribadi yang sangat perhatian. Tapi, agamamu jauh dia bawah dia.

Kalian sungguh sangat berbeda.

Selasa, 01 Januari 2013

Goresan Kegiatan tahun 2012

Berawal di bulan Januari

  • Saat aku berada ditengah - tengah keluarga, aku melepas rinduku dengan mereka. 
  • Menjadi seorang untuk anak sepupuku, belajar inikah yang dirasakan leh ibuku dulu, aku sadar aku tidak boleh menyakiti hati ibuku, karena dia telah memberikan separuh nyawanya dan kasih sayangnya kepadaku.
Bulan Februari
  • Impian untuk membawa ibuku ke tanah sunda terwujudlah sudah.
  • Mengajak beliau keliling kota Bandung.
  • Memperkenalkan dia kepada orang yang beharga dalam hidupku, yang telah menjadi cahaya ketika aku terjatuh.
  • Mulai menjalankan amanhku menjadi seorang senator.
Bulan Maret
  • Bulan ini merupakan hari kelahiraku, namun tidak membuatku bahagia, orang yang aku harapkan untuk mengucapkan kata selamat ulang tahun kepada ku tak mengucapkannya.
  • Merasa sendirian, merasa diri tak ada artinya.
  • Tak selamanya langit kelabu, kebahagian itu pun mencul aku berkenalan dengan keluarga baruku di Posting.
  • Kecemburuan yang menyengsarakan, membuat aku tak mampu untuk bernafas.
Bulan April
  • Kado terindah untuk adikku, menabung hanya untuk memberikan kadi terindah untuknya.
  • Rasa cemburu itu terus saja membakar, dan ketika bertemu dengan orang yang mebuat dunia seakan runtuh.
  • Penghianatan yang membuat hati ini terlukan, kehilangan sahabat, hanya karena kesalahan kecil. Kata maaf tak pernah berarti.
Bulan Mai
  • Pertengkaran yang lebat dengan motivator hidupku, aku bertengkar hanya karena emosiku.
  • Hidup merasa surah tak ada artinya.
  • Tekat untuk meperbaiki diri pun terus bermunculan.
Bulan Juni
  • Keputusan untuk memperbaiki diri, mengikuti evant untuk menjadikan manusia yang lebih baik
  • Penghiatan persahabat itu terasa kental, aku dilaporakan lagi oleh orang aku anggap saudara sendiri, luka itu pun kembali terngaga.
  • Pelantikan sebagai seorang KPU, awal hidup yang baru.
Bulan Juli
  • Sikapku menjadikan aku orang yang dibutuhkan sekaligus orang yang menyebalkan, kebencian namun aku dibutuhkan.
  • Kehancuran dalam prestasiku, aku mendapatkan nilai jelek dalam beberapa mata kuliah
  • Mencoba untuk bekerja, menjadi pengalaman baru dalam kehidupanku.
Bulan Agustus
  • Keputusan yang nekat pulang dengan menggunkan Bus, takut tapi menutupinya dengan keberanian.
  • Petir menyambar dalam hidupku, serasa menjadi orang hidup tapi mati. Aku dibohongi dengan musibah yang menimpa ayahku, salah satu titipan itu diambil oleh-Nya.
  • Berlajar untuk IKLAS, menjadi seorang IBU dan KAKAK untuk adikku disaat ibuku menemani ayahku.
  • Ramadhan yang penuh luka, lebaran yang penuh luka.
Bulan September
  • Menjalankan amanah di Prama, belajar dari yang tak tau apa - apa menjadi perempaun yang lebih baik.
Bulan Oktober
  • KPU mengajarkanku untuk berani berbicara di depan warga Unpad.
  • Bertemu dengan orang - orang yang kritis dan bermacam watak.
Bulan November
  • Menentang petinggi di Fakultasku, kebencian itu pun mengalir kepadaku.
  • Menyusun agenda besar, harus berfikir cepat, belajar dan belajar.
  • Belajar bersabar ketika ada disudutkan.
  • Keberanianku untuk tidak mengikuti perkuliahan.
Bulan Desember
  • Bertemu dengan temen - teman KKNM baru.
  • Belajar untuk bebicara dimuka umum.
  • Keputusan terbesar yaitu berani menjadi seorang yang harus memimpin, keputusan yang paling nekat untuk akhir tahun 2012
  • Berketak untuk menjadi orang bisa, tak akan membiarkan orang lain meremehkanku.

Tekat!!!!

Amanah kata yang mungkin terasa berat yang menggelitik diri ini. Fikiran, tenaga, mental, waktu harus dikorbankan untuk bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Ketika mulut ini terucap suatu keputusan, makan komitmen lah yang harus terus dipegang teguh, tanpa ada kata menyerah yang terlontar sedikitpun. Kenekatan mungkin itu yang tepat, mencoba, belajar, menjadi contoh, menjadi pejuang bukan pecundang. Berprinsip "Gunakan waktu menjadi manusia yang lebih baik". Waktu, pengalaman merupakan proses pembelajaran, pembelajaran yang beharga. Buku merupakan bahan pelengkap sumber dari Ilmu Pengertahuan itu. Logika dan etika selalu berbarenagan dalam mengambil setiap keputusan yang tepat dan tepat. Berharap menjadi orang yang lebih baik, berharap dilihat positif bukan hanya dipandang sebelah mata.

Keyakinan modal untuk mencapai kesuksesan itu, bisa dikatakan ilmu ini hanya sedikit untuk mencapai kesuksesan itu. Namun, menyerah bukan hal yang harus terucap oleh bibir ini, OPTIMIS harus selalu ada, "Bismillahirahmanirrahim" awal untuk melangkah. Melangkah menuju gerbang kesuksesan itu, kepercayaan itu sungguh sulit untuk mendapatkannya, berusaha dan terus berusaha.

Ketidak percayaan orang itu menjadi motivasiku untuk harus bisa, harus melebihi orang yang ada  dibawahku, harus menjadi motivator,  membuatku sadar bahwa aku harus belajar dan belajar giat lagi. Tak ada yang tak bisa kalau mau belajar, aku pasti bisa, tak boleh kalah hanya dengan prasangka demi prasangka yang akan menjaruhkanku. Aku yakin, aku pasti bisa!!!!

Tekat, saat ini itulah yang ku punya, menjadikanku berani mengambil keputusan ini. Tak ada keraguan untuk kata gagal itu, gagal itu hanya boleh sekali, kemudiannya harus menjadi orang yang sukses!!!

"Jika ingin dicintai, dilihat, dan dihargai oleh orang lain, maka kamu harus membuat dirimu layak untuk dicintai, dilihat, dan dihargai oleh orang lain"